RADAR JOGJA FILE
TERANCAM PENUH: Jika tak segera menerapkan sanitary landfill, TPA Piyungan ini terancam penuh. Setiap harinya volume sampah di TPA ini berkisar antara 300 – 400 ton.
JOGJA – Kota Jogja dan Kabupaten Sle-man tahun 2015 ini tampaknya bakal kembali gagal membawa pulang peng-hargaan lingkungan hidup Adipura. Se-bab, Balai Instalasi Pengelolaan Air Lim-bah dan Sampah Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIJ baru bisa me-realisasikan pengolahan sampah secara sanitary landfiil tahun 2016.
Tahun 2015 ini Balai Instalasi Pengelo-laan Air Limbah dan Sampah baru akan memulai tahap sanitary landfill tersebut. Yaitu dengan pengadaan dua alat berat buldoser dan ekskavator serta membangun jalan lewat truk pengangkut sampah.”Sekarang baru arah ke sana,” kata Kepala Balai Instalasi Pengelolaan Air Limbah dan Sampah Dinas PUP-ESDM DIJ Kuspramono kemarin (2/2). Kus, sapaan akrabnya, menjelaskan, akses jalan ini nantinya menggunakan cor blok mobile
Artinya, jalan untuk masuk truk pengangkut sampah ini bisa dipindah-pindah. “Lelangnya tahun ini dengan pengadaan tanah urug,” imbuhnya.Khusus untuk tanah urug ini, memang menjadi kebutuhan mutlak sanitary landfil. Sistem-nya, begitu sampah setinggi 50 centimeter, diurug dengan tanah. Ini berlangsung terus. Kemu-dian, bawahnya dilapisi dengan membran agar air dan sampah tak mencemari tanah. “Penang-kap gas metannya menggunakan pipa-pipa,” imbuhnya.
Sistem pengolahan sampah di TPA Piyungan ini memang men-jadi persoalan. Tim penilai dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2014 silam menyoroti pengolahan sampah tersebut. Alhasil, penghargaan Adipura yang sudah diraih tujuh kali, melayang. Padahal, kala itu Kota Jogja menargetkan peng-hargaan Adipura Kencana. Saat itu Kepala Badan Ling-kungan Hidup (BLH) Kota Jog-ja Irfan Susilo mengaku karena pengelolaan TPA Piyungan. Ini menjadi kendala, karena peng-elolaan TPA tersebut tak berada di Kota Jogja. Tapi, Sekretariat Bersama (Sekber) Kartamantul.”Tahun ini gagal, karena ada ke-bocoran di TPA Piyungan. Mau gimana lagi, karena TPA tersebut digunakan untuk tiga daerah, Kota, Bantul dan Sleman,” lanjutnya.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogjakarta Halik Sandera menuturkan, pengola-han sampah di TPA Piyungan memang belum standar aman bagi lingkungan. Padahal di dae-rah lain sudah banyak mene-rapkan sanitary landfill. “Seha-rusnya sudah dilaksanakan sejak dulu. DIJ termasuk terlam-bat menerapkan sanitary land-fill,” sesalnya. Jika tak segera menerapkan sanitary landfill, TPA Piyungan ini juga terancam penuh. Umur TPA Piyungan itu diperkirakan sampai tahun 2015. Setiap ha-rinya, volume sampah di TPA ini berkisar antara 300 – 400 ton. (eri/laz/ong)