YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
BERI CONTOH: Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu dan tim pokjanal gerakan Minggu bersih saat kerja bakti gerakan kebersihan Kecamatan Mlati kemarin (8/2).
MLATI- Tingkat kesadaran warga untuk hidup bersih dan menjalankan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) rendah. Masih banyak lokasi (rumah) dengan angka bebas jentik jauh dari standar baku ideal 95 persen. Di antaranya, permukiman penduduk di Dusun Cebongan Lor, Mlati, yang dipantau petugas pokjanal demam berdarah dengue kemarin (8/2).
Dari 54 rumah yang dipantau, sedikitnya 19 unit terdeteksi positif jentik nyamuk penyebab DBD.Angka bebas jentik hanya mencapai 64,15 persen. “Kondisi ini mengkhawatirkan karena potensial terdapat jentik nyamuk Aides Aegypti,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sleman Mafilindati Nuraini di sela kegiatan kerja bakti gerakan kebersihan Kecamatan Mlati.
Seperti sering ditemukan di permukiman penduduk berangka bebas jentik rendah, larva dan pupa nyamuk berkembang biak di tempat tandon air berukuran kecil. Di antaranya, di cekungan tempat gelas dispenser, tempat minum burung, serta pada tanaman dalam pot. Yang cukup mencengangkan, jentik bersarang di pagar bambu yang ada air hujannya. Jentik juga terdeteksi di bak-bak mandi dan kaleng kosong.
Menurut Mafilinda, hal itu kerap terjadi lantaran ketidaktahuan atau di luar dugaan dan kesadaran masyarakat. Padahal, nyamuk mampu bertelur dan berkembangbiak di cekungan air meski hanya beberapa mili liter. “Biasanya orang tidak nglegewo,” tuturnya.
Wakil Bupati Yuni Satia Rahayu mengaku prihatin dengan kondisi lingkungan yang belum bebas jentik. Tak ayal, sebagian besar wilayah di Kabupaten Sleman tidak bebas DBD. Bahkan, sebagian wilayah menjadi kawasan endemis. Dua di antaranya di Kecamatan Mlati dan Gamping.Yuni mewanti-wanti warga agar hasil pantauan tim pokjanal DBD menjadi perhatian, sekaligus menjadi pemicu untuk meningkatkan budaya hidup bersih dan menggalakkan gerakan 3M plus. Yakni, menutup, menguras, dan mengubur, serta mengisi kolam dengan ikan dan melakukan abatisasi. “Saat ini wabah DBD sedang meningkat. Pencegahan mutlak diperlukan agar tidak menimbulkan korban,” ingatnya.
Dalam aksi Minggu Bersih, tim pokjanal memberi contoh cara melakukan gerakan 3M plus. Termasuk menyikat bak mandi. Ya, menguras air isi bak hanya menghilangkan jentik. Tetapi, telur yang menempel di dinding bak tidak hilang. Angka DBD di wilayah Sleman masih tinggi. Selama Januari 2015 tercatat 54 kasus, dengan seorang korban meninggal dunia. Mafilindati Nuraini memastikan jumlah itu akan terus bertambah, seiring laporan masuk dari puskesmas dan rumah sakit yang menangangi pasien DBD.
Dibanding dua tahun lalu, kasus DBD di Sleman mengalami penurunan cukup drastis. Kendati begitu, hal tersebut bukan berarti penanganan DBD sudah berjalan baik. Setidaknya, hasil penelitian tim Jumantik menunjukkan masih banyak wilayah dengan angka bebas jentik dibawah standar (95 persen). Selama 2014 terjadi 538 kasus dengan empat korban meninggal dunia. Sementara pada 2013 ada 736 kasus dan 4 meninggal dunia. Sedangkan pada 2012 dan 2011 terjadi 236 kasus dan 166 kasus, tanpa korban meninggal dunia. (yog/din/ong)