YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
ANTIK: Salah satu karya Wiyanta, sebuah kereta yang dilengkapi dengan mobil kayu pesanan konsumen dari Malaysia.

Karya Pertama Justru Dipesan Konsumen dari Belanda

Di tengah maraknya pasar otomotif, kendaraan angkutan penumpang kuno kian ditinggalkan konsumen. Salah satunya andong. Meski begitu, ada warga Kalasan yang eksis memproduksi kereta bertenaga kuda itu.
YOGI ISTI PUJIAJI, Kalasan
PERAJIN andong atau dokar itu bernama Wiyanta, 50. Warga Dusun Ngajeg, Tirtomartani, Kalasan itu tidak memproduksi kereta biasa, melainkan jenis klasik ala andong keraton. Nah, dari sekian banyak koleksi karyanya, ada yang cukup menarik perhatian karena desain kereta ini beda dari yang lain.
Tekstur rangkanya terbuat dari kayu jati. Tetapi pada bagian depan tidak terdapat pengait untuk dihubungkan dengan kuda. Kereta unik warna merah yang dipajang di teras rumah itu ternyata sebuah mobil pesanan seseorang dari Malaysia. “Pesanan kolektor barang antik. Belum diambil oleh yang pesan,” jelas Wiyanta di bengkel andong klasik miliknya.
Sepintas, kereta itu tidak ubahnya andong yang roda dan joknya juga dari kayu. Yang membedakan dengan koleksi Wiyanta lain, kereta satu ini dilengkapi roda kemudi di bagian depan. “Ini mobil beneran. Tentu saja bisa jalan,” tuturnya kemarin (4/2).
Wiyanta memanfaatkan mesin kendaraan roda tiga, yang dipasang pada bagian belakang kereta. Mesin sepeda motor menjadi pilihan alternatif lantaran tidak memakan banyak tempat. Tetapi tenaganya cukup kuat. “Yang penting bisa mundur dan tidak terlalu berat,” jelasnya sambil menunjukkan bagian belakang mobil.
Di bagian bawah kereta tidak ubahnya mobil modern bertenaga pendorong roda belakang dengan gardan.Bagaimana dengan harganya? Wiyanta menyebut, kereta kayu klasik itu bukanlah produk pabrikan. Melainkan sebuah karya seni kerajinan yang tak bisa diukur dengan mata uang. Kendati begitu, pesanan klasik tersebut dihargainya tak lebih murah dari sebuah mobil jenis SUV asal Jepang keluaran teranyar. “Kurang dari Rp 300 juta,” ujarnya.
Ternyata, itu bukan mobil pertama karya Wiyanta yang dipesan warga asing negara tetangga. Sebelumnya, pada 1993, pria paruh baya itu telah membuat kereta bermesin pesanan dari sebuah hotel di Jogjakarta.Tentu bukan hal mudah. Apalagi Wiyanta bukanlah seorang montir atau desainer mobil. Dia hanyalah perajin benda-benda kayu, khususnya andong. Keahliannya diperoleh turun-temurun, warisan ayahnya.
Namun, pesanan itu justru membuat dirinya tertantang. Hanya bermodal buku tentang perkembangan alat transportasi klasik, Wiyanta mencoba membuat kerangka kereta berbahan kayu. Hanya itu yang harus dia imajinasikan untuk dituangkan menjadi sebuah karya nyata. Soal mesin, itu urusan pemesan. “Desain pasrah saya, terserah mau saya buat bagaimana. Yang penting mesin bisa dipasang, mobil bisa jalan,” jelasnya.
Wiyanta mengaku, keterampilan membuat andong tak serta merta diperolehnya secara singkat. Bertahun-tahun ilmu turunan itu dipelajarinya sejak duduk di bangku SMP. Tiap pulang sekolah, hingga lulus SMK, Wiyanta selalu terlibat di bengkel andong ayahnya.Baru setelah tamat SMK, Wiyanta menentukan pilihan profesi sebagai mata pencaharian. Dia tak ingin keahlian warisan keluarga terputus begitu saja.
Karena itu, Wiyanta memutuskan untuk membuka bengkel andong, seperti ayahnya. “Supaya tetap eksis. Tapi saya pilih kereta klasik,” ujarnya.Kereta klasik pesanan pelanggan datang pertama kali justru dari konsumen asal Belanda. Bentuknya pun disesuaikan dengan kereta klasik khas Negeri Kincir Angin itu.Sejak itu, order mulai berdatangan. Nama Wiyanta kian mencuat tatkala karyanya nongkrong di hotel-hotel berbintang. Dari situlah, pelanggannya memperoleh informasi pemesanan kereta unik nan klasik hasil karya perajin kayu asal Sleman. (*/din/ong)