FOTO-FOTO: HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
IKHLAS: Selain membersihkan, Subardi harus mengontrol Underpass Tapen setiap saat. Terlebih lagi jika musim hujan seperti sekarang ini.

Kisah dan Pengabdian Subardi, Penjaga Underpass Tapen

Apa yang dikerjakan Subardi, 45, warga Tapen, Hargomulyo, Kokap ini sekilas mudah dan sepele. Namun sebenarnya mengemban tanggung jawab yang cukup berat. Apa yang dia lakukan dengan menjaga Underpass Tapen?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
MUSIM Penghujan seperti saat ini, menjadi tantangan tersendiri bagi Subardi. Karena dia adalah orang pertama yang akan dicari ketika Unerpass Tapen, Hargomulyo ini banjir atau terendam air dan tidak bisa dilalui kendaraan. Dengan tanggung jawabnya itu, dia selalu mengontrol jalan yang menyusur di bawah rel kereta api (KA) itu selama 24 jam. Terlebih lagi saat catu daya pompa air yang berfungsi menguras air saat Underpass Tapen tergenang air mengalami kerusakan. “Dulunya bisa hidup sendiri saat banir mengenangi underpass, namun sekarang saklarnya harus dinyalakan secara manual. Jadi saya harus mengontorlnya setiap saat,” ungkapnya, kemarin (8/2).
Underpass Tapen dibangun disekitar areal persawahan dan perkampungan. Terkadang air meluncur ke titik underpas karena memang menjadi titik terendah jujukan air hujan. Arahnya melintang dari utara ke selatan.Underpass Tapen selalu ramai dilalui warga. Baik warga setempat atau kendaraan luar daerah yang memilih jalan alternatif menuju ke Kulonprogo dan Jogjakarta. Keberadaanya untuk memini-malisasi angka kecelakaan lalu lintas di perlintasan KA. Setidaknya itu pasca dioperasikan-nya rel ganda atau double track yang menghubungkan area PT KAI Daop VI (Jogjakarta) dan Daop V (Purwokerto).
Underpass Tapen dulu sempat bermasalah menjadi langganan banjir dan tidak bisa dilalui. Keluhan sampai protes warga dan pengguna jalan sempat terjadi beberapa lama, hingga kemudian disempurnakan termasuk dilengkapi pompa air dan lancar dilalui. Untuk merawat dan menjaganya, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kulonprogo menunjuk Subardi.
Tidak sekadar menjaga dan mengawasi kondisi underpass dari banjir dan genangan air, Subardi juga diupah untuk merawatnya. Karena itu, lelaki bertubuh tinggi itu selalu mem-bersihkan Underpass Tapen itu setiap hari. Sabit, caping berwarna biru khas DPU, sepato boot, cangkul, dan sapu lidi menjadi perlengkapan yang tak lupa selalu dibawa. “Tugas saya membersihkan underpass ini, mulai dari menyapu ruas jalan, mengeruk sedimentasi tanah di selokan air yang berada di dua ujung underpass. Termasuk membabat rumput jika tumbuh di dinding parapet pelindung underpass,” terangnya.
Pemimpin keluarga yang juga bekerja di perkebunan tebu milik PG Madukismo itu melakukan perawatan pagi hingga siang hari. Sementara kontrol dilakukan setiap malam hari, khususnya saat hujan turun lebat. “Selain menjaga sini, saya juga merawat kebun tebu itu yang berada tepat di sisi selatan Underpass Tapen. Mana pekerjaan pokok bagi saya keduanya sama-sama pokok, karena kedua pekerjaan itu sumber penghidupan keluarga saya,” beberpnya.
Sekian lama dipercaya menjadi penjaga, dia harus menerima sistem upah yang dibayarkan sebanyak tujuh kali dalam setahun. “Ya dalam setahun saya dibayar selama tujuh kali atau tujuh bulan. Jadi kadang saat musim penghujan kerja setiap hari selama 24 jam belum tentu gajian. Sebaliknya saat kemarau, justru bayaran, tetapi tidak kerja alias hanya kontrol-kontrol saja,” katanya.
Subardi menambahkan, saat musim penghujan dia harus mewaspadi luapan air bah dari banjir sungai Kanjangan yang beradara tak jauh dari Underpass. “Sungainya kecil sebetulnya, tapi kalau meluap tidak jarang airnya masuk ke underpass. Jadi kadang sini tidak hujan tapi saat hulu sungai hujan sini dapat banjir kiriman,” tambahnya.
Selain masalah teknis pekerjaan, dia mengaku sering mendapat hujatan serta cemoohan dari pengguna jalan yang tidak sabar. Pernah suatu kali ada pengguna jalan yang tidak sabar dan menghina dirinya tepat di depan muka. “Saat itu banjir merendam underpass. Orang itu sepertinya tertgesa-gesa karena ada satu urusan penting, lantas turun dan mendekati saya bahkan bukan menghina namun lebih pas kalau memarahi saya. Saya dikatakan kerja tidak pecus, hanya meng-habiskan uang negara, (dalam ejaan bahasa Jawa koe kerjo dibayar negoro ora pecus, Red),” ungkapnya. (*/din/ong)