KULONPROGO – Masyarakat kini tengah dihebohkan dengan buku yang berjudul Saatnya Aku Belajar Pacaran. Buku itu selalu muncul dengan berbagai promo yang kadang menyesatkan setiap menjelang perayaan valentine day. Disinyalir hal itu merupakan ulah kapitalis yang sengaja memanfaatkan momen valentine day. Pernyataan itu disampaikan Direktur Pelaksana Cabang Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kulonprogo Paulo Ngadi Cahyono, kemarin (6/2)
Paulo mengungkapkan, buku yang mengajarkan cara pacaran kelewat batas atau berlebihan itu cukup menyesatkan. Karena secara tidak langsung menyarankan berpacaran itu juga melakukan seks bebas. “Kebetulan di Kulonprogo buku tersebut belum tampak beredar.
Namun tidak menutup kemungkinan remaja di sini sudah ada yang membacanya. Karena remaja selalu ada hasrat ingin tahu, sementara akses ke kota sangat terbuka,” ungkapnya.Paulo mengungkapkan, selama dua pecan terakhir beberapa remaja sempat ada yang menanyakan perihal buku tersebut kepada dirinya. “Menurut pengetahuan saya menjadi siklus tahunan menjelang valentine day, diluncurkan isu yang kemudian diikuti promo bisnis tertentu terkait valentine,” ungkapnya.
Menurut Paulo, valentine kadang diterjemahkan oleh para remaja dengan pacaran. Celakanya dalam buku tersebut, menuntun hal-hal yang tidak baik. “Bahkan ada kesan mendorong perbuatan making love yang tentu dilarang saat pacaran. Saya mengikuti isu valentine berupa promo alat-alat penunjang perayaan valentine, seperti produk cokelat yang melambangkan rasa cinta, bunga, hotel bahkan kemudian kondom,” ujarnya
Mengantisipasi hal tersebut, PKBI Kulonprogo kembali melakukan pendekatan dengan program kesehatan reproduksi remaja (KRR) ke sekolah-sekolah. Menunjukkan buku panduan pacaran yang sehat. Serta mengajak jajaran pendidikan serta tokoh agama dan orang tua untuk membetengi remaja dari pacaran yang tidak baik.
Ketua KPI Kulonprogo Siti Ghoniyatun mengaku prihatin dengan peredaran buku berjudul Saatnya Aku Belajar Pacaran tersebut. “Saya sendiri terus terang belum baca buku itu. Tetapi sudah berdiskusi soal buku itu kemarin, saya prihatin sekali,” ucapnya.
Ghoniyatun, sapaannya, bahkan menyesalkan munculnya izin terbit buku tersebut. Sementara buku tersebut sudah terbit empat tahun lalu, dan baru terungkap meningkatnya jumlah remaja yang melakukan seks bebas bisa jadi juga di antaranya dari buku tersebut.”Kalau isinya heboh, kenapa boleh terbit. Kalau memang tidak baik ya semestinya pemerintah melarang buku itu beredar. Disamping itu, juga harus membentengi remaja dari perbuatan pacaran yang kebablasan,” ujarnya. (tom/ila/ong)