YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
TAMPAK LEBIH NYATA: Si pembaca harus aktif mengutak-atik ornamen dalam buku ini seperti bermain puzzle.

Sarana Edukasi Permukiman Lestari di Lereng Merapi

Namanya museum mini. Isinya berupa sarana edukasi tentang pemukiman lestari di lereng Gunung Merapi. Produk Kementerian Pekerjaan Umum ini tak lepas dari peran Imam Baskara, relawan yang sekaligus tim kreatif “pencipta” museum mini ini.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
JANGAN dibayangkan jika museum ini berbentuk suatu bangunan yang berisi benda-benda koleksi kuno atau bersejarah. Museum ini bukan pula suatu ruangan tiga dimensi. Tapi, berupa buku cerita bergam-bar dan tulisan yang bisa berdiri, sehingga seolah-olah hidup dan bergerak. Sepintas mirip dengan buku-buku anak-anak PAUD atau TK. Tapi, buku satu ini tampak lebih nyata.
Si pembaca pun harus aktif mengutak-atik ornamen dalam buku seperti bermain puzzle. Dari situlah, buku itu bisa menggambarkan suasana kala warga lereng Merapi dilanda musibah erupsi, menyelamatkan diri, bertahan hidup, mengungsi, hingga hidup di hunian tetap (huntap), yang disebut sebagai pemukiman lestari. “Buku ini satu-satunya top up di Indone-sia yang diterbitkan oleh instansi pemerin-tah maupun swasta,” ujar Imam Baskara, memulai bercerita tentang karya tersebut.
Buku tiga dimensi ini disebut sebagai mu-seum mini lantaran dikemas seolah-olah sebagai laboratorium hidup. Untuk media pembelajaran bagi masyarakat, khususnya warga lereng Merapi.
Ide museum mini tercetus lantaran mi-nimnya sarana edukasi bagi anak-anak dan kaum ibu. Selama ini pustaka ilmu yang berisi pengetahuan kegunungapian cen-derung berupa buku ilmiah yang tak bisa dipahami orang awam. Muatan ilmunya dinilai cukup berat. Buku bersegmen anak-anak sangat kurang. Oleh karena itu dibuatlah museum mini berbentuk buku tiga dimensi.
Materi isinya cukup komprehensif. Dengan membaca tulisan dan memainkan pernik-perniknya, setiap anak bakal memperoleh informasi dan alur cerita tentang suasana masyarakat lereng Merapi. “Paling tidak, anak-anak bisa menangkap ekspresi secara visual,” ungkapnya. Halaman demi halaman, buku itu men-gulik cerita kedamaian di desa kawasan pegunungan. Namun, bencana datang me-landa permukiman penduduk. Warga tung-gang langgang berlarian menyelamatkan diri. Korban meninggal dunia, anak-anak kehilangan orang tua, harta benda dan ter-nak hilang, serta barak pengungsian men-jadi gambaran lanjutan. Lalu, datanglah para relawan dan dermawan menyelamatkan warga. Mereka membantu masyarakat bangkit dari keterpurukan
Melatih warga dalam kesiapsia-gaan bencana, menghadapi segala risiko musibah erupsi Merapi. Hingga menciptakan perkampungan lestari, di mana warga harus pindah dari kampung halaman dan tinggal di hunian tetap, yang lebih aman, nyaman, dan tenteram. Nah, melalui alur cerita itu, ter-sirat pesan penting bahwa setiap bencana alam bisa terjadi sewak-tu-waktu tanpa kabar. Namun, masyarakat harus siap siaga setiap saat, serta bahu-membahu.
Paling penting adalah menyi-apkan diri untuk keperluan mi-tigasi bencana, demi mencegah timbulnya korban. “Museum mini ini dibuat untuk melatih responsibility publik. Supaya disebarkan untuk semua warga huntap,” ujar Imam.
Buku yang dibuat dalam wak-tu empat bulan itu memang belum dicetak banyak. Dengan biaya sekitar Rp 300 juta, baru tercetak sekitar 300 ribu eksem-plar. Ke depan, buku ini akan lebih diperbanyak dan dibagikan bagi seluruh penghuni huntap.Ada harapan dari tim kreatif. Melalui museum mini, muncul komitmen dari pemerintah dae-rah maupun perguruan tinggi untuk berkontribusi dalam membangun permukiman les-tari. Buku ini bisa menjadi sara-na studi dalam mencari entry point pembangunan kawasan lereng Merapi. (*/laz/ong)