ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
TOTAL: Bupati Bantul Sri Surya Widati didampingi sejumlah pejabat di lingkungan pemkab, serta sejumlah seniman melakukan roadshow survei ke sejumlah lokasi cagar budaya, kemarin (2/2).
BANTUL – Bupati Bantul Sri Surya Widati bersama sejumlah pejabat di lingkungan pemkab melakukan roadshow survei ke sejumlah lokasi cagar budaya, kemarin (2/2). Ini bagian dari upaya pemkab melakukan pe-metaan seluruh cagar budaya dan objek pariwisata yang ber-potensi dapat dikembangkan.Roadshow pertama fokus di wilayah Bantul Timur.
Ada be-berapa cagar budaya dan objek pariwisata yang ditinjau. Di an-taranya, Bendung Tegal, Kedung Miri, Bukit Hijau, bekas Pasar Imogiri, Gazebo Wisata Giriloyo, Makam Pangeran Cirebon, Situs Kerto, masjid dan pasar Pleret. Kemudian, Masjid Gede Kota-gede, Watu Gatheng, dan area parkir Songosaren, Banguntapan. “Kami melakukan survei karena diminta untuk mengajukan be-berapa kawasan ke provinsi,” terang Ida, sapaan akrabnya di sela-sela roadshow.
Akhirnya, kata Ida, pemkab mengajukan tujuh kawasan yang akan direvitalisasi kepada pem-prov. Meski demikian, survei yang dilakukan pemkab tidak hanya menyasar kawasan yang notabene cagar budaya, tetapi juga ke sejumlah objek pariwi-sata. Ini untuk memetakan sum-ber pendanaannya. “Mana yang dari provinsi, mana yang dari APBD kami sendiri, dan mana yang bersumber dari ADD (alo-kasi dana desa) kami petakan,” ujarnya.
Alasannya, anggaran revitali-sasi tujuh kawasan cagar budaya ini berasal dari dana keistime-waan (danais). Tahun ini, pem-kab mendapatkan anggaran sekitar Rp 3 miliar untuk menyu-sun detail enginering desain (DED) tujuh kawasan cagar bu-daya tersebut. Penyusunan DED ini diantaranya meliputi peren-canaan dan pembangunan in-frastruktur di sekitar tujuh ka-wasan. Ada pun realisasi proyek revitalisasi ini diperkirakan pada APBD Perubahan 2015 atau APBD Murni 2016.
Karena itu, pada roadshow survei ini Ida mengajak sejum-lah kepala satuan kerja perang-kat daerah (SKPD) terkait. Mi-salnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Heru Suhadi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwi-sata Bambang Legowo, Kepala Badan Lingkungan Hidup Eddy Susanto, Kepala Dinas Perhu-bungan Suwito, dan Kepala Di-nas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Sulistyanta. “Para seniman dan budayawan juga kami libatkan,” jelasnya.
Senada diungkapkan Sekreta-ris Daerah (sekda) Bantul Ri-yantono. Menurutnya, pemkab ingin fokus mengembangkan dan memadukan sektor budaya dan pariwisata. Salah satu per-soalan yang masih menjadi PR adalah akses jalan. Sarana in-frastuktur ini dinilai penting untuk mengembangkan sekali-gus memajukan objek pariwi-sata di Bumi Projo Tamansari. “Kalau aksesnya sudah baik nantinya akan menjadi satu kesatuan,” tambahnya.
Survei ke sejumlah lokasi ini juga bagian dari penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) selama lima tahun ke depan. Tujuannya, agar pembangunan selama lima tahun ke depan terintegrasi dengan capaian da-lam RPJMD 2010-2015. “Ya jangka panjang. Nggak bisa di-selesaikan dalam waktu setahun atau dua tahun,” ungkapnya.Roadshow survei berikutnya akan dilakukan lagi pada Jumat (6/2) mendatang. Roadshow ini giliran menyasar ke cagar budaya dan objek pariwisata di wilayah Bantul Tengah dan Barat. (zam/din/ong)

Revitalisasi Tak Mengubah Bentuk Situs

BANTUL – Proyek revitalisasi tujuh cagar budaya yang renca-nanya akan dijadikan sebagai kawasan dipastikan tidak akan mengubah konstruksi dan nilai sejarah yang mengitarinya. Itu karena revitalisasi fokus mende-sain ulang lingkungan di sekitar cagar budaya agar lebih menarik bagi wisatawan. “Peninggalan sejarah tidak boleh didaur ulang. Ditambah atau diperbaiki ben-tuknya juga nggak boleh,” tegas Ketua Dewan Kebudayaan Ban-tul Timbul Raharjo.
Larangan merekonstruksi situs-situs bersejarah ini tidak hanya dari sisi arkeologi. Tetapi, juga karena unsur mistis di dalamnya. Timbul menerangkan, dari per-spektif arkeologi upaya mem-perbaiki dengan cara merekon-dtruksi situs dapat merusak nilai-nilai sejarah. “Di masya-rakat juga ada kepercayaan jika mengganti bentuk situs berse-jarah dapat malati,” ujarnya.
Karena itu, situs-situs berse-jarah seperti peninggalan kera-jaan Mataram Islam akan dibi-arkan apa adanya. Menurutnya, langkah yang akan ditempuh dalam proyek revitalisasi ini adalah hanya mendesain ulang lingkungan di sekitar cagar bu-daya. Penguatan nilai-nilai ar-tistik akan ditonjolkan. Di samping itu, proyek revi-talisasi ini juga akan mem-buat replika dari situs berse-jarah tersebut secara utuh. “Dibuat menarik agar ada nilai ekonomis. Tujuannya wisata-wan banyak yang datang, se-hingga masyarakat merasa ikut memiliki,” ungkapnya.
Sebagai seniman asli Bantul, Timbul tidak menampik Bumi Projo Tamansari sebenarnya memiliki puluhan situs-situs bersejarah yang potensial. Ini karena peradaban sejarah di Jogjakarta berasal dari Bantul bila dilihat peninggalan situs-situs kuno ini. “Asal Jogjakarta ya dari Bantul,” tandasnya.
Parjiono, salah satu tokoh ma-syarakat Pedukuhan Singosaren, Banguntapan sepakat dengan adanya proyek revitalisasi situs-situs bersejarah seperti kompleks Makam Raja-Raja Kotagede. Hanya saja, dia meminta revi-talisasi ini tidak lantas kemu-dian disertai dengan kebijakan penggusuran bangunan milik warga di sekitar komplek.”Kami juga usul rumah-rumah tradisi milik warga yang akan dijual oleh ahli warisnya se-baiknya ditampung pemkab atau pemprov. Biar bangunan-bangu-nan lama di sekitar kompleks ini tidak berubah,” tambahnya. (zam/din/ong)