GUNAWAN/RADAR JOGJA
DILATIH: Sejumlah siswa SMK 1 Ngawen tengah mendirikan tenda pengungsian, kemarin (4/2). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi bencana.
GUNUNGKIDUL – Meningkatkan ke-mampuan pelajar dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana, pelajar yang tinggal di zona merah dilatih ilmu tanggap bencana. Seperti di SMKN 1 Ngawen ditetapkan sebagai Sekolah Siaga Bencana (SSB).”Untuk menjadikan SMKN 1 Ngawen menjadi SSB sudah kita persiapkan sejak setahun lalu. Kita tidak hanya melakukan berbagai sosialisasi tetapi juga pelatihan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Budhi Harjo, kemarin (4/2).
Budhi ingin kesiapsiagaan bencana juga melibatkan pelajar termasuk guru. Karena bencana datang tidak pernah memilih lokasi atau korban. Anak-anak juga punya potensi besar terhadap kerawanan bencana. “Makanya kita persiapkan sejak dini agar anak sekolah bisa memahami masalah bencana alam dan mandiri untuk menyelamatkan diri jika terjadi bencana,” ujarnya.
Nah, sebagai tindak lanjut ditetapkannya SSB, pada Rabu (18/2) mendatang bupati akan melakukan launching SSB di SMKN 1 Ngawen. Dalam kesempatan tersebut bakal dilakukan gladi bencana tanah longsor diikuti sekitar 900 siswa termasuk guru.Kepala SMKN 1 Ngawen Basuki mengaku beruntung sekolahnya ditetapkan menjadi SSB oleh BPBD DIJ dan BPBD Gunungkidul. Menurut Basuki, wilayahnya dikenal rawan terjadinya bencana terutama tanah longsor.”Ilmu tanggap bencana itu nanti jelas membantu sekolah, termasuk siswa melakukan kesiapsiagaan dan bertindak benar jika bencana itu benar-benar terjadi,” tuturnya.
Di bagian lain, kemarin di SMK 1 Ngawen langsung digelar pelatihan pendirian tenda pengungsi oleh pelajar dan guru. Dibimbing anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Gunungkidul, peserta mampu me-nyelesaikan tugas dengan baik. Meski di awal sempat kerepotan, setelah pembimbing mengajari dengan lihai tenda pengungsi dalam tempo cepat bisa berdiri dan siap ditempati. (gun/ila/ong)