GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BERSALAH: Yoga Trihandoko (kanan) dan M. Zakaria (tengah), menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jogja, kemarin (3/2).
JOGJA – Untuk kali pertama sidang perusakan benca cagar budaya (BCB) selesai hingga tingkat pengadilan. Hal ini ter-jadi untuk kasus perusakan ge-dung SMA “17” 1 Jogjakarta yang merupakan bekas markas ten-tara pelajar. Dalam sidang pembacaan pu-tusan di Pengadilan Negeri (PN) Jogja, kemarin (3/2), majelis hakim yang diketuai Mery Taat menjatuhkan vonis bersalah kepada kedua terdakwa, Mo-chammad Zakaria dan Yoga Trihandoko. Kedua perusak se-kolah yang beralamat di Jalan Tentara Pelajar, Bumijo, Jetis, itu diwajibkan membayar denda sebesar Rp 500 jut
“Atau hukuman pengganti pi-dana kurungan 12 bulan,” ujar Mery saat membacakan vonis. Denda itu menjadi kewajiban dari masing-masing terdakwa untuk membayar Rp 500 juta. Sidang yang dimulai pukul 12.00 ini berlangsung cepat, hanya 15 menit. Mery tak meminta kedua terpidana untuk memperbaiki bangunan yang telah mereka rusak. Majelis hakim hanya memberikan vonis berupa denda dan kurung-an pengganti apabila tidak mem-bayar denda. Juga kesempatan mempertimbangkan banding atas vonis itu selama tujuh hari.
Jaksa Penuntut Umum RR Ra-hayu usai sidang mengaku, ma-sih akan menunggu sikap dari kedua terpidana. Atas putusan itu, pihaknya cukup puas. Sebab, ini bisa membuktikan terpidana bersalah atas perusakan BCB.Sampai pembacaan vonis, ke-dua terdakwa yang dinilai me-langgar Pasal 105 juncto Pasal 113 ayat 3 UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya ini memang tak ditahan. Ini karena per-timbangan sejak saat penyidikan di pegawai negeri sipil (PPNS), mereka kooperatif.
Dalam vonis hakim, terpidana pertama Mochammad Zakaria sebagai pemilik lahan terbukti memerintahkan terdakwa Yogo Tri Handoko. Ini dikuatkan melalui surat perintah kerja (SPK) tertanggal 24 Maret 2013 untuk menghancurkan gedung SMA “17” 1 pada bagian sisi kiri dari bangunan pokok SMA itu.Kemudian 25 April 2013, Za-karia kembali memerintahkan perusakan gedung kepada sak-si Halili. Saat itu bangunan yang dirusak adalah ruang laborato-rium biologi, dua ruang kelas, ruang komputer, ruang OSIS, musala, dan ruang guru.
Namun, karena dianggap belum selesai, Zakaria kembali memerin-tahkan Yogo Trihandoko pada Mei 2013 untuk merusak gedung SMA 17. Perintah kedua ini untuk merusak bagian ruang guru dan bangunan sayap kanan gedung. Ditemui usai sidang, Zakaria mengaku masih akan pikir-pikir terlebih dahulu. Ia pun tak bisa memutuskan apakah menerima putusan itu atau mengajukan banding. “Masih ada tujuh hari,” katanya sambil berjalan keluar komplek pengadilan.
Senada dengan Zakaria, pena-sihat hukum kedua terpidana, R Kentos P Murdono, juga masih menyatakan pikir-pikir. Ia akan mendiskusikan terlebih dahulu dengan kedua kliennya.Menanggapi vonis ini, Koor-dinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) Joha-nes Marbun menilai, vonis itu tak mengembalikan bangunan. Seharusnya kedua terpidana juga diberikan hukuman untuk mengembalikan bangunan. “Selain ada efek jera, ini agar pemilik BCB tidak bisa seenaknya untuk membongkar BCB,” saran-nya. Sebab, kata dia, jika hanya divonis dan bangunan asli tetap berubah, nilai BCB tersebut su-dah hilang. Masyarakat pun tak bisa memanfaatkan BCB untuk fungsi edukasi.(eri/laz/ong)