GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SIKLUS LIMA TAHUNAN:Dinas Kesehatan Kota Jogjakarta melakukan fogging di Kampung Miliran, Muja Muju, Umbulharjo, Jogja (31/1).grafis-dbd

Dikepung Daerah KLB, Bantul Terbanyak

DEMAM berdarah dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masya-rakat yang utama di DIJ. Jumlah penderita dan luas daerah penye-barannya semakin bertambah, seiring meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Apa lagi saat ini bertepatan dengan siklus lima tahunan pertumbu-han DBD
Wajar saja, jika saat ini masy-arakat Indonesia, termasuk di DIJ dibuat resah dengan kasus DBD. Sebab, pada kenyataannya, pada 2015 ini merupakan tahun di mana merupakan siklus lima tahunan penyakit DBD. Lalu bagaimana dengan di DIJ?Dari catatan Dinas Kesehatan DIJ, panyakit DBD kembali me-wabah dengan jumlah pasien yang tak sedikit. Selama Janua-ri 2015, dinas kesehatan men-catat terdapat 316 kasus DBD, dengan jumlah tewas lima orang.
Salah satu daerah di DIJ yang paling terdampak dari mewa-bahnya DBD awal tahun ini adalah Kabupaten Bantul. Di Bantul, sepanjang Januari ke-marin dilaporkan terdapat 115 kasus, dua di antaranya mening-gal dunia. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan (P2MK)Dinas Kesehatan (Din-kes) DIJ DaryantoChadorie mengatakan, ancaman penyakit melalui nyamuk Aides Aegypti DIJ tahun ini memang mening-kat dibanding tahun-tahun se-belumnya.
Peningkatan disebabkan wabah penyakit DBD tahun 2015 ini menghadapi siklus lima tahunan. Selain itu, DIJ juga dikepung dengan kejadian luar biasa (KLB) di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. “Berkenaan dengan itu, sosialisasi tahun ini kami tingkat-kan,” tegasnya kemarin (3/2).
Sosialisasi dilakukan dengan berbagai hal. Mulai dari media cetak, elektronik, hingga terjun langsung ke masyarakat. Semua hal ditempuh agar kesadaran tentang wabah DBD ini bisa te-ratasi.”Melalui kader dan DSO (Di-strik Survailance Officer), kami terus dekati masyarakat. Sebab, pencegahan ini hanya bisa dila-kukan dengan perilaku,” tuturnya.
Upaya lain yang dilakukan, dengan penyebaran larva sida. Ini untuk mencegah bibit nyamuk Aides Aegypti di bak kamar mandi dan tempat penampung-an air milik masyarakat.Yang tak kalah penting, dengan pengasapan atau fogging. Saat ini, pihaknya memberikan ka-bupaten dan kota kewenangan penuh untuk segera meninda-klanjuti setiap ada korban. “Jika ada korban di salah satu wi-layah, langsung ditindalanjuti dengan fogging,” imbuhnya.
Bagi warga yang mengalami demam, juga langsung diperce-pat diagnosanya atau RDT. “Se-tiap terjadi demam dan beber-apa ciri lain, sudah mengarah di DBD, langsung penanganan-nya DBD. Ini agar segera terto-long,” tandasnya.
Tahun ini, dengan siklus lima tahunan dan kepungan daerah tetangga yang KLB, angka pen-derita DBD tidak terlalu beda jauh dengan tahun lalu, meski ada peningkatan. Dengan keada-an tersebut, dari catatan Dinkes DIJ, belum ada peningkatan status.Dinkes masih menetapkan waspada untuk DBD. “Sampai sekarang belum ada permin-taan kejadian luar biasa,” kata Daryanto.
Dijelaskan, sampai awal Fe-bruari ini, penderita DBD di DIJ total 316 jiwa. Bantul yang paling banyak dengan 115 jiwa. Pasien yang meninggal dua orang. Ke-mudian, Gunungkidul sebanyak 85 orang yang terjangkiti dan meninggal satu. Disusul Sleman dengan 54 orang dengan satu meninggal, Kota Jogja 52 orang dan satu jiwa meninggal. “Ku-lonprogo mengalami 10 orang, namun tidak ada yang mening-gal,” lanjutnya.
Untuk diketahui, DBD meru-pakan suatu penyakit epidemik akut yang disebabkan virus yang ditransmisikan oleh Aedes Ae-gypti dan Aedes Albopictus. Pen-derita yang terinfeksi akan me-miliki gejala berupa demam ringan sampai tinggi, disertai dengan sakit kepala, nyeri pada mata, otot dan persendian, hingga perdarahan spontan.
Tingginya kasus, terutama ke-matian akibat DBD tidak terlepas dari kontrol dan pencegahan yang lemah oleh berbagai pihak, khususnya dari pemerintah dan masyarakat. Kebanyakan dokter juga belum menerapkan standard penanganan kasus DBD, se-hingga jumlah kematian masih tinggi. Faktor penting lainnya adalah belum tersedianya obat spesifik atau vaksin untuk me-nangani DBD.
Penanganan pasien DBD men-ghabiskan waktu lama dan biaya kerugian yang relatif besar. Dengan manajemen standard, pasien DBD rata-rata mengha-biskan waktu rawat inap selama 4 sampai 5 hari. Sedangkan pe-riode sakit yang dijalani pasien rata-rata 11 hari, dengan durasi demam rata-rata selama 6 hari.
Upaya pencegahan DBD di DIJ juga menjadi perhatian dari PMI DIJ. Khusus untuk mencegah DIJ menjadi daerah KLB, PMI mengerahkan relawannya. Be-kerja sama dengan dinkes di kabupaten dan kota, PMI me-nerjunkan relawan untuk kerja bakti membersihkan lingkungan.”Kalau untuk darah, Insya Al-lah siap. Stok darah masih aman,” kata Ketua PMI DIJ Herry Zudi-anto ditemui terpisah. Lembaga yang khusus penyedia darah ini sudah mendapatkan pemberi-tahuan akan adanya siklus lima tahunan. PMI pun meningkatkan persediaan darah jika sewaktu-waktu permintaan terhadap darah ini mengalami peningka-tan. (eri/jko/ong)

Sleman Galakkan “Jumat Bersih”

KASUS DBD di wilayah Sleman juga lumayan tinggi, meski sejatinya mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Selama Januari 2015, tercatat 54 kasus, dengan seorang korban meninggal dunia. Kepala Dinas Kesehatan Sleman Mafilindati Nuraini memastikan, jumlah itu akan terus ber-tambah, seiring laporan masuk dari puskesmas dan rumah sakit yang menangani pasien DBD.
Dibanding dua tahun lalu, kasus DBD di Sleman mengalami penurunan cukup drastis. Kendati begitu, hal tersebut bukan berarti penanganan DBD sudah berjalan baik. Setidaknya, hasil penelitian tim Juman-tik menunjukkan masih banyak wilayah dengan angka bebas jentik di bawah standar (95 persen). Selama 2014, terjadi 538 kasus dengan empat korban meninggal dunia. Sementara pada 2013, ada 736 kasus dan 4 meninggal dunia.
Sedangkan pada 2012 dan 2011 terjadi 236 kasus dan 166 kasus, tanpa korban meninggal dunia.Mafilinda mengatakan, kebijakan penanggu-langan DBD paling efektif dan efisien adalah melalui gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Fogging baru dilakukan jika ada indikasi fokus penularan di daerah tertentu. Itu pun ma-sih dilihat dari jumlah penderita, waktu inku-basi (perjalangan penyakit), lingkungan, dan keberadaan nyamuk. Sejauh ini, Pemkab Sleman menggalakkan pro-gram “Jum’at Bersih”.
Tim Jumantik dikerahkan untuk membina dan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Petugas juga memonitor keberadaan po-pulasi jentik di wilayah masing-masing.”Jika di suatau wilayah angka bebas jentik kurang dari 95 persen, berarti gerakan 3M plus satunya belum baik. Harus digencarkan lagi,” katanya kemarin (3/2)
Banyak kasus menimpa pasien terduga DBD ter-nyata typus. Itu lantaran dokter tak bisa melakukan diagnose final. Observasi pun tak bisa secara sepo-tong-sepotong, tak sekadar melihat gejala fisik, juga berdasarkan uji darah di laboratorium. Secara spesifik, tubuh penderita DBD akan muncul bintik merah yang jika ditekan tidak hi-lang. Pada stadium lanjut, bisa mengakibatkan perdarahan spontan. “Itu pun, dokter belum bisa menyimpulkan DBD,” jelasnya.
Gejala tersebut harus didukung hasil uji darah berupa penurunan trombosit. Hasil itu harus didu-kung adanya kenaikan angka hematoklit sebesar 20 persen. Jika kondisi terebut terpenuhi, baru bisa disimpulkan bahwa si pasien menderita DBD. Lebih banyak informasi yang sampai ke tenaga medis dianggap lebih bagus, daripada pasien terlambat memperoleh pertolongan karena mis informasi. “Jika ada pasien panas, apalagi tinggal di wilayah endemis DBD, anggap dia menderita DBD. Tenaga medis harus berpikir seperti itu, sehingga nggak kecolongan,” paparnya.
Mafilinda mengimbau masyarakat tak perlu cemas mengahdapi musim DBD. Dengan catatan selalu waspada dan meningkatkan kepedulian lingkungan tempat tinggal masing-masing. Dengan gerakan 3M plus, yakni menguras, menutup, dan mengubur/menyingkirkan benda-benda yang bisa menjadi tempat menampung air. Sebab, telur nyamuk bisa berkembang biak di air, meski hanya beberapa mililiter. “Jangan andalkan pe-tugas. Kesadaran diri sendiri lebih penting,” ingat-nya.
Jika ada warga yang mengalami panas menda-dak, segera dibawa ke petugas medis terdekat. Mafilindati tak menyarankan pengobatan sen-diri hanya dengan meminumkan obat penurun panas kepada penderita. Ini penting agar pasien tak terlambat memperoleh penanganan medis.Penyadaran masyarakat menjadi kewajiban semua pihak. Itu tak lain lantaran kawasan endemis DBD biasanya terjadi lantaran ketidaksengajaan atau justeru akibat kebiasaan buruk masyarakat. “War-ga sering tak nglegewo,” kata Mafilinda.
Maksud Mafilinda, misalnya warga membiarkan tandon/bak air terbuka tanpa pernah dikuras. Atau tak segera mengubur sampah barang bekas yang bisa menampung air hujan. Seperti banyak kasus ditemukan dalam program “Jum’at Bersih”. Petugas Jumantik banyak mendapati jentik ny-amuk berkembang biak di tempat-tempat tam-pungan air yang tak disangka-sangka. Di antaar-nya, di tempat tampungan air dispenser atau wadah minum burung piaraan. (yog/jko/ong)