JOGJA – Polresta Jogja tak puas hanya dengah mengungkap kasus pemalsuan do-kumen yang melibatkan dua tersangka. Karena dua tersangka Atho, 35, dan Euwon, 35, itu telah mengaku membuatkan KTP dan ijazah palsu, maka bukan tidak mungkin ada tersangka lain, utamanya yang telah membeli atau memesan ijazah palsu.”Meski hingga saat ini, penyidik belum mendpat pengakuan tentang keterlibatan pejabat sebagai pemakai ijazah palsu, namun saat ini penyidikan kami sudah mengarah ke sana,” kata Kapolresta Jogja Kombes Pol R Slamet Santoso kepada Radar Jogja ke-marin (9/2)
Ditegaskan, pascaterbongkar-nya praktik pembuatan dokumen palsu beberapa hari lalu, penyi-dik mengarahkan pendalaman tentang kemungkinan adanya pejabat yang memesan dokumen palsu tersebut. Namun, kem-bali ditegaskan bahwa sejauh ini, penyidik masih menelusuri siapa-siapa yang memesannya. “Kasus masih terus kami da-lami. Ada tidaknya pejabat yang memesan dokumen itu, kami masih selidiki siapa saja peme-sannya,” tandas Slamet.
Penyelidikan diarahkan pada dugaan keterlibatan pejabat, cukup beralasan. Sebab, dari temuan barang bukti atas kasus ini, kepolisian mengamankan ratusan stempel dinas instansi dan Perguruan Tinggi di DIJ. Apa lagi ada pengakuan tersangka, sudah ada yang memesan ijazah palsu tersebut.Sementara itu, untuk penyidi-kan lebih lanjut, saat ini Pol-resta Jogja melalui Satreskrim sedang meminta keterangan pemilik perusahaan tempat ke-dua tersangka bekerja, PT RSS yang berada di kawasan Gi-wangan, Kota Joga. “Bisa saja dia (pengelola) PT terlibat dalam kasus ini. Kami mintai kete-rangan sejauh mana perannya,” ujar Slamet.
Seperti diberitakan sebelumnya, Polresta Jogja meringkus dua tersangka, Atho, 35, dan Euwon, 35, keduanya warga Bantul, ka-rena melakukan pemalsuan dokumen berupa ijazah, KK, KTP, dan beberapa dokumen lainnya. Kejahatan itu membuahkan barang bukti ditemukannya ra-tusan stempel dan berbagai per-lengkapan lainnya. Kedua ter-sangka dijerat pasal 264 KUHP dan 263 KUHP tentang pemal-suan dokumen. (fid/jko/ong)