DWI AGUS/RADAR JOGJA
HORMATI PROFESI: Sejumlah lukisan yang dipamerkan komunitas Kucing Hitam di ruang pamer TBY kemarin (9/2).
JOGJA – Modernisasi tidak hanya bercerita tentang hal yang positif. Setidaknya inilah yang coba di-tunjukkan sejumlah mahasiswa Seni Rupa ISI Jogjakarta dalam pameran bertajuk Dunia yang Dilipat. Pameran yang digelar di ruang pamer Taman Budaya Yo-gyakarta (TBY) itu diadakan oleh komunitas Kucing Hitam
.Ketua pameran Siam Candra Artista mengatakan, pameran ini tonggak penting, di mana mampu menggambarkan bagaimana ke-majuan teknologi abad 21 ini. Di sisi lain juga bercerita bahwa mo-dernisasi tidak selamanya positif.”Dunia yang dilipat bisa dikatakan sebagai kritik atas modernisasi. Menggugah masyarakat tentang apa yang terjadi di dunia bahwa dari modernisasi ada juga yang bertolak belakang,” kata Siam kemarin (9/2).
Beberapa karya lainnya bercerita tentang sisi lain modernitas. Bagai-mana dunia saat ini identik dengan keadaan yang serba cepat. Imbasnya, rutinitas manusia seakan tak ber-makna. Karena terpatok pada tenggat waktu dan tidak bisa menikmatinya.
Pameran yang berlangsung hingga hari ini (10/2), tercetus dari buku Yasraf Amir Pilang. Dengan judul yang sama, seakan melipat dunia menjadi serba instan. Pameran inipun menyajikan se-kitar 50 karya seni lukis.”Digambarkan dunia ini seperti kertas yang dilipat. Jika terus dili-pat, konsekuensinya kertas akan menjadi kecil. Saat dilipat, kertas tidak bisa menolak, seakan ada unsur pemaksaan,” kata Siam.
Sang kurator Mikke Susanto menga-presiasi pameran ini. Pameran digagas sendiri oleh mahasiswa yang tergabung dalam Kucing Hi-tam, di mana kelompok ini mewa-dahi para mahasiswa Seni Rupa ISI Jogjakarta angkatan 2013.Pria yang juga berprofesi dosen di ISI Jogjakarta menilai pameran ini wujud dorongan. Tujuannya agar mahasiswa dapat menghor-mati profesi mereka kelak. Sebagai seniman, selain menjunjung ting-gi profesionalitas, juga tetap men-junjung tinggi tujuan hidup.”Profesionalitas terdiri atas ber-bagai keterampilan, seperti keteram-pilan teknik, keterampilan sosial, dan keterampilan manajerial atau finansial. Sedangkan berkarya tidak hanya sekadar keterampilan teknik, namun ada sisi lain yaitu sosial yang perlu diperhatikan,” ungkapnya.
Dengan pameran ini, mahasiswa juga dapat menghadapi dinamika. Seiring waktu perubahan, pasti ter-jadi termasuk dalam berkesenian. Menurut Mikke, dinamika ini men-jadi penyemangat agar karya terus dapat dinikmati oleh penonton.Dari sinilah Mikke mengingatkan para mahasiswanya tentang seleksi alam.
Para seniman muda ini, la-njutnya, diibaratkan sebagai kuncup bunga, sehingga memiliki proses yang masih panjang untuk berkembang.Dalam pameran ini, selain karya dari Siam ada pula dari mahasiswa lain seperti Alfin Rizal, Aurora San-tika, Nesar Ahmad, dan Jessica Justine. Ada pula Bagus Sadewa, Andi Waskito, Galih Hendra S, dan mahasiswa lainnya. (dwi/laz/ong)