ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
NGEYEL: Abas Ichwan Ansori tengah diperiksa oleh kepolisian sebagai tersangka kasus penambangan illegal di lereng Merapi. Pria berusia 43 tahun ini diketahui bukan pertama kali berurusan dengan aparat penegak hukum
MUNGKID – Kepolisian Resort (Polres) Magelang menetapkan Abas Ichwan Ansori sebagai tersangka kasus penam-bangan illegal di lereng Merapi. Pria be-rusia 43 tahun ini diketahui tidak kali pertama berurusan dengan aparat penegak hukum. Sebelum ditetapkan tersangka, ia sudah berurusan dengan hukum atas kasus serupa.Abas mengaku, dirinya baru satu hingga dua bulan beroperasi dengan alat berat.
Meski begitu, ia mengakui jika empat kali ditangkap polisi dan Satpol PP dalam kasus serupa. Ia juga mengaku pernah disidang-kan dan sering berurusan dengan polisi.Sebenarnya, ada ratusan backhoe atau ekskavator yang beroperasi di sejumlah sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Namun, warga Kecamatan Dukun ini mempertanyakan, mengapa alat berat dirinya yang diamankan. Alat berat lain yang beroperasi ada di kawasan Muntilan, Sawangan, Srumbung, Dukun, Salam dan lainnya tidak diapa-apakan.”Saya sendiri yang ditangkap. Padahal masih ada 45 backhoe yang juga ikut me-nambang. Bahkan ada ratusan,” ungkap Abas kemarin (5/2).
Selain mempertanyakan hanya alat be-rat miliknya, Abas juga mengaku pernah dimintai setoran rutin oleh oknum PNS Pemkab Magelang. Pada sejumlah media, Abas mengatakan, oknum PNS tersebut meminta setoran sebesar Rp 20 ribu per rit. Pungli ini menghasilkan jumlah besar, jika dikalikan jumlah armada yang bero-perasi setiap hari.Abas juga mengaku menyetor uang an-tara Rp 70 ribu 75 ribu per rit, ke kas desa tempat penambangan pasir dilakukan. Adapun dalam satu ritnya, Abas menga-ku mendapat Rp 150 ribu. Ia mengklaim, menyumbangkan sebagian uang yang didapatnya ke fakir miskin dan anak yatim.”Saya menggunakan uang (hasil tambang) untuk kepentingan banyak orang. Saya sumbangkan bagi anak yatim dan fakir miskin,” tuturnya.
Kasubag Humas Polres Magelang AKP Edi Sukrisno menyatakan, polisi menjerat Abas dengan pasal 158 UURI Nomor 4 Tahun 2009 Pertambangan Mineral dan Batubara. Abas terancam penjara maksimal 10 tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar.Abas merupakan tersangka pertama kasus penambangan pasir Merapi dalam kurun lima tahun terakhir. Penyidik memu-tuskan menahan Abas, setelah menjalani proses pemeriksaan polisi. Ia ditetapkan sebagai tersangka, setelah tertangkap tangan menambang dengan alat berat.
Abas melakukan penambangan di Kali Senowo, di Dusun Kajangkoso, Mangunsuko, Dukun. Ia ditangkap polisi pada 23 Januari 2015. Abas langsung dinyatakan sebagai tersangka. Meski begitu, ia baru ditahan 3 Februari 2014. Abas merupakan warga Dusun Dukun I, Dukun, Dukun. (ady/hes/ong)