DWI AGUS/RADAR JOGJA
REALITAS YANG MIRIS: Pameran Baris Kedua di Bentara Budaya Yogyakarta kemarin (9/1
JOGJA – Masuknya budaya popular di Asia Tenggara berim-bas pada budaya asli. Hal inilah yang terlihat dalam pameran Baris Kedua di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Pameran berlangsung hingga Rabu (11/2) menyajikan realitas yang terlihat miris.Pameran menampilkan bagai-mana budaya popular mulai mengikis sifat ketimuran.
Mulai gaya hidup, pola pikir hingga bentuk tatanan sosial. Budaya yang seharusnya berdampingan, justru terlihat menjajah dan le-bih dominan dari budaya asli.”Imbasnya juga dari perubahan dan perkembangan konsumsi bentuk media yang baru sejak 1980-an. Media pun menjadi kunci utama segala informasi tersebar cepat ke publik tanpa harus bertatap muka,” ujar salah seorang seniman Agni Saras-wati kemarin (9/2).
Menurutnya, kehadiran media dapat mengalihkan audiens dari realita. Beberapa fakta rea-lita dapat dikaburkan lewat ci-traan kehidupan yang bahagia. Ini terwujud dalam ragam ben-tuk film drama dan petualangan.Alhasil, bentuk konsumtif ini menyebabkan kekosongan jiwa atas makna spiritual, moralitas dan kemanusiaan. Agni men-contohkan bagaimana majalah fashion membangun persepsi mengenai gaya hidup ideal yang mewah dan borjuis.
Ada juga bagaimana pembe-ritaan sehari-hari mengenai kriminal dianggap hal biasa. Dalam citraan media, kisah-kisah pembunuhan justru diang-gap sebagai suatu kebanggaan dan kemenangan. Hal ini, men-urutnya, tidak lagi dilihat seba-gai sesuatu yang mengerikan.”Gejala tersebut akibat dari keberadaan manusia yang hidup di tengah-tengah gemerlapnya citraan. Melihat sebuah feno-mena dengan kacamata yang tidak sesuai realitas. Bisa dibilang hilangnya sisi kemanusiaan ma-nusia,” kata Agni.
Potret lain dari masuknya bu-daya asing adalah bentuk sosok pahlawan. Saat ini figur pahlawan cenderung didominasi sosok asing. Potret pahlawan lokal mau tidak mau tenggelam karena kurang tertariknya generasi muda.Ketidaktertarikan ini, menurut Agni, karena tampilan pahlawan asing yang lebih kontemporer. Seperti Superman unggul dalam kostum yang atraktif dan teknik visualisasi bergaya anak muda. Mitos yang diwakili Superman pun digambarkan dalam setting cerita modern yang dinamis.”Gaya perwujudan tokoh pahla-wan di Indonesia merupakan ciri khas asli. Sayangnya ada yang beranggapan itu kuno dan kaku. Padahal ini merupakan karakter yang kuat bagi Indonesia. Ke depan kondisi ini ditakutkan tidak dikenalinya budaya asli oleh generasi muda di masa,” tambah Agni.
Produk lain yang turut ber-pengaruh adalah video game. Dalam permainan ini, lanjut Agni, pemain hanya menjalan-kan prosedur permainan. Sisi imajinasi pun tidak lahir selama proses permainan berlangsung.Agni pun beranggapan permai-nan yang ideal adalah adanya interaksi langsung, di mana ini dapat melahirkan komunikasi dan juga sosialisasi individu. Se-hingga permainan ini tidak hanya bersenang-senang, namun mem-bentuk interaksi yang ideal. “Meski permainan modern tidak sepenuhnya salah, jangan sampai kita meninggalkan akar kita. Permainan pun memiliki ragam nilai luhur dan kearifan lokal. Mulai dari pola permainan, perlengkapan hingga tembang-tembang pengiringnya,” ung-kapnya.
Pameran Baris Kedua meru-pakan kelanjutan pameran Story Telling yang diadakan di Sangkring Art Project pada 2014 lalu. Peserta pameran merupa-kan mahasiswa ISI Jogjakarta angkatan 2008. Selain Agni, ada Arif Budiyarta, Ajar Ardianto, Lukman Edi S, Dedi Irawan, Haqiqi Nur C, Mieke Natalia, Fitria Darmayanti, Ragil Surya M, Nur Wiyanto, Chrisna Banyu S, Syamsul Maarif, dan Lingga Ami. (dwi/laz/ong)