MAGELANG – Tidak hanya tokoh agama yang menyoal pertunjukan sexy dancer dalam event FloweRun Magelang 2015, di Alun-alun, Minggu lalu (8/2). Pendidik yang juga seniman dari Kota Magelang, Gepeng Nugroho menilai, acara tersebut semestinya disaring terlebih dahulu, sebelum ditam-pilkan.
Terlebih, kegiatan tersebut dikemas untuk semua kalangan dan umur. Sehingga, beberapa pihak harusnya melakukan reduksi rundown acara sebelum dihelat.”Kalau sexy dancers tersebut mengandung nilai seni atau apalah namanya, tentunya harus mempertimbangkan segmen audien maupun tempat digelar. Jangan hanya karena melihat sisi entertain atau holy festival, kemudian penyelenggara terus lupa content. Kemudian terus melupakan norma yang ada,” kritik Gepeng kemarin (9/2)
Menurut Gepeng, pertunjukan tersebut jelas sebagai perilaku hedonis. Bahkan, ia menuding sifatnya sebagai kekhilafan entertainer dan moral di Kota Magelang.Gepeng yang saat ini menjabat Wakil Kepala Sekolah SMK 17 Kota Magelang ini melihat, pelan-pelan Kota Magelang sudah berubah sangat hedonis. Me-nurutnya, ini ditunjukkan dengan fakta adanya wanita berpakaian seronok bebas berkeliaran di atas pukul 22.00.”Ujungnya hanya menawarkan syahwat. Sisi lain, banyaknya kegiatan tidak didukung anggaran yang mencukupi dari pemerin-tah daerah,” kritiknya lagi.
Senada juga diutarakan pung-gawa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Magelang Tri Ardiyanto. Menurut Tri, penampilan sexy dancer dan acara FloweRun pada hari Minggu (8/2), sama sekali tidak ada kaitannya dengan budaya Kota Magelang.”Kami hanya mengenal ke senian tradisional maupun modern yang tetap memperhatikan etika maupun moral masyarakat. Hemat saya, kegiatan sexy dancer yang dilihat semua umur di Alun-alun itu sangat tidak tepat,” sergah mahasiswa semester akhir Uni-versitas Tidar (Untidar) ini.
Tri berharap, Pemkot Magelang lebih selektif lagi dalam mem-berikan izin kepada event organizer (EO) menyangkut hi-buran kepada rakyat.”Jangan sampai kehilangan jati diri demi menggenjot sektor pariwisata yang sampai saat ini saja tidak mampu menjadi leading penyumbang PAD terbesar,” paparnya.
Sebelumnya, sejumlah kalangan turut menyesalkan pertunjukan sexy dancer dalam rangkaian kegiatan FloweRun. Para pe-nari wanita dengan pakaian minim tampil dengan gerakan-gerakan cukup panas, diiringi musik ala DJ.Sontak ini men dapat protes keras dari pemuka agama maupun budayawan di Kota Magelang. Pimpinan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) Habib Fata juga kecewa, karena ribuan war-ga disuguhkan pertunjukan tidak mendidik. Lebih lagi, kegiatan itu diadakan di alun-alun yang notabene sebagai pusat kegiatan keagamaan. (dem/hes/ong)