YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
TEGAS: Papan peringatan yang ditujukan untuk para pembuang sampah liar yang banyak dipasang warga di wilayah Ngaglik, Ngemplak, hingga Kalasan.
SLEMAN – Warga di bagian timur wilayah Sleman geram dengan aksi pembuang sampah liar. Su-litnya mengawasi pelaku yang membuang sampah sembarangan “memaksa” warga setempat mem-buat peringatan. Peringatan larangan membuang sampah dan denda bagi pelang-gar ini ditulis di kain spanduk atau poster disebar di beberapa penjuru desa. Sarana pengingat itu kian menjamur di wilayah Ngaglik, Ngemplak, hingga Ka-lasan.
“Kami kesal. Orang mem-buang sampah sembarangan asal lempar ke sungai,” keluh Sunaryo, warga Wedomartani, Ngemplak kemarin (2/1).
Di tiga wilayah tersebut memang banyak ruas jalan beraspal yang relatif sepi pengendara. Selain persawahan, lahan di kiri – kanan jalan lebih banyak berupa kebun dengan tanaman tinggi. Tak pelak, sampah banyak menggunung di hampir setiap jembatan di atas sungai-sungai kecil yang ada di sepanjang jalanan. Sunartyo meyakinkan, para pembuang sampah liar bukanlah warga setempat. Tetapi orang luar daerah yang sengaja melin-tasi jalanan wilayah ini di saat sepi. Terutama saat malam. Me-reka mengintai situasi saat tidak ada warga di sekitar sungai. “Per-nah ada yang ketahuan, ya, kami tegur. Tetapi tetap ada saja orang lain yang mengulang buang sam-pah ke sungai,” paparnya.
Sikap tegas warga lantas ditu-angkan dalam papan atau spanduk dan poster pengumu-man. Rata-rata menyebutkan denda sebesar Rp 1 juta bagi siapa saja yang tertangkap tangan buang sampah sembarangan. Bahkan, warga tidak segan meng-hukum fisik si pembuang sampah sembarangan. Beberapa pembuang sampah liar sempat kepergok warga saat berulah. Namun selalu kabur sebelum tertangkap.
Tugiran, warga lain mengakui bahwa aturan tersebut tidak me-miliki kekuatan hukum tetap. Sebab, ketentuan dibuat hanya mendasarkan pada kesepakatan warga. Ancaman bagi pelanggar lebih untuk memberikan efek jera bagi pembuang sampah liar. “Kalau ketahuan tentu tetap kami denda,” ujarnya.
Di wilayah Ngaglik dan Kalasan, sampah-sampah di aliran sungai telah mencemari saluran irigasi petani. Akibatnya, sawah tercemar, sehingga petani merugi akibat hasil panen tidak optimal. Kondisi ini semakin memrihat-inkan di saat musim hujan se-perti sekarang. Tumpukan sam-pah berserakan di lahan persa-wahan seakan menjadi hal biasa. “Ini jelas merepotkan. Sampah harus dibersihkan agar tidak menggangu tanaman,” lanjut petani paruh baya itu.
Hal lain yang dikhawatirkan warga adalah jika sampah rumah tangga mengandung zat kimia berbahaya. Misalnya, sisa sabun mandi atau bekas cucian pera-bot piring dan gelas. Jika zat tersebut mencemari air irigasi, dipastikan akan berpengaruh pada kualitas panen. Kades Sukoharjo, Hadi Sub-ronto mengklaim warganya sadar kebersihan. Dengan begitu, dia menyimpulkan jika ada sampah liar, berarti ulah warga desa lain yang tidak dikenal. “Di sini sam-pah diangkut oleh petugas setiap hari,” katanya.Kades Tamanmartani Gandang Harjanta mengatakan, spanduk peringatan bagi pembuang sampah liar lebih diutamakan untuk men-jaga kawasan hijau, khususnya ali-ran sungai. “Artinya, semua warga terlibat dalam penjagaan lingkungan,” katanya. (yog/din/ong)