GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
PEMBUKAAN KUII VI: Dari kiri, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Umum MUI Din Syamsudin, Wapres Jusuf Kalla, dan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X di Pagelaran, Keraton Jogja, kemarin (9/2).
JOGJA – Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI resmi dibuka kemarin (9/2) di Pagelaran, Ke-raton Jogja. Presiden Joko Widodo yang rencana-nya membuka acara ini mewakilkan ke Wapres Jusuf Kalla untuk hadir dan memukul gong seba-gai tanda pembukaan KUII.Di hadapan ulama, wakil perguruan tinggi Islam, kerajaan Islam, dan pondok pesantren, JK mengim-bau agar Islam di Indonesia sesuai khittahnya. Islam yang mengedepankan jalan tengah.
“Sejarah Islam di Indonesia berbeda dengan di Timur Tengah,” kata Wapres yang juga Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini.
JK mengatakan, seharusnya umat Islam memi-liki peran penting dalam memajukan bangsa In-donesia. Sebab, umat Islam saat ini masih terbesar se-Indonesia dengan jumlah penganut 207 juta jiwa
“Dari negara Islam di dunia, Indonesia cukup baik. Meski tidak terbaik. Islam di Indonesia moderat karena dibawa peda-gang,” imbuhnya.Kondisi ini, kata JK, merupakan kelebihan dari umat Islam di Indonesia. Apalagi dengan latar belakang pedagang umat Islam di Indo-nesia. “Abu Bakar, Usman Bin Affan dan Rasulullah sendiri hidup di pasar,” imbuh pengu-saha ini.
Kondisi inilah yang menurut JK seharusnya bisa dimaksimal-kan. Ulama juga berkewajiban untuk membangun kehidupan masyarakat. “Fiddun ya wal akhirah. Jangan hanya akhirat-nya yang selalu dilaksanakan,” urai JK.
Ia berharap, KUII ke-VI ini mampu menitikan sejarah baru. Sesuai dengan tema KUII kali ini, politik dan ekonomi. “Kalau politik di Indonesia tidak ada masalah. Sepuluh ketua umum partai, semuanya sudah haji,” imbuh dia yang langsung mem-buat geer suasana.
Terpenting, lanjut Wapres, adalah aspek ekonomi harus dikuatkan. Kajian ibadah umat Islam harus digantikan dengan pelatihan pertanian. “Kalau is-tighotsah atau dzikir, banyak. Tapi kalau pelatihan pertanian, tidak ada minat,” kelakarnya lagi.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr Din Syamsudin menambahkan, dengan sejarah KUII di Jogja-karta, ia harapkan bisa terulang lagi. “Masa depan umat Islam dan bangsa Indonesia tergantung dari umat Islam di Indonesia,” jelasnya.Ketua Umum PP Muhamma-diyah ini menegaskan, KUII tahun ini harus bisa menghasil-kan kesepakatan riil untuk mewu-judkan Indonesia yang berkeadi-lan dan berperadaban.

Pentingnya Terapkan Sistem Ekonomi Syariah

Ketua Dewan Perwakilan Dae-rah (DPD) Irman Gusman meng-ingatkan pentingnya memper-hatikan perkembangan eko-nomi Indonesia, khususnya peningkatan tentang ekonomi umat Islam. Apalagi Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar.
Hal itu disampaikan Irman saat menjadi pembicara dalam Kon-gres Umat Islam Indonesia (KU-II) VI di Inna Garuda Jogja, ke-marin (9/2). Persoalan kemiskinan di Indonesia masih menjadi pe-kerjaan utama pemerintah. Data BPS pada tahun 2014 me-nyebutkan, tingkat pengangguran mencapai 7,9 juta orang, lalu setengah menganggur 13,5 juta. Praktis ini menjadi catatan agar bisa mengatasi persoalan ini.
“Kesenjangan ekonomi antar-wilayah di Indonesia juga cukup tinggi. Dengan luasan wilayah dan banyaknya jumlah pendu-duk, tentu masalah kemiskinan menjadi agenda utama agar se-gera diatasi,” ujarnya.
Dengan kondisi ini, Irman menganggap ekonomi syariah menjadi salah satu strategi jitu untuk mengatasi persoalan. Apalagi, ekonomi syariah sudah banyak diterapkan di beberapa negara. Misalnya di Malaysia, justeru nasabah syariah 52 per-sennya merupakan masyarakat nonmuslim
.”Seperti halnya di Eropa dan Amerika, kebijakan ekonomi tidak lagi ke material saja, namun lebih pada ke kebahagiaan ma-syarakatnya. Saya rasa ekonomi syariah menjadi salah satu cara mengatasi persoalan di negara kita,” kata dia. (eri/fid/laz/ong)