GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BUTUH PENERTIBAN: Iklan luar ruang cukup mengganggu pemandangan. Salah satunya di sekitar Tugu. P3I DIJ sarankan promosi iklan luar ruang dilakukan lebih kreatif dan tidak merusak citra agung sebagai kota heritage.
JOGJA – Persatuan Perusahaan Pe-riklanan Indonesia (P3I) Pengda DIJ menyatakan Jogjakarta mengalami darurat iklan luar ruangan. Hal ter sebut berdasar pada keberadaan iklan yang terpampang tidak lagi mengindahkan nilai estetika.Ketua Pengda P3I DIJ Eddy Purjanto mengatakan, iklan-iklan yang terpasang di berbagai spanduk, baliho, neon box, dan billboard terlihat semrawut. Pada-hal, Jogjakarta cukup melekat sebagai wilayah kawasan budaya yang kreatif.”Stakeholder terkesan seperti kejar setoran demi APBD.
Sepertinya asal pasang dan tidak melihat nilai estetika. Untuk kawasan Sleman, terlihat yang paling parah,” kritik Eddy kemarin (8/2).Seharusnya, lanjut Eddy, Jogjakarta sebagai kawasan yang tidak terlalu besar, pemasangan iklan harus di-sesuaikan besarnya ruang. Sehingga, promosi yang dilakukan harus kreatif dan tidak merusak citra agung sebagai kota heritage.”Promosi apapun harus kreatif. Tidak merusak lingkungan heritage serta memiliki nilai seni dan budaya. Jadi tidak harus memakai billboard ukuran raksasa,” usulnya.
Humas P3I DIJ Taufik Ridwan me-nyatakan, hampir 70 persen pelaku bisnis media luar ruang bukan anggota P3I. Sehingga dalam menjalankan bisnis promosi luar ruang banyak yang me-langgar etika dan kewajaran. “Ada kesan yang dikejar hanya setoran dan sekedar memasang iklan agar dilihat orang lain,” sindirnya. (bhn/hes/ong)