FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
KEBEBASAN PERS:Sejumlah mahasiswa dan kalangan seniman memperingati hari pers nasional dengan melakukan aksi di depan patung Pangeran Diponegoro di Alun-alun Kota Magelang, kemarin (9/2).
MAGELANG – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) setiap 9 Februari selalu diperingati insan pers di seluruh Indonesia. Di Kota Magelang, peringatan HPN juga diperingati elemen masyarakat. Sebelumnya, masyarakat di Kampung Potrosaran yang memperingati HPN tahun ini. Kini, giliran mahasiswa di kota sejuta bunga melakukan aksi yang sama.
Belasan aktivis yang tergabung dalam Mahasiswa Peduli Pers (Mapers) Magelang meng-gelar aksi diam, memperingati HPN di Alun-Alun Timur Kota Magelang kemarin (9/2).Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan payung hitam. Kegiatan ini sebagai perwujudan protes terhadap keberadaan pers yang dirasa masih terbelenggu.
Aktivis mahasiswa yang berasal dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mata Untidar dan LPM 21 UM Magelang mengawali kegiatan dengan berorasi. Bahkan, mereka menuntut agar kasus-kasus yang menimpa profesi wartawan segera terungkap. Seperti kasus Udin dan jurnalis lainnya
“Pers selama ini belum merdeka. Masih banyak kasus kekerasan yang menimpa wartawan. Lem-baga pemerintah yang belum terbuka sepenuhnya pada pers dan publik. Kami beraksi di HPN ini untuk menyuarakan suara rakyat, bahwa pers harus dibela,” tegas Ketua LPM 21 UM Magelang Wahyu Setyawan Nugroho di sela-sela orasi.
Aksi tersebut dilakukan se bagai bentuk kepedulian mereka ter-hadap nasib sejumlah wartawan yang seringkali mendapat per-lakuan kekerasan. Selain itu, aksi ini juga dilakukan bertepa-tan dengan peringatan HPN ke-30.Di Jalan A Yani Alun-alun Ut-ara, para mahasiswa berjalan kaki sembari membagikan se-lebaran berisi tuntutan agar pemerintah mengembalikan kebebasan pers.
Aksi ini juga sebagai perwujudan keprihati-nan mahasiswa, karena melihat kinerja insan pers belum se-penuhnya merdeka.”Ini terbukti masih belum trans-parannya para pejabat pemerin-tahan dan instansi negara dalam memberikan informasi pada publik. Parahnya lagi, masih banyak kasus kekerasan terhadap wartawan yang belum terungkap sampai saat ini,” kritik Koordi-nator Lapangan (Korlap) Ruly Adi.
Pemimpin Umum LPM Mata Untidar Wiwid menambahkan, dengan aksi diam ini, ia ber harap smakin banyak masyarakat, pe-merintah, instansi, maupun negara bisa memahami peran pers.”Tak hanya sekadar pemberi kabar, karena pers juga sebagai pilar demokrasi, mengadvokasi publik dari diktatoristik pemerin-tahan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, belasan aktivis mahasiswa ini benar-benar tidak berbicara satu patah kata pun, selama 15 menit. Sembari mengenakan payung hitam dan juga pakaian serba hitam, mereka berdiri te-pat di depan ornamen Magelang.Aksi tersebut menyita per hatian beberapa warga. Mereka ter-heran-heran saat mahasiswa tersebut memberi mereka se-lebaran tanpa bicara sedikitpun. Aksi berjalan lancar, tanpa pe-ngawalan terlalu ketat dari apa-rat kepolisian. (dem/hes/ong)

Mengadu pada Patung Diponegoro

TIDAK hanya mahasiswa, kalangan seniman juga mangayubagyo hari pers nasional (HPN). Dengan membawa selendang warna merah dan putih, Eka Pradaning mengadu pada patung Pangeran Diponegoro yang berdiri kokoh di Alun-alun Kota Magelang, kemarin (9/2).
Penari dari Sanggar Tapak Liman itu memanjat menaiki patung sang jenderal sembari terus menari gemulai.Bukan tanpa sebab, pengajar di SMA Subhanul Waton API Tegalrejo, Kabupaten Magelang itu sampai memanjak ke atas patung Pangeran Diponegoro berkuda. Pada patung tersebut, ia mengadukan nasib kebebasan pers yang masih terbelenggu dan belum ada kepastian kapan kemerdekaan itu akan terwujud.Dari bawah patung, pria kelahiran 10 Mei 1971 ini mulai menari. Ia menari dengan lemah gemulai dan sesekali tampil garang. Perlahan, ia mulai memanjat patung setinggi lebih dari 10 meter itu
Tepat di kaki kuda sang pangeran, ia melilitkan selendang merah-putih sambil terus me-nari.”Sengaja saya memanjat patung Pangeran Diponegoro untuk mengadu, sekaligus mengajak seluruh insan pers tanah air meneladani semangat perjuangan beliau,” ajaknya, usai performing art dalam rangka mem peringati HPN.
Selesai menari di atas patung, ia melanjutkan aksinya di hadapan para aktivis pers mahasiswa dari kampus Universitas Muham-madiyah (UM) Magelang dan Universitas Tidar (Untidar), serta wartawan. Mereka berkumpul di panggung “Magelang” untuk berorasi menyuarakan aspirasi.Seperti Eka Pradaning, para mahasiswa ini pun menyatakan kegelisahannya pada kebebasan pers yang masih terkungkung kekuasaan. Bahkan, mereka menuntut agar kasus-kasus yang menimpa profesi wartawan se-gera terungkap.
Seperti kasus Udin dan jurnalis lainnya.Pada kesempatan tersebut, segenap wartawan yang bertugas di wilayah Kota Magelang ikut turun ke jalan. Sembari mem-bawa sebuah kotak, mereka menggelar aksi penggalangan dana bagi korban tanang longsor di Kecamatan Salaman, Ka-bupaten Magelang.”Seperti kami tahu, belum lama ini beberapa titik di Salaman longsor yang menimpa korban warga. Salah satunya, rumah dari wartawan media lokal. Di peringatan HPN ini, kami ingin sekaligus memberi bantuan untuk meringankan bebannya,” tegas Wiwid Arif, salah satu peserta aksi. (dem/hes/ong)