HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
MEMPERJELAS: TP2B2 saat menentukan koordinat dan pemasangan patok calon areal bandara di Desa Glagah, Temon, Kulonprogo, kemarin (6/2).
PROSES pemasangan atau perapatan patok areal calon bandara baru di Desa Glagah, Temon, Kulonprogo, selesai kemarin (6/2). Kendati diwarnai protes dan penolakan warga pemilik lahan, seluruh koordi-nat calon bandara sudah ber-hasil dideteksi dengan sangat jelas.Dari pantauan Radar Jogja, proses pemasangan patok ban-dara berjalan lancar. Kendati sempat beredar kabar warga paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT) sudah siap melakukan perlawanan kepada petugas yang akan mamasang patok di areal lahan milik mereka, anggota Tim Persiapan Pembangunan Ban-dara Baru (TP2B2) dan Pemkab Kuloprogo berhasil menentukan koordinat bandara
Dua patok terakhir bahkan berhasil ditancapkan di Pedu-kuhan Sidorejo, Glagah, yang dikenal menjadi markas WTT. Sukses pemasangan patok ini tidak terlepas dari koordinasi baik antara tim dan WTT. Selain itu, adanya bantuan pengama-nan dari kepolisan, TNI dan Satpol PP yang sangat maksimal. Tim P2B2 yang terdiri atas Ang-kasa Pura I, Kabiro Tapem DIJ Haryanta, Assek II Triyono, ka-des Glagah ikut menyertai pro-ses pemasangan patok.
Tidak terkecuali, warga WTT, khususnya pemilik lahan yang ikut secara seksama menyaksi-kan proses penentuan koordinat areal bandara. Kendati sikap penolakan dalam bentuk verbal dari warga WTT sesekali masih terdengar mengiringi proses pengukuran dan pemasangan patok.”Kami sudah memberi kesem-patan kepada tim untuk boleh mematok, namun itu tidak gra-tis. Pemerintah juga harus men-dengarkan kami.
Artinya, pema-tokan berhasil dilakukan, berar-ti kami mengizinkan bandara ada di sini,” tegas Martono, ketua WTT di sela pemasangan patok.Martono menyatakan dengan diberikannya kesempatan ke-pada tim sehingga bisa memasang patok, WTT berharap pemerin-tah mau mendengarkan keluhan dan permintaan mereka. “Kami tetap konsisten menolak ban-dara sampai kapan pun,” ucap-nya.
Kepala Seksi Pengukuran Lahan Calon Bandara Baru Obed Tri Pambudi menjelaskan, saat akan melakukam pematokan di titik pertama di Pedukuhan Sideo-rejo, memang ada beberapa hambatan. Namun semua bisa diatasi dengan persuasif, se-hingga penetapan titik koordinat bisa berjalan. “Walaupun tidak semua patok berhasil ditanam, pada intinya titik koordinat area calon ban-dara sudah ditentukan, dan sudah terlihat jelas,” ujarnya.
Ke depan, sambung Obed, se-mua bisa mengetahui batas mana saja yang terkena pembe-basan, baik yang terdampak maupun yang tidak terdampak. “Hari ini kami hanya memasang dua patok. Yang pertama bisa terpasang karena warga yang bersangkutan mengizinkan. Dan kedua tidak mengizinkan, se-hingga terpaksa kami pasang di bahu jalan,” sambungnya. Diterangkan, untuk patok yang ada di bahu jalan cukup ditandai dengan cat semprot dan titik koordinat sudah jelas.
Pemato-kan kali ini dinilai sukses, hasil-nya cukup memuaskan. Dengan berakhirnya pematokan kali ini, berarti sudah tidak ada lagi pe-masangan patok.”Tinggal menyelesaikan proses konsultasi publik. Jika masih ada yang keberatan, nanti ada Tim Kajian Keberatan yang akan tu-run. Dan itu harus menunggu hasil rekapitulasi konsultasi pu-blic,” terangnya.
Obed menambahkan, pada rencana awal memang ada 43 patok yang akan dipasang. Patok itu adalah patok perapatan, di mana sebelumnya patok yang terpasang di pojok-pojoknya sudah terpasang semua.”Patok kali ini hanya perapatan dan pemasangannya tetap kita lihat situasi dan kondisi di la-pangan. Jadi memang 43 patok itu tidak terpasang semua, namun kami sudah bisa menentukan koordinat dan bentuk bandara-nya. Kalau ditotal yang terpasang hanya 25 patok, namun itu su-dah mewakili 43 patok yang rencana kita pancang,” tambah-nya.
Menurut Obed, tahapan sela-njutnya yakni menunggu pener-bitan IPL dari gubernur. Tentu-nya jika sudah dipastikan tidak ada sanggahan dan masuk lagi dalam proses pengadaan tanah. Semua data akan dikroscek, termasuk pengukuran lebih de-tail. Jika ada tanah yang berada di luar batas areal bandara namun pemilik tanahnya menginginkan untuk dibebaskan sekalian, maka akan dibebaskan.Dipaparkan, secara geometris batas imajiner itu sebetulnya sudah ada, termasuk pojok-pojok areal bandara yang terpa-sang lebih dahulu sudah jelas. Sementara perapatan patok kali ini untuk memperjelas, se-perti yang belum lurus untuk diluruskan.
Nantinya seluruh bidang tanah akan dipasang patok satu-satu.”Untuk menentukan patok itu di mana kita kan menggunakan satelit dengan sistem koordinat yang terbagi di bumi. Koordinat itu namanya koordinat imajiner yang bisa digambarkan di peta. Pematokan di lapangan itu untuk melihat koordinat riil di lapangan,” tandas Obed. (tom/laz/ong)