DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
MODAL SEMANGAT: Berawal dari penasaran dan mencoba eksperimen, kini snack rumput laut buatan Hendi Awanda telah masuk lebih dari 120 toko di Indonesia.

Pasok 120 Toko, Per Hari Produksi 400 Bungkus

Berangkat dari gemar camilan rumput laut, Hendi Avanda bereksperimen dan memutuskan merintis bisnis snack rumput laut. Bermodal tabungan dan pinjaman teman, kini Panda Rumput Laut pun mengisi display berbagai toserba, sejajar dengan produk luar negeri.
DEWI SARMUDYAHSARI, Sleman
JIWA wirausaha rupanya sudah mendarah daging dalam diri pria kelahiran, Batang, Jawa Tengah, 2 Februari 1992 ini. Semasa aktif berkuliah di Fakultas Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), pikirannya tidak hanya bisa terfokus pada kuliah. Kerja sambilan pun dilakoni, juga beberapa usaha kecil yang pada akhirnya selalu gulung tikar.”Karena waktu itu niatnya juga buat bantu biaya kuliah. Sempat bikin ketan durian yang aku jual di depan GOR UNY, tapi dalam sebulan hanya laku tiga porsi. Habis itu aku juga sempat buka aksesoris komputer sama teman-teman, tapi hanya bertahan tiga bulan,” ujarnya kepada Radar Jogja (9/2).
Kegagalannya tidak membuat patah arang, tapi justru semakin menyulut ide-ide kreatifnya muncul ke permukaan. Dari oleh-oleh seorang teman yang dibawa pulang dari Korea, Vanda pun memiliki angan-angan mem-produksi sendiri. Snack rumput laut yang ada di pasaran saat itu memang banyak berasal dari negeri ginseng
“Saya pun bereksperimen mem-buat snack rumput laut buatan Indonesia,” ujar pemilik Panda Rumput Laut ini.Snack rumput laut bikinannya tidak langsung bisa diproduksi saat itu. Hampir di sepanjang tahun 2011, Vanda berkeliling Indonesia untuk mencari bahan baku, yakni rumput laut. Dari banyak jenis rumput laut, yang dinilai pas untuk snack-nya yakni jenis porphyra. Dan sayangnya, setelah berkeliling beberapa daerah di tanah air, Vanda pulang dengan tangan kosong.Mulai dari pantai selatan di Gunungkidul, Kepulauan Seribu, Jepara, Pacitan, dirinya tidak menemukan jenis rumput laut yang dicari.
Namun begitu ia ke wilayah Indonesia timur, rumput laut porphyra sempat ia temui. Tapi kualitasnya belum cukup baik untuk dijadikan snack dan dipasarkan luas.”Jalan satu-satunya ya saya impor. Hingga kini juga masih impor,” ujarnya yang men-datangkan rumput laut porphyra setidaknya hampir satu ton untuk kebutuhan produksi selama satu bulan.Menempati rumah kontrakan di Perum Graha Palem Indah A10, Condongcatur, Sleman, Panda Rumput Laut pun di-produksi setiap hari. Mulai dari pengolahan hingga pengemasan. Setiap harinya, produksi snack ini mencapai 400 bungkus.
Pemasarannya sudah masuk 28 toserba di Jogjakarta dan be-berapa kota lain seperti Bandung, Bangka, Lampung, Malang, Solo, Magelang yang disebar dengan total lebih dari 120 toko.Menggunakan rumput laut porphyra, Vanda bisa mem-produksi snack rumput laut yang beda dari buatan Korea. Selain teksturnya lebih tebal, snack rumput laut miliknya juga tidak menggunakan MSG. Sehingga, snack vegetarian ini sehat dengan kandungan gizi yang ada.”Harga juga lebih murah di-banding produk dari Korea yang sudah ada,” ujarnya yang sudah mendapat izin kesehatan dari Disperindagkop DIJ.
Dibantu enam karyawan, kini Vanda terus mengembangkan usaha snack rumput lautnya. Meski awal terjun dirinya harus menyisihkan uang tabungan dan meminjam uang dari beberapa teman. Tiga varian rasa yang dimiliki Panda Rumput Laut yakni original, barbeque dan spicy belum cukup. Dirinya masih dibuat penasaran untuk menciptakan rasa yang khas Jogja, yakni rasa gudeg. Namun itu masih berproses untuk men-dapat paduan komposisi yang pas antara rumput laut dan gudeg.
Tak hanya ingin mengembang-kan varian rasa, Vanda juga me-nyimpan mimpi untuk mem-budidayakan sendiri rumput laut porphyra, agar tidak meng-andalkan impor tapi bisa me-manen sendiri. Mengingat ke-butuhan bahan baku terus me-ningkat, untuk memenuhi jumlah produksi.”Karena petani rumput laut kita sebenarnya bisa membudi-dayakan porphyra. Selama ini rumput laut jenis ulva yang biasa dibuat es, sudah cukup ber-kembang. Nantinya hasil budidaya tidak hanya untuk produksi Panda, tapi juga produk makanan lain yang terbuat dari rumput laut,” ujar Vanda. (*/laz/ong)