FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
MANDI TEPUNG: Acara yang seharusnya menjadi promosi bagi Kota Magelang, Magelang FloweRun 2015 justru dikecam banyak pihak dan membuat kecewa wartawan
MAGELANG – Ironi. Itu mungkin gambaran yang harus diterima beberapa wartawan di Kota Magelang saat meliput Magelang FloweRun 2015, kemarin (8/2). Kegiatan yang berpusat di Alun-alun Kota dan di-selenggarakan Lembuswana Production Magelang tersebut diwarnai aksi pengusiran petugas keamanan saat akan mengambil gambar pelepasan peserta. Pengusiran terjadi di panggung sisi selatan.
Alasannya, panitia tidak mengingingkan jurnalis mengambil gambar dari panggung.”Sebelumnya, kami tidak boleh masuk lokasi start. Ketika kami bisa masuk, malah diusir dari atas panggung yang notabene kosong. Karena hanya ada wali kota (Wali Kota Sigit Widyonindito) yang hendak me-lepas peserta start. Bahkan sampai ada teman kami yang ditarik dan dihalangi mengambil gambar oleh petugas keamanan berbaju hitam,” kata Yuki P, salah satu kon-tributor televisi swasta.Beberapa wartawan merasa itu sebagai hal yang tidak mengenakkan. Karena, ter-jadi saat mereka akan memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh setiap 9 Februari
“Ini membuktikan, kebebasan pers belum sepenuhnya ter wujud. Insiden pengusiran wartawan benar-benar kami sesalkan,” imbuhnya.Tidak hanya itu, sejumlah pihak mengaku kecewa dengan ke-giatan yang baru pertama kali di Kota Magelang tersebut. Gelaran lari yang mengadap-tasi Holy Festival dari India ini memadukan olahraga, musik, dan kemeriahan menggunakan holy powder.
Kekecewaan itu di antaranya, karena ada tarian erotis dari sisi gerakan maupun pakaian, di tengah dentuman musik keras. Padahal, kegiatan tersebut banyak diikuti peserta anak-anak. Selain itu, berada tidak jauh dari tempat ibadah.
“Saya pilih pulang cepat. Padahal belum pembagian door prize. Bukan acaranya tidak menarik, tetapi ada tarian saru,” ungkap salah satu siswa Kelas VI SD Al-Azhar Jogja yang sengaja mengajak adiknya yang kelas I ikut ke giatan tersebut.
Agung Nugroho, penggiat seni di Kota Magelang membenarkan adanya tarian erotis dari be berapa sexy dancers di atas panggung yang tidak layak dilihat anak-anak. Pertunjukan tersebut ber-potensi membuat sikap xeno-sentrisme masyarakat, ketimbang budayanya sendiri. Apalagi, di-peragakan di tempat publik seperti Alun-alun.”Ini yang namanya mencoreng budaya Kota Magelang. Padahal, pemerintah tengah giat meng-gaungkan wisata religi. Jangan sampai ini jadi difusi negatif budaya masyarakat Kota Mage-lang,” kritik pria yang akrab disapa Begawan Prabu ini.
Selain itu, Pimpinan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) Habib Fata menyesalkan kegiatan yang sebenarnya tidak sesuai adat ketimuran tersebut.”Saya kira awalnya hanya color run seperti di kota-kota lainnya yang mengadopsi dari Holy Festival. Sepertinya kebablasan. Sehingga ada pertunjukan yang tidak senonoh seperti itu. Jelas ini memperlihatkan kebobrokan moral di Kota Magelang,” kritiknya.
Ia kecewa, ribuan warga Ma-gelang disuguhkan pertunjukan tidak mendidik. Lebih lagi, ke-giatan itu diadakan di Alun-alun yang notabene sebagai pusat kegiatan keagamaan.”Ada masjid, gereja, dan kelen-teng ada di Alun-alun. Sangat kontradiksi dan deprivasi, bila diselenggarakan acara dancer berbusana minim. Ini menjadi-kan upaya pemerintah gencar razia penyakit masyarakat (pekat) sia-sia, dengan adanya pertunjuk-kan ini,” sindir Habib Fata.
Pria yang juga menjadi Pe ngurus Yayasan Al-Iman Kota Magelang ini memaparkan, adanya ke jadian itu menjadi parameter pe-merintah tidak bisa menyaring kegiatan atau acara yang lebih edukasi dan bermanfaat.”Justru ini menjadi nilai minus bagi pemerintah karena keco-longan tapi tidak mau meng-hentikan acara itu. Sangat ironis. Saya harap pemerintah belajar dari kegiatan ini untuk lebih selektif ke depannya,” pintanya.
Sebelum digelar acara tersebut, Sabtu (7/2), seorang pekerja pembuat panggung di Alun-alun Utara Kota Magelang juga sempat mengalami kecelakaan. Pekerja tersebut jatuh pingsan. Ia di-duga kesetrum kabel listrik.Acara ini sempat menarik per-hatian masyarakat.
Tidak hanya peserta lokal, tetapi pengunjung asal luar daerah yang terlibat kegiatan lari bergembira tersebut. Mereka melewati rute dengan start dari depan kantor pos, Alun-alun Timur. Selanjutnya, peserta melalui Jalan Pemuda, Daha, Jalan Kebon, Tentara Pe-lajar, Diponegoro, Kartini, dan finish di Jalan A Yani. Kegiatan ini dilepas Wali Kota Sigit Widyonindito didampingi Ketua DPRD Kota Magelang Endi Darmawan, dan pejabat lainnya. (dem/hes/ong)