SETIAKY/RADAR JOGJA
KRISIS KEBUDAYAAN: Din Syamsuddin saat menyampaikan pidato dalam Seminar Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VI di UMY, kemarin (4/2). Foto atas, Haedar Nashir, Syafi’i Ma’arif, Zuli Qodir, dan Slamet Effendi Yusuf juga sebagai narasumber seminar ini.
JOGJA – Salah satu permasalahan umat Islam saat ini adalah tidak mempunyai semangat kebudayaan. Akibatnya, Islam terkesan tidak melahirkan ekonomi, poli-tik, dan budaya yang sesuai Alquran. Bah-kan, umat Islam lebih banyakmelahirkan konsekuensi negatif daripada konseku-ensi positif
“Ironisnya, diIndonesia mu-laiditerapkan ajaran-ajaran li-beral sejak masareformasi, termasuk dalam bidang eko-nomi,” kata Ketua Umum MUI Din Syamsuddin saat menyam-paikan pidatonya dalam Seminar Pra-Kongres Umat Islam Indo-nesia (KUII) ke-VI di UMY ke-marin (4/2).
Menurut Din, salah satu ma-salah umat Islam tidak mempu-nyai semangat kebudayaan yang dapat dirumuskan secara kon-sepsional menuju konteks pe-rubahan strategis. Karena men-urutnya, bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami krisis ke-budayaan. “Berdasarkan pengamatan, salah satu permasalahan umat Islam, organisasi Islam, partai-partai Islam itu, tidak mempu-nyai semangat kebudayaan, yang merumuskan secara konsep-sional, sistematis, strategis, menuju ke konteks perubahan strategis untuk Indonesia ke depan. Kita ini mengalami per-masalah krisis kebudayaan,” beber Din.
Din menambahkan, masalah lain adalah Indonesia sedang menghadapi arus liberalisasi ekonomi, politik, dan budaya yang melahirkan konsekuensi negatif. Menurutnya, masalah tersebut tidak hanya terjadi di kota-kota besar, juga di kota-kota kecil. Sehingga menurut pihaknya, kongres yang diadakan oleh MUI pada 8 hingga 10 Fe-bruaridi Jogja akan melahirkan kajian kritis terhadap situasi nasional. “Penerapan Indonesia ini pada ajaran-ajaran paling libe-ral, ini masalah luar biasa, teru-tama sejak reformasi, termasuk bidang ekonomi dalam tanda petik kapilitasi global. Semo-gakongres ini nanti bisa melahi-rkan telaah kritis terhadap si-tuasi nasional dan sekaligus mencari solusi kedepan,” harap Din.
Senada dengan Din, Ahmad Syafi’i Ma’arif mengatakan, kon-gres KUII ini harus membahas permasalahan yang besar yang sedang dihadapi oleh bangsa ini. Dirinya berharap, jangan sampai kongres tersebut ter-goda oleh pertarungan politik yang sedang terjadi saat ini.”Ke depan, kongres ini menurut saya, memang harus membica-rakan hal yang serius, yang besar. Jangan tergoda oleh pertarung-an politik yang tidak bermarta-bat ini, penguatan sosial umat Islam, yang jumlahnya 210 juta, karenasecara sosial ekonomi kita umat Islam masihlemah. Sehingga dalam kongres ini, saya harapkan mempunyai tujuan untuk penguatan sosial,” kata mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini.
Dia juga pengkritisi, jika kon-gres ini adalah kongres umat Islam, seharusnya yang men-jadi peserta tidak hanya organi-sasi masyarakat berbasis Islam, juga mengundang politisi per-wakilan partai yang beragama Islam agar bisa saling bersin-ergi untuk membangun bangsa Indonesia.(mar/jko/ong)