GUNAWAN/RADAR JOGJA
MINTA KEADILAN: Demi kebebasan sang ayah, dua anak terdakwa kasus pencurian kayu dan perusakan hutan BKSDA Harso Taruna, Supartini dan Basuki Rahmad, ikut berunjuk rasa di kompleks PN Wonosari, kemarin (3/2). Mereka berharap ayahnya segera dilepaskan dari jeratan hukum.
GUNUNGKIDUL – Sidang la-njutan dugaan perusakan hutan BKSDA dengan terdakwa petani penggarap lahan Harso Taruna terus diwarnai aksi unjuk rasa. Bahkan, dalam persidangan ke-marin (3/2) majelis hakim PN Wonosari dianggap sudah mem-buat blunder.Penasihat hukum terdakwa me-nilai ada yang aneh dalam persi-dangan. Setelah dilakukan pe-meriksaan terdakwa, justru ma-jelis hakim mengajukan saksi verbalisan (saksi penyidik) lain.
Padahal sebelumnya jaksa penuntut umum (JPU) Vivit Is-wanto telah mengajukan saksi verbalisan. “Ada yang aneh dalam persi-dangan ini, dan justru menjadi blunder. Majelis hakim justru kembali menghadirkan saksi ver-balisan, setelah pemeriksaan terdakwa,” kata salah satu anggota Penasihat Hukum M Zaki Sierad usai persidangan.
Mestinya, kata Zaki, dalam si-dang kali ini majelis hakim lang-sung meneruskan dengan pem-bacaan tuntutan dari JPU. Itu lantaran JPU sudah tidak men-ghadirkan saksi lagi untuk mem-perkuat dakwaan. “Lagi pula, sebelumnya JPU sudah menghadirkan Aiptu Suyo-no, selaku Kanitreskrim sebagai saksi verbalisan, namun menga-pa hari ini justru dihadirkan saksi verbalisan lagi dengan saksi berbeda, yaitu Lilik Purwo Santoso,” ucap alumnus UGM ini.
Oleh karena itu, pihaknya me-milih diam dalam persidangan. Tim menilai majelis hakim tidak konsisten karena tidak mengakui saksi verbalisan sebelumnya. “Kita punya rekaman penuh per-sidangan kali ini. Kita lihat saja nanti seperti apa, rekaman ini bisa kita kirimkan ke komisi yudi-sial, negara rugi dengan sidang seperti ini, dengan pola peme-riksaan dan penuntutan maupun persidangan seperti ini tadi,” tegasnya.
Sementara dalam persidangan, anggota majelis hakim Nataline Setyowati mengatakan siap menge-depankan adil dalam aspek so-sial dan filosofis kemasyarakatan. Pihaknya menjamin, tidak ada unsur lain kecuali untuk mengung-kap fakta persidangan. “Dalam menjatuhkan putusan tidak hanya dari kacamata yuridis formal saja,” kata Nataline Setyowati.
Sebelumnya, di luar persidangan massa dari sejumlah organisasi menggelar aksi unjuk rasa. Anak Harso Taruno masing-masing, Basuki Rahmad dan Supartini di tengah kerumunan tampak me-neteskan air mata. Dengan ter-bata-bata, Basuki meminta ma-jelis hakim untuk membebaskan ayahnya.”Kami minta keadilan, kasihani bapak saya. Bebaskan,” pintanya.
Diketahui HarsoTarunadisang-ka melanggar UU Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Dia ditangkap pada 26 September 2014 oleh polisi kehutanan dan diserahkan ke Polsek Paliyan. Harso disangka melakukan pene-bangan kayu negara dan dianggap merusak lingkungan. (gun/ila/ong)