AHMAD RIYADI/RADAR JOGJA
LANGGAR MARKA JALAN: Jajaran Ditlantas Polda DIJ saat melakukan tilang terhadap pelanggar marka jalan, di Jalan Magelang, tepatnya depan kantor TVRI Jogja kemarin (5/2).
JOGJA – Tingginya angka kecelakaan di Jogjakarta mengusik ketenangan Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda DIJ. Sebagai langkah pencegahan ter-jadinya kecelakaan, secara rutin Ditlan-tas menggelar operasi. Seperti yang dilakukan kemarin (5/2), jajaran polan-tas menggelar razia di Jalan Magelang, tepatnya di depan kantor TVRI Jogja.
Dalam operasi ini, polantas menda-pati belasan pengendara yang melang-gar marka jalan. Yakni, pengemudi berbelok di jalur marka lurus, di ma-na marka itu sebagai tanda larangan tidak boleh berbelok. Para pengemu-di yang melanggar marka, langsung diberhentikan dan dikenai sanksi tilang. “Pengemudi yang berbelok di jalur marka lurus melanggar Pasal 287 UU LLAJ,” kata Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda DIJ AKBP Sutarno kepada war-tawan di sela operasi kemarin.
Operasi juga melibatkan Dinas Perhubungan DIJ dan PT Jasa Raharja DIJ. Selain pengemudi yang melanggar marka, polantas juga menghentikan penge-mudi dan penumpang sepeda motor yang tidak mengenakan helm. Tentang pemberian sanksi tilang, untuk memberikan efek jera, sekali-gus menyadarkan kepada masyarakat agar tertib berlalu lintas ketika ber-kendara di jalan raya.”Mereka yang ditindak adalah pelaku pelanggaran kasat mata yang dapat memicul terjadinya kecelakaan lalu lintas, seperti melanggar marka, arus, dan menggunakan HP saat mengemudi,” tambah Sutarno.
Menurut Sutarno, operasi ini dila-kukan di seluruh Indonesia. Sebe-lumnya, pada Januari lalu, Ditlantas melakukan sosialiasi tertib berlalu lintas. Usai sosialiasi, pada Februari, Ditlantas menggelar penindakan. Selama 2015 ini, ada enam program sasaran operasi yang telah ditetapkan Korlantas Mabes Polri. Yakni, pelaku pelanggar marka jalan, melanggar rambu, parkir di sembarangan tempat, melanggar arus, pengemudi meng-gunakan HP, tidak mengenakan helm SNI, dan tidak mengenakan sabuk pengaman bagi pengemudi dan pe-numpang roda empat atau lebih.”Hingga saat, sudah ada 1.149 pela-ku pelanggaran lalu lintas yang sudah dikenai sanksi tilang, dan 486 dikenai saksi teguran. Bagi pelaku pelang-garan dilakukan penyitaan SIM dan surat-surat kendaraan,” jelas Suratno.
Dari data Ditlantas, pelaku pelang-garan lalu lintas paling banyak terjadi di Sleman, kemudian Bantul dan dis-usul Kota Jogja. Pelaku pelanggaran didominasi pegawai swasta dan ne-geri, antara usia 16 hingga 30 tahun. Sedangkan untuk angka kecelakaan paling tinggi terjadi di Kabupaten Ban-tul, kemudian Sleman, disusul Kota Jogja, Gungkidul, dan Kulonprogo.”Untuk korban jiwa paling banyak terjadi di Gunungkidul. Sedangkan di Bantul paling banyak mengalami luka-luka atau kendaraan yang rusak,” beber Sutarno. (mar/jko/ong)