ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
UJI NYALI: Salah seorang pengunjung sedang mencoba permainan ekstrem di objek pariwisata air terjun Lepo di Pokoh, Dlingo, Dlingo. Objek wisata ini ke depan akan dilengkapi sarana pendukung.
DLINGO – Meskipun telah dilaunching dua tahun lalu, pembangunan sarana penunjang di sekitar objek pariwisata air terjun Lepo di Pokoh, Dlingo, Kecamatan Dlingo masih belum selesai. Ketersediaan anggaran sebagai penyebabnya. Lurah Dlingo Bahrun Wardoyo mengatakan, air terjun Lepo telah dimasukkan dalam rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDes). Tujuannya, agar kelurahan dapat fokus membangun air terjun Lepo meski secara bertahap. “Tahun ini dianggarkan Rp 25 juta untuk membangun akses jalan menuju air terjun,” terang Bahrun, kemarin (8/2).
Anggaran ini murni dari pembiayaan desa. Pada tahun lalu, kelurahan mendapatkan bantuan senilai Rp 30 juta dari DIJ untuk membangun sarana MCK di sekitar air terjun Lepo. Menurutnya, masih ada sejumlah sarana penunjang lain yang perlu segera dibangun. Antara lain, gazebo, jembatan view, dan area parkir. Meski dengan anggaran terbatas, kelurahan menargetkan pembangunan seluruh penunjang di sekitar air terjun Lepo dapat diselesaikan pada tahun depan. “Kami memang ingin kebut-kebutan menselesaikannya,” ujarnya.
Bahrun optimistis objek pariwisata air terjun Lepo dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat bila seluruh sarana penunjang sudah lengkap. Diyakini air terjun Lepo ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mencari pemandangan alam yang masih orisinil. Selain air terjun Lepo, lanjut Bahrun, kelurahan mempunyai angan-angan lain. Yaitu membangun home stay di atas perbukitan dan panggung kesenian. Dia menyadari letak geografis kelurahan Dlingo berada di antara gugusan perbukitan seribu. Tentunya jika dikelola dengan baik kondisi ini dapat menjadi keunggulan tersendiri. “Di Dlingo masih banyak kesenian tradisional yang belum terekspos,” jelasnya.
Meskipun demikian, angan-angan ini mustahil terwujud bila tanpa ada bantuan dari pemkab maupun pemerintah DIJ. Lalu, apa kelurahan tak memanfaatkan alokasi dana desa (ADD)? Bahrun tak membantah ADD yang akan diterima setiap desa nilainya cukup fantastis. Diperkirakan kelurahan Dlingo bakal menerima ADD sekitar Rp 1,2 miliar menyusul pemberlakuan Undang-undang No.6/2014 tentang Desa. Namun demikian, ADD ini akan dialokasikan untuk sejumlah bidang. “Mulai pembangunan fisik, peningkatan kesejahteraan pamong, pemberdayaan dan peningkatan usaha produktif masyarakat,” ungkapnya.
Karena itu, sambungnya, kelurahan belum dapat memperkirakan anggaran pembangunan sarana penunjang air terjun Lepo, home stay di atas perbukitan, panggung kesenian diambilkan dari ADD.Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) air terjun Lepo Samirun menuturkan, selama dua tahun terakhir air terjun Lepo dikunjungi banyak wisatawan, khususnya saat akhir pekan. “Harapannya pengunjungnya semakin banyak kalau pembangunannya sudah selesai,” tandasnya.Menurutnya, kelurahan tidak sendiri menata air terjun Lepo. Kelurahan menggandeng sejumlah mahasiswa STIPRAM. Agar air terjun Lepo menjadi salah satu objek pariwisata representatif di kelurahan Dlingo. (zam/din/ong)