SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
CARI KEADILAN: Sumartini dan Sumardi Harta mendatangi kantor Jogja Police Watch (JPW) kemarin (4/2) mengadukan kasus kematian anaknya.
JOGJA- Kapolda DIJ Brigjen Pol Oerip Soebagyo didesakmencopot Kapolres Bantul AKBP Surawan terkait tewasnya Maulana Rasidi, warga Gatak, Sumberagung, Moyudan, Sleman. “Kapolres harus ikut bertanggung jawab karena membiarkan dan melindungi anak buahnya sehingga anak saya celaka,” ungkap Sumartini, ibu almarhum Maulana kemarin (4/2).
Sumartini berharap Kapolda DIJ tidak tinggal diam. Ia ingin Brigjen Oerip menaruh perhatian serius dengan mengusut tuntas kasus tersebut. “Tangkap dan jatuhi hukuman yang setimpal para pelakunya,” desak Sumartini dengan suara bergetar menahan tangis.
Didampingi suaminya Sumardi Harta mendatangi kantor Jogja Police Watch (JPW) di Jalan Jenggotan No 5 A Bumijo, Jetis, Jogja. Keduanya menyampaikan testimoni seputar nasib anaknya, karena diduga dianiaya sejumlah anggota Polres Bantul.
Sebelum meninggal Maulana yang persis merayakan ulang tahun ke-23 bertepatan dengan hari pemakamannya Selasa (3/2) lalu, ditangkap polisi di Pasekan, Balecatur, Gamping, Sleman Jumat (23/2). Saat dibawa petugas, mata Maulana ditutup dengan kain hitam dan mulutnya diplester.
Dari keterangan beberapa saksi, Maulana sempat mengalami penganiayaan. Polisi menuduh Maulana adalah pelaku penjambretan di Pandak, Bantul. Polisi berdalih Maulana mengalami luka-luka karena melompat dari mobil saat dibawa petugas. “Ada saksi-saksi yang mendengar anak saya mengeluh dan mengaduh karena merasa sakit gara-gara dianiaya. Kepalanya dipukul padahal tangannya dibondo (diikat) dan mulut diplester,” ujar Sumartini sambil terisak.
Sumartini mengaku awalnya tak curiga saat ada dua orang petugas dari Polres Bantul mendatangi rumahnya. Mereka menyerahkan surat penangkapan dan memberitahukan bila anaknya sedang dirawat di RSUD Wirosaban. “Saat saya datang kondisi anak saya sudah dalam keadaan koma,” tuturnya.
Setelah itu, ia disodori petugas meneken surat pernyataan untuk tidak memasalahkan secara hukum atas kejadian yang menimpa anaknya. Ia juga mengaku kerap dihubungi dengan orang yang mengaku anggota Polres Bantul bernama Muji. Intinya, ia diminta tidak perlu menyoal masalah tersebut dan seluruh biaya di rumah sakit ditanggung polisi. Padahal Sumartini tahu untuk biaya telah ada jaminan dari Jamkesda.
Rasa herannya bertambah kuat saat Budi Harsono, pengacara yang ditunjuk keluarganya diduga main mata. Yakni menawarkan uang Rp 300 juta sebagai kompensasi atas meninggalnya Maulana. “Saya baru sadar, atas nasib yang menimpa anak saya. Berarti ada yang tidak beres. Saya tolak semua tawaran itu termasuk uang. Bagi saya nyawa tidak bisa diganti dengan apapun,” tuturnya.
Menanggapi itu Kepala Biro Humas JPW Baharuddin Kamba mengutuk keras. “Semua sangkaan polisi harus dibuktikan. Fakta adanya korban yang meninggal itu harus diusut tuntas. Kapolres Bantul harus ikut bertanggung jawab,” ungkap Bahar.
JPW akan menyurati Kapolda DIJ dan meminta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) turun tangan, serta berkoor-dinasi dengan Kompolnas dan Komnas HAM. “Jangan sampai kasus Reza di Gunungkidul terulang,” desaknya. (fid/din/ong)