ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
WASPADA: Bencana tanah longsor terjadi lagi di Perbukitan Menoreh dan Lereng Sumbing. Masyarakat empat desa terus was-was akan ancaman longsor lanjutan.
MUNGKID – Longsor kem-bali terjadi di tiga desa di Per-bukitan Menoreh, Kecamatan Salaman Minggu petang (2/2).Selain mengancam rumah penduduk, bencana tersebut juga menutup sebagian ruas jalan alternatif Salaman-Boro-budur. Hingga musim peng hujan usai, ratusan rumah di lereng Menoreh terancam tanah long-sor susulan. Bencana itu me-nerjang di sembilan titik yang tersebar di tiga desa.
Di Desa Ngargoretno, tanah longsor menerjanglima titik di Dusun Tegalombo dan Dusun Karangsari II yang menerjang enam rumah. Tanah longsor itu di antaranya menerjang rumah milik Marno, Ngatiril, dan Is-manto. Sementara di Karangsari II, tanah longsor mengenai tiga rumah milik Candra Darusman, Ahmad Dani, dan Sigit. Semen-tara di Desa Kalirejo, titik long-soran hanya menerjang jalan dusun.Rumah Julaimah, di Dusun Dluwah RT 06/06, Paripurno, Salaman tebing dengan kemi-ringan 30 derajat mengalami longsor. Tinggi tebing sekitar 30 meter tergerus tanah longsor dengan kelebaran sekitar 30 meter.
Selain mengenai rumah Julaimah, rumah lain yang te-rancam adalah milik Nul Kholik, Mutaka Soleh, dan Kholik.”Akibat hujan deras yang meng-guyur, dapur saya roboh, karena terkena material tanah longsor,” kata Julaimah, salah satu korban.
Ketua Relawan Garuda Me noreh Soim menjelaskan, bencana itu bermula dari hujan lebat yang mengguyur wilayah Menoreh dua hari berturut-turut. Untuk mem-bersihkan material tanah, warga dibantu relawan BPBD dan komu-nitas telawan yang ada di Lereng Merapi. Sekitar 200 relawan di-kerahkan membantu membuka akses jalan dan membersihkan material-material tanah.”Secara keseluruhan tanah longsor di tiga desa itu menerjang sembilan rumah. Tiga rumah di Desa Parpurno dan enam rumah di Ngargoretno,” kata Soim
.Ia menjelaskan, Desa Ngar-goretno terdiri dari enam dusun. Yakni, Selorejo, Karangsari, Sum-bersari, Sonokerto, Wonosoko, dan Tegalombo. Semua dusun tersebut berada di kawasaan rawan bencana tanah longsor. Ada sekitar 800 Kepala Keluarga dan 2.500 penduduk yang hidup-nya terancam tanah longsor.”Rata-rata dari mereka rumah-nya ada di lereng-lereng Per-bukitan Menoreh. Mereka sudah berpuluh-puluh tahun me ninggali rumahnya dan mencoba hidup berdampingan dengan bencana alam. Kami tetap waspada,” jelasnya.
Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Ben-cana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang JokoSudibyo meng-informasikan, selain di Per bukitan Menoreh bencana alam juga menerjang wilayah di kaki Gunung Sumbing.Di Dusun Sidoperno, Wu-wuharjo, Kajoran, dapur milik Mukiyat berukuran 2,5 x 11 me-ter tertimbun material longsoran. Isi peralatan dapur termasuk traktor ikut tertimbun material tebing dengan tinggi sekitar tujuh meter dan lebar 15 meter.”Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. BPBD sudah se-rahkan bantuan logistik, rencana besok kerja bakti (Wuwuharjo),” kata Joko. (ady/hes/ong)