ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
TEGAS:Kepala Disnakertrans Susanto (kanan) saat audiensi dengan PT Dong Young Tress Indonesia dan Dinas Kesehatan di Gedung DPRD kemarin (9/2).
BANTUL – Janji manajemen PT Dong Young Tress Indonesia untuk menaikan anggaran jatah makanan bagi karyawan lembur masih sebatas isapan jempol. Ternyata, anggaran untuk membeli satu nasi bungkus bagi karyawan lembur masih Rp 5000. Jatah anggaran pengadaan nasi bungkus ini sama persis dengan harga nasi bungkus yang mengakibatkan keracunan masal pada November tahun lalu.
Hal tersebut terungkap dalam audiensi antara manajemen PT Dong Young Tress Indonesia, Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) dan Komisi D di gedung DPRD Bantul, kemarin (9/2).
Kepala Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) PT Dong Young Tress Indonesia Agung Sutrisno mengakui harga satu nasi bungkus yang mengakibatkan keracunan masal pada Kamis (5/2) lalu seharga Rp 5000. Kala itu manajemen memesan sebanyak 940 nasi bungkus kepada Ridho katering untuk diberikan kepada seluruh karyawan yang masuk lembur. “Sebelumnya kami juga pernah mencoba pesan di Gubuk katering selama dua hari,” terang Agung.
Hanya saja, harga yang dipatok katering yang terletak di Ketandan, Banguntapan ini dinilai terlalu mahal, yaitu Rp 6.500. Manajemen sudah pernah menawar harga paket nasi yang dibungkus dalam dus ini. Tetapi, tawaran Rp 5.000 yang diajukan manajemen untuk satu nasi bungkus ini ditolak pihak katering. Alhasil, beralihlah pilihan manajemen ke Ridho katering yang menyanggupi Rp 5.000 per paket.
Manajemen PT Dong Young Tress Indonesia pasca insiden keracunan masal pada 20 November tahun lalu pernah berjanji akan menaikan anggaran pengadaan nasi bagi karyawan lembur. Iktikad baik ini disampaikan pihak manajemen kepada Komisi D yang menggelar inspeksi mendadak di pabrik yang terletak di Pedukuhan Banyakan, Sitimulyo, Piyungan ini. “Nanti akan kami naikkan,” janjinya.
Selain menaikan anggaran, manajemen juga berjanji tak akan sembarangan lagi memilih katering. Kali ini manajemen akan benar-benar menunggu arahan dari Dinkes, Disnakertrana, serta Polda DIJ. Saat memilih Ridho katering, Agung mengakui manajemen terkesan tergesa-gesa. Ini karena orderan pemesan rambut palsu menumpuk.
Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Bintarto mengusulkan pihak manajemen tak hanya menjalin kerjasama dengan satu katering. Ini untuk meminimalisasi angka keracunan bila memang terjadi insiden lagi. Kepala Disnakertrans Susanto meminta pihak PT Dong Young Tress Indonesia menghentikan kebijakan lembur sampai dengan batas waktu yang telah disepakati oleh dinas. Ada dugaan keracunan masal yang menimpa para karyawan ini karena kondisi mereka lemah karena terlalu banyak mendapatkan jatah lembur. “Meskipun saya cek jatah lembur di sana masih standard,” jelasnya.
Menurutnya, alangkah baiknya PT Dong Young Tress bekerjasama dengan katering asal Bantul. Pertimbangannya, selain mudah pengawasannya, penunjukan katering asal Bantul juga dapat membantu perekonomian masyarakat.Senada diungkapkan Wakil Ketua Komisi D Paidi. Dia mengusulkan beban jatah lembur bagi karyawan dikurangi. Lemahnya kondisi fisik dan pikiran karyawan dinilai juga dapat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh mereka. (zam/din/ong)