BANTUL – Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ mengungkapkan Produk Do-mestik Regional Bruto (PDRB) DIJ tahun 2014 tumbuh 5,2 persen atau mencapai 93,45 triliun. Tercatat, PDRB per kapita sebesar Rp 25,69 juta atau setara dengan US$ 2.176. Hal ini diungkapkan oleh Kepala BPS DIJ Bambang Kristianto saat pemaparan PDRB DIJ di Kantor BPS setempat, kemarin (6/2).
Menurut Bambang, pertumbuhan PDRB 2014 mengalami perlambatan dibanding-kan tahun 2013 yang tumbuh sebesar 5,5 persen. Bambang menjelaskan, dari sisi produksi pertumbuhan perkonomian DIJ didorong oleh peningkatan nilai tambah pada sejumlah lapangan usaha terutama disektor pelayanan jasa.Namun, hal tersebut tidak terjadi pada sektor pertanian, kehutanan maupun perikanan.
Sementara di sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong oleh tingkat komponen konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto.Dia memaparkan pada triwulan IV 2014 lalu, perekonomian DIJ tumbuh 4,2 persen dibanding triwulan IV 2013. Bambang menilai, level pertumbuhan tersebut sedikit melambat dibanding dengan pertumbuhan year on year (yoy) pada periode yang sama sebesar 4,6 persen. “Pada triwulan IV 2014 perekonomian DIJ mengalami kontraksi sebesar 1,1 persen dibandingkan triwulan sebelumnya,” ujar-nya.
Bambang menyebut, dari sisi produksi penurunan disebabkan oleh efek musiman pada lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan. Itu terutama subkategori tanaman pangan yang tumbuh negatif 77 persen. Dari sisi permintaan, kontraksi ini disebabkan oleh komponen perubahan inventori dan komponen konsumsi rumah tangga yang tumbuh negatif masing-masing 285,1 persen dan 1,6 persen.”Kondisi ekonomi konsumen triwulan IV tahun 2014 menunjukkan peningkatan konsumsi,” terangnya.
Selain pertumbuhan PDRB 2014, BPS juga mengungkapkan indeks kebahagian penduduk DIJ pada 2014. Hal tersebut didasarkan pada survei yang dilakukan pada tahun 2014. Kepala Bidang Sosial BPS DIJ Tuti Amalia menjelaskan, survei tingkat kebahagian di DIJ berada pada skor 70,77 dari skala 0 sampai 100. Indeks kebahagiaan merupakan rata-rata dari angka indeks yang dimiliki oleh setiap individu di DIJ pada tahun 2014.”Semakin tinggi nilai indeks menunjuk-kan tingkat kehidupan yang semakin bahagia. Semakin rendah nilai indeks maka penduduk semakin tidak bahagia,” jelasnya.
Dia memaparkan, indeks kebahagiaan merupakan indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap sepuluh aspek kehidupan yang esensial. Kesepuluh aspek tersebut secara substansi dan ber-sama-sama merefleksikan tingkat ke-bahagiaan.”Kepuasan tersebut diukur dari segi kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pen-dapatan rumah tangga dan keharmonisan keluarga, kondisi rumah dan asset. Serta keadaan lingkungan dan kondisi ke amanan,” terangnya. (bhn/ila/ong)