GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
KH Ma’ruf Amin, Prof Din Syamsudin, Jokowi, HB X dan Mensesneg Pratikno
JOGJA – Agenda lima tahunan yang mem-pertemukan umat Islam, Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI, resmi berakhir kemarin (11/2). Penutupan KUII di lakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Inna Garuda Hotel Jogja, tempat kongres digelar.Dalam KUII VI ini menghasilkan tujuh rekomendasi yang kemudian disebut sebagai Risalah Jogjakarta.
Selain itu, peserta KUII juga mengamanahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk membentuk badan pekerja sebagai pengawas ketujuh rekomen-dasi itu. “Bulan depan, badan pekerja (BP) Insya Allah terbentuk,” ujar Ketua Umum MUI Prof Dr Din Syamsudin usai penutupan kongres kemarin.Untuk mengawal ketujuh rekomendasi itu, BP akan berada di dalam struktural MUI. Berbeda dengan KUII III, IV, dan V yang merupakan gabungan dari ormas Islam. Al-hasil, badan bekerja itu tak bisa mengawasi implementasi dari rekomendasi KUII
“Badan pekerja ini yang nanti akan mengawal dan me-nyampaikan rekomendasi ke-pada seluruh stakeholder yang ada,” imbuh Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.Berdasarkan hasil musyawarah, ada tujuh poin rekomendasi. Ketujuh rekomendasi itu adalah: Menyeru seluruh komponen Umat Islam bersatu padu, me-rapatkan barisan, mengembang-kan kerja sama strategis ormas, partai politik untuk menguatkan Indonesia yang berkeadilan dan berperadaban. Kedua, menyeru penyeleng-gara negara, dan kekuatan na-sional, akhakul karimah, mening-galkan menghalalkan segala cara. Menyeru penyelenggara ne-gara berpihak kepada masyara-kat kelas bawah, ekonomi ke-rakyatan.
Menata ulang SDA, meniadakan regulasi dan ke-bijakan yang bertentangan konstitusi. Menyeru member-dayakan diri, meningkatkan kapasitas SDM ekonomi. Me-ningkatkan kaum perempuan terlibat di ekonomi. Mewaspadai, menghindari budaya yang tidak sesuai dengan umat Islam. Pergaulan bebas, peningkatan pendidikan akhlak di sekolah dan keluarga dan uswah khasanah. Menyerukan pemerintah untuk menghentikan regulasi yang membuka pintu lebar-lebar budaya.Menyatakan keprihatinan, tata ruang landscape daerah meninggalkan keislaman.
Me-minta penyelenggara negara menata ulang regulasi lands-cape. Dengan keprihatinkan ke-hidupan umat Islam di Asia yang menjadi korban diskriminatif, meminta negara yang bersang-kutan dan menyeru pemerintah memberikan bantuan. Presiden Joko Widodo dalam pidatonya menjelaskan, Indo-nesia bisa menjadi role modele negara muslim di dunia. Sebab, dengan kondisi penduduknya yang terbesar menganut agama Islam, Indonesia sangat men-junjung tinggi untuk saling menghargai. “Toleransi kita sangat baik,” ujar Jokowi yang disambut tepuk tangan.
Mantan wali kota Solo ini menambahkan, pilihan umat Islam yang selalu memilih jalan tengah, me rupakan bukti dari kedinamisan Indone-sia. Ini menjadi nilai lebih di tengah kondisi negara muslim di dunia yang tengah berkecamuk. “Saling menghormati kita sangat baik,” tandasnya. (eri/laz/ong)