MAGELANG – Satuan Lalu Lintas (Satlan-tas) Polres Magelang Kota mengeluhkan kondisi lampu penerangan di Kota Magelang. Minimnya lampu penerangan jalan umum (PJU) di beberapa ruas jalan nasional di Kota Magelang, dituding menjadi pemicu maraknya kasus tabrak lari. Tercatat kasus tabrak lari yang terjadi se-jak tahun lalu mencapai 14 kasus. Kejadian-nya kebanyakn di ruas Jalan Urip Sumo-harjo dan Jalan Soekarno-Hatta.”Salah satu yang dominan selain pene-rangan jalan umum (PJU), juga jalannya sudah bergelombang. Tidak jarang peng-edara menerobos median jalan. Padahal, itu berbahaya, karena di jalur yang lurus seringkali kendaraan melaju dengan kece-patan tinggi,” kata Kapolres Magelang Kota AKBP Zain Dwi Nugroho didampingi Kasat Lantas AKP Rizeth Ariwibowo kemarin (5/2).
Rizeth meneruskan, terkait penerangan jalan, sebenarnya pihaknya pernah men-gusulkan pada Pemkot Magelang. Namun, hingga kini belum ada realisasi.”Di dua jalan nasional itu sudah ada pene-rangan jalan. Tetapi kadar watt-nya kurang terang. Belum bisa menyinari secara keseluru-han ruas jalan,” ungkap pria yang pernah menjabat Kanit Lantas Polsek Ungaran ini.
Selain kerusakan dan penerangan, ruas Jalan Urip Sumoharjo juga dinilai tidak me-miliki rambu-rambu sesuai ketentuan lalu lintas. Hal itu terlihat, karena sepanjang jalan tersebut garis markanya tidak terlihat jelas.”Bahkan, media jalan sudah sejajar dengan jalan raya. Sehingga tidak jarang di Jalan Soekarno-Hatta, utamanya pengguna se-peda motor seringkali menerobos untuk menyeberang,” paparnya.
Sedangkan Kanit Laka Lantas Polsres Ma-gelang Kota Aiptu Anas menambahkan, sepanjang tahun lalu, terjadi 14 kasus tabrak lari di Jalan Urip Sumoharjo dan Soekarno-Hatta. Meski tidak semuanya mengakibat-kan korban meninggal dunia, tetapi ba-nyaknya kasus tersebut membuktikan kedua ruas ini menjadi jalur blackspot (rawan ke-celakaan).Kepala Dinas Kebersihan Pertamanan dan Tatakota (DKPT) Kota Magelang Arif Ba-rata Sakti mengaku, segera mengkaji lapo-ran dari Satlantas Polres Magelang Kota.
Redupnya penerangan di dua jalan nasional juga disinyalir, bukan karena tegangan lampu yang rendah, tapi cahayanya tertutup pohon peneduh. Apalagi dari sisi jumlah, kapasitas PJU di dua kawasan tersebut di-yakini memenuhi syarat.”Jalan Urip Sumoharjo menetapkan 250 watt dan ada 52 titik. Sedangkan di Jalan Soekarno-Hatta ada 27 titik yang keseluruhannya meng-gunakan 400 watt tiap lampu,” jelasnya.
Jalan Urip Sumoharjo memiliki panjang 1,2 kilometer dengan kapasitas lampu di kanan dan kiri jalan. Menurutnya, sudah bisa menerangi seluruh ruas jalan. Bila dirata-rata penghitungannya, setiap lampu memiliki jarak 25 meter.”Justru kalau yang di Jalan Urip Sumo-harjo saya malah tidak begitu paham, di mana itu yang redup. Karena lihat jaraknya saja antara lampu sudah bisa menerangi ruas jalan,” imbuhnya didampingi Staff PJU DKPTK Kota Magelang Johanes Waskito Wahyu Soebagyo.
Ia mengakui, ada beberapa penerangan lampu di Jalan Soekarno-Hatta yang terha-lang pohon peneduh. Ditambah, ada satu titik bekas baliho yang sekarang tidak di-fungsikan, sehingga membuat kondisi di kawasan itu minim penerangan.”Ada satu titik di dekat Casio sampai pe-rempatan Canguk. Karena ada baliho yang sekarang tidak nyala lagi. Sedangkan di daerah selatan Soekarno-Hatta, dipicu ba-nyaknya dahan pohon peneduh yang menutupi,” jelasnya.
Johanes menambahkan, pada dasarnya memotong dahan pihaknya harus memi-liki standar operasional prosedur (SOP). Namun, kendala dirasa semakin sulit, ka-rena rata-rata di Jalan Soekarno-Hatta kon-disi pohon peneduh sudah dipangkasPihaknya mengaku siap bila Satlantas Polres Magelang Kota berencana menga-dakan koordinasi untuk membahas soal PJU di jalan-jalan yang dianggap rawan kecelakaan lalu lintas. (dem/hes/ong)