JOGJA – Lembaga perbankan daerah dituntut membuka akses keuagan di daerah-daerah ter-pencil guna mendukung ke-beradaan UMKM. Selama ini, perbankan daerah masih ter-tinggal dibandingkan bank-bank nasional. Bank nasional telah menyalurkan ribuah agennya ke berbagai pelosok.Direktur Utama Bank BPD DIJ, Bambang Setiawan meng-ungkapkan, perbankan daerah masih terbentur aturan menge-nai pembatasan kategori bank yang diperbolehkan menerapkan kebijakan tersebut.
Padahal, pihaknya ingin menerapkan program penyebaran agen sejak lama.”Tahun ini, OJK sudah mem-berikan lampu hijau mengenai branchless banking. Ini untuk memudahkan kami masuk ke pedesaan untuk menaungi UKM yang ada di pelosok,” kata Bambang pekan lalu.
Sebagai gebrakan, tidak tang-gung-tanggung BPD DIJ me-nargetkan 1.000 agen. Agen-agen tersebut nantinya ditempatkan di sejumlah wilayah yang belum pernah disentuh lembaga ke-uangan perbankan. Di mana, untuk penyebaran seribu agen tersebut, BPD DIJ bekerja sama dengan pihak ketiga. Bambang mengungkapkan, BPD DIJ sebenarnya melakukan inkluasi keuangan seperti yang diharapkan OJK. Beberapa wilayah yang sudah didirikan, di antaranya Semin, Krakal, dan Srandakan.”Hanya saja, untuk agen ke pelosok, kami belum melakukan. Sebab, harus merevisi rencana bisnis dulu,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor OJK DIJ Dani Surya Sinaga me-nerangkan, untuk agen perbankan yang tersebar di wilayah pelosok masih didominasi perbankan nasional. Seperti Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Diperkirakan jumlahnya men-capai 3.000 hingga 4.000 agen.”Tahun ini, tugas kami di daerah melakukan sosialisasi, pem-binaan, dan pengawasan pada Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang jumlahnya lebih dari 1.000 LKM,” jelasnya.
Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad saat meresmikan gedung baru OJK beberapa waktu lalu me-nyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat dalam mengakses keuangan. Di anta-ranya, minimnya pengetahuan, masalah agunan, dan jarak yang terlampau jauh.”Salah satu strateginya yang bisa dilakukan dengan mem-buka layanan keuangan tanpa kantor. Caranya, bank merekrut agen di daerah terpencil. Bisa dari kalangan pelaku usaha ke-lontong, penduduk setempat atau lembaga keuangan mikro dan diberi pembinaan,” terangnya.
Menurutnya, pembentukan agen ke wilayah pelosok mampu mempersempit ruang gerak rentenir. Dengan dukungan sumber dana dari perbankan, agen bisa memberikan pinjaman berbunga lebih murah dari rentenir.I menyebut, program pere krutan agen mendapat respons positif dari kalangan perbankan. Tahun ini, ada 17 bank yang melak-sanakan program agen tersebut. Yakni, 10 bank pemerintah, dan sisanya milik swasta.”Ada sekitar 30 ribu agen baru yang masuk sampai pelosok desa,” katanya. (bhn/hes/ong)