ZAKI MUBAROQ/RADAR JOGJA
KERACUNAN LAGI: Para karyawan PT Dong Young Tress Indonesia yang keracunan saat menjalani perawatan di RS Rajawali Citra Banguntapan, Bantul kemarin (5/2).
BANTUL – Pengalaman buruk soal ratusan karyawannya yang keracunan pada November lalu, tampaknya tak di-jadikan pelajaran bagi PT Dong Young Tress Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan terjadinya kasus yang sama kemarin (5/2). Sedikitnya 200-an karyawan yang lembur, keracunan masal lagi.Penyebab keracunan sama, yakni di-duga karena usai mengkonsumsi jatah makanan yang disediakan perusahaan rambut palsu yang terletak di Pedukuhan Banyakan, Sitimulyo, Piyungan itu
Kali ini makanan yang mem-buat para karyawan terkapar, adalah jatah makanan lembur yang dikonsumsi saat jam isti-rahat, sekitar pukul 18.00 Rabu (4/2). Pascamengkonsumsi ma-kanan tersebut, selang beberapa jam ke mudian, sebagian karyawan ada yang mual-mual dan pusing. Pun-caknya kemarin (5/2) pukul 07.30, hampir seluruh karyawan yang masuk lembur malam itu, mual-mual, pusing, muntah, bahkan ada yang pingsan. Akibatnya, para karyawan yang telah masuk kerja sejak pukul 06.30 kemarin, dilarikan ke se-jumlah rumah sakit. Di antara-nya, RS Permata Husada Pleret, RS Rajawali Citra Banguntapan, Puskesmas Piyungan, dan I slamic Center Piyungan.”Makanannya nasi bungkus. Lauknya telur dadar, dan ada kuahnya seperti kare,” kata seorang karyawan PT Dong Young Tress Indonesia Devi Apriliani saat ditemui di rumah sakit RS Rajawali Citra.
Warga Karangmojo, Gunung-kidul ini mengaku tak merasakan ada yang aneh saat pertama kali mengkonsumsi makanan jatah dari pabrik tersebut. Begitu pula dengan sejumlah rekan-rekannya. “Mungkin karena lem-bur, dan sudah lapar,” lanjutnya.
Senada diungkapkan Gino, suami Uswatun, salah satu karyawan PT Dong Young Tress Indonesia yang dirawat di ruang instalasi HCU RS Rajawali Citra. Dia menceritakan, sejak Rabu (4/2) malam saat pulang kerja, istrinya sudah mengeluhkan mual-mual dan pusing. Setelah itu, kondisinya semakin parah ketika sudah masuk bekerja Kamis (5/2).”Lauknya ada dua. Ada yang telur dadar, dan ada yang sayap (ayam). Dua-duanya pakai kuah,” ungkapnya.
Insiden keracunan masal di perusahaan ini sudah kedua kalinya. Pertama, terjadi Jumat (20/11) tahun lalu. Saat itu, se-dikitnya 178 karyawan menga-lami keracunan. Karena itu, Gino pun berharap pabrik tak memberikan lagi jatah makanan bagi karyawan yang masuk lembur. Sebagai gantinya, war-ga Rejosari, Terong, Dlingo ini mengusulkan agar pihak pabrik mengganti jatah makanan dengan uang.”Kami juga meminta pihak pabrik membiayai seluruh biaya perawatan atas kasus keracunan ini,” tandasnya.
Direktur RS Rajawali Citra Asri Priyani menyebutkan, ada 51 karyawan PT Dong Young Tress Indonesia yang dirawat di RS Rajawali Citra. Rata-rata me-reka mengeluhkan pusing, mual-mual, muntah, dan deg-degan. Dari jumlah itu, 25 di antaranya telah diizinkan rawat jalan, dan 26 masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.”Sudah ada yang masuk ke bangsal, lalu ada juga yang kita masukkan ke ruang lain,” ungkapnya.
Setiap enam jam sekali, tim medis akan melakukan obser-vasi dan evaluasi atas kondisi terakhir para pasien. Bagi pasien yang kondisinya membaik bakal dirujuk ke puskesmas terdekat. Lalu, pasien yang kondisinya tak kunjung ada perubahan, bakal dirawat di rumah sakit. “Dari hasil anamesa, kami menduga kemungkinan dari makanan,” jelasnya. (zam/jko/ong)

Katering Gunakan Santan Stok Lama

DINAS Kesehatan (Dinkes) dan Komisi D DPRD Bantul langsung bereaksi atas insiden keracunan masal yang me nimpa ratusan karyawan PT Dong Young Tress Indonesia. Kemarin (5/2), mereka langsung berkoordi-nasi dan membezuk para karyawan yang dirawat di RS Rajawali Citra.
Ada sejumlah poin penting dari hasil koordinasi ini, di antaranya, keracunan masal ini merupakan tanggung jawab pihak Ridho Katering. Sebab, peru-sahaan katering asal Ledok, Kotagede ini yang dipercaya PT Dong Young Tress Indonesia untuk menyediakan nasi bagi para karyawan lembur.”Kami sudah dapat penjelasan, bahwa pihak katering mengakui kesalahannya,” kata Ketua Komisi D DPRD Bantul Enggar Suryo Jatmiko kemarin.
Pengakuan dari pihak katering, dalam membuat masakan untuk karyawan lembur tersebut, meng-gunakan bahan baku masakan yang tak sesuai standar. Hampir separo bahan dasar menu opor berupa santan menggunakan stok lama. Lalu, separonya lagi berupa santan segar.
Politikus Partai Gerindra ini menilai, sebenarnya perusa-haan sudah menjalankan re-komendasi dewan dan dinas, terkait kerja sama dengan pihak katering. Rekomendasi itu di-keluarkan menyusul insiden keracunan masal pada Novem-ber tahun lalu. “Kateringnya sudah sesuai arahan,” ujarnya.Karena itu, lanjut Miko-sapaan akrabnya, pihak katering kabar-nya bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan dan perawa-tan para karyawan yang men-galami keracunan.”Senin depan (9/2) akan kami panggil semua. Untuk mensi-kapi hal ini, biar tak terjadi lagi,” tandasnya.
Miko berjanji akan ikut menga-wasi proses evaluasi terhadap katering-katering yang bekerja sama dengan pabrik-pabrik di Bantul. Pertimbangannya, dua insiden keracunan masal di PT Dong Young Tress Indonesia terjadi hanya dalam rentang waktu sekitar tiga bulan.”Pihak pabrik juga meminta untuk memberikan uang seba-gai ganti nasi lembur. Tapi ini kan nggak bisa kami terima, karena di undang-undangnya memang nggak boleh,” ujarnya.
Kabid Pelayanan Masalah Ke-sehatan Dinkes Bantul Pramudi mengatakan, petugas Dinkes sudah mengambil sampel makanan yang diduga sebagai penyebab keracunan masal untuk diuji dilaboratorium. Hasil uji laboratorium diperkirakan bakal keluar sekitar dua minggu ke depan.”Kateringnya ini sebenarnya sudah cukup bagus dan berizin. Tetapi tetap ada kejadian seperti ini. Mungkin sial saja sampai dua kali,” ungkapnya.
Sebagai solusi, Pramudi me-nyarankan agar PT Dong Young Tress bekerja sama dengan lebih dari satu katering. Selain me-mudahkan, langkah ini dinilai dapat meminimalisasi keracunan masal.”Berdasar pantauan kami (ka-ryawan) yang mondok ada se-kitar 60 orang. Yang rawat jalan sekitar 200 orang,” tambahnya. (zam/jko/ong)