SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
BERDUKA: Suasana pemakaman Maulana Rasidi warga Gatak, Sumberagung, Moyudan, Sleman, tadi malam. Keluarga menilai penyebab kematian Rasidi tidak wajar.

Pihak Keluarga Bantah Pernyataan Polisi

BANTUL – Pernyataan Kapol-res Bantul AKBP Surawan ter-kait penyebab kematian ter-sangka penjambretan Maulana Rasidi dibantah tegas pihak keluarga. Keluarga menilai penye-bab kematian pria kelahiran 33 tahun lalu itu tidak wajar. Ada banyak lebam ditemukan di bagian wajah. “Ada bethem-bethem di wajahnya dan di ke-palanya ada memar-memar,” terang Suhartinah, salah satu kerabat Rasidi, kemarin (3/2).
Dia berpendapat, luka lebam dan memar di bagian atas tubuh Ra-sidi seperti bekas terkena benda tumpul atau dipukul. Luka-luka itu bukanlah karena Rasidi jatuh dari mobil polisi sebagaimana yang diungkapkan pihak kepolisian. “Kalau jatuh biasa paling nggak lukanya mberet-mberet atau sobek-sobek. Ini seperti bekas ditempe-leng,” ujarnya.
Saat menjalani perawatan, pihak keluarga dilarang ang-gota polisi yang berjaga untuk memotret Rasidi yang tengah tergeletak di ruang ICU RS Wi-rosaban, Kota Jogja. Setiap ang-gota keluarga yang datang mem-besuk diminta anggota polisi untuk tak memotret.
Bahkan, Sumartini, ibunda Rasidi yang berhasil mengabadikan gambar salah satu putranya itu diminta anggota untuk menghapusnya. Anggota itu, kata Suhartinah, berdalih agar foto Rasidi yang tengah dalam kondisi koma tersebut tidak disebarluaskan. “Dia masuk RS Jumat sore (23/1). Tetapi pihak keluarga baru diberitahu pada hari Sa-btu,” ungkapnya.
Karena itu, kemarin (3/2) pihak keluarga pun melaporkan keja-dian ini ke Polda DIJ. Selain itu, keluarga juga melakukan visum jasad Rasidi di RSUP Sardjito untuk melengkapi berkas lapo-ran. Pihak keluarga meminta Polda DIJ mengusut tuntas ke-janggalan penyebab kematian Rasidi ini.
Sebagaimana diberitakan se-belumnya, Surawan menegaskan, Rasidi dilarikan ke RS Wirosaban karena usai melompat dari mo-bil polisi. Kasat Reskrim polres Bantul AKP Akbar Kasim Bantilan menegaskan, kinerja penyidik sudah sesuai dengan standard operating procedure (SOP). Usai dicokok di wilayah Gamping, Sleman Rasidi dibawa ke Ma-polres Bantul untuk menjalani pemeriksaan. Rasidi ditangkap karena penyi-dik berkeyakinan Rasidi meru-pakan pelaku penjambretan di wilayah Pandak pada Selasa (20/1). “Saat kami tangkap, kami juga menemukan sejumlah barang bukti persis yang sama dilaporkan oleh korban. Dan pelaku juga mengakui perbua-tannya,” paparnya.
Nah, sore harinya Rasidi ke-mudian diajak penyidik untuk melakukan rekontruksi di se-jumlah lokasi atas sejumlah aksi penjambretannya. Saat melintas di kawasan Goa Sela-rong, Rasidi yang duduk persis di belakang sopir dengan tangan terborgol ini tiba-tiba mem-buka pintu dan meloncat dari dalam mobil. “Di dalam mobil ada tiga petugas,” jelasnya.
Kemudian, kata Akbar, Rasidi dibawa ke RS Wirosaban untuk mendapatkan perawatan medis. Meski demikian, Akbar menga-ku tidak mengetahui persis luka apa yang dialami Rasidi saat menjalani perawatan selama sembilan hari di RS. Lalu, langkah apa yang akan ditempuh polres menyusul pelaporan keluarga? Akbar eng-gan memberikan komentar. “Ke pimpinan saja,” ucapnya.
Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti menegaskan, pihaknya akan menindaklanjuti laporan tersebut. Jika dalam pro-ses penyelidikan ditemukan bukti dan kekeliruan anggota dalam melaksanakan tugas, sanksi tegas akan diberlakukan terhadap yang bersangkutan. “Ya, ada laporan soal kejadian itu atas nama Sumardi Harta, ayah dari Maulana Rusadi,” kata Anny.
Laporan ke Polda DIJ tertanggal 2 Februari 2015 dengan nomor LP/92/II/DIY/2015/SPKT, men-jadi landasan Polda DIJ agar men-gusut kasus ini. Kemudian, perihal laporan itu, pihaknya menegaskan segera melakukan penyelidikan dan pendalaman sesuai apa yang terjadi di lapangan. “Jika ditemu-kan bukti anggota dalam melak-sanakan tugas tidak profesional pasti akan ada sanksi yang diberi-kan,” tegasnya. (zam/fid/din/ong)