ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
CUKUP MULIA: Sri Kuswanti terus berjuang untuk memberdayakan ratusan bidan di Kabupaten Magelan

Berjuang Memberdayakan Ratusan Bidan

Cita-cita Sri Kuswanti hanya satu, ingin mengangkat bidan menjadi profesi yang luhur dan patut dihargai masyarakat. Sejauh ini, menurutnya, bidan masih dianggap sebelah mata. Bidan tak lebih sekedar profesi sampingan yang tidak mampu menghidupi seseorang.
ADIDAYA PERDANA, Mungkid
SEMANGAT yang ingin dibawa Wanti-pang-gilan akrab Sri Kuswanti adalah berjuang mem-berdayakan ratusan bidan-bidan di Kabupaten Magelang. Menurut Ketua Ikatan Bidan Indo-nesia (IBI) Kabupaten Magelang ini, menjadi bidan dengan standar kompetensi tinggi. Misi itulah yang mendorongnya, untuk terus berjuang.Keinginan Wanti tidak berlebih. Ia mera-sakan saat kesulitan bertugas di tempat ter-pencil. Terutama selama bertugas menjadi bidan di beberapa pelosok desa di Kabupaten Magelang
Sekitar tahun 1986, Wanti per-nah bertugas di Puskesmas Gi-ripurno, Kecamatan Borobudur. Ketika itu, Wanti hanya seorang diri menjadi bidan yang harus menangani puluhan pasien ibu hamil di wilayah perbukitan Menoreh.Tidak jarang, Wanti harus naik turun bukit, menyeberang sung-ai, tidak peduli siang ataupun tengah malam. Ia harus me-nangani pasien yang hendak melahirkan. Saat itu, belum ada listrik, pun fasilitas kendaraan yang bisa dipakai kecuali motor butut miliknya “Ketika itu, saya harus me-nangangi ibu yang sudah me-lahirkan bayi. Tetapi plasentanya masih tertinggal di rahim. Saya juga pernah mendapati ibu dan bayi yang meninggal, akibat sa-lah penanganan oleh dukun beranak. zaman dahulu masy-arakat masih percaya dukun daripada tenaga medis,” ungkap Wanti, baru-baru ini.
Saat itu, Wanti pertama kali berceramah pada seluruh warga dan tokoh masyarakat Borobudur. Termasuk para dukun, pentingnya penanganan persalinan dengan benar sesuai dengan ilmu medis. Tidak disangka, banyak warga dan dukun-dukun yang mau kursus belajar tentang persalinan. Salah satu pengalaman berkesan bagi Wanti, saat terjadi erupsi Merapi 2010. Gubernur Jawa Tengah yang saat itu dijabat Bibit Waluyo memerintahkan seluruh tenaga medis termasuk bidan tidak turun, karena harus turut menyelamatkan warga.”Ada banyak bidan yang ada di lereng Merapi, seperti di Ke-camatan Srumbung dan Dukun. Mereka kebingungan. Di satu sisi, mereka harus menyelamat-kan pasien. Di satu sisi, ketaku-tan dengan bencana dahsyat itu. Saya bilang ke mereka, jangan jadi pahlawan kesiangan, se-gera selamatkan diri setelah pasien dievakuasi,” ulas istri La-ely Sanjoko ini.
Seiring perjalan waktu, Wanti semakin yakin, profesi bidan bisa memberikan pelayanan lebih bagi masyarakat. Meski Wanti tidak menampik masyarakat masih memandang sebelah mata dibanding dengan tenaga medis lainnya yang lebih spesifik.Ibu kelahiran 2 Januari 1959 itu tidak putus asa. Ia lantas mendata seluruh bidan yang ada di Kabupaten Magelang. Kemu-dian, ia mengajak mereka meng-gelar berbagai seminar hingga pelatihan keahlian. Saat ini, ter-catat ada 506 bidan tersebar di Kabupaten Magelang. Sekitar 125 orang di antaranya menjadi bidan delima.
Sampai saat ini, wanti belum puas dengan keaktivan organi-sasinya. Menurutnya, ratusan bidan belum terwadahi dalam organisasi yang terstruktur. Ka-renanya, Wanti bertekad meng-aktifkan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Magelang. Pada 2003 – 2009, Wanti se-cara aklamasi dipilih menjadi ketua IBI Kabupaten Magelang, hingga terpilih kembali pada periode berikutnya. Sayang, ungkap Wanti, IBI Kabupaten Magelang belum memiliki ge-dung. Tidak jarang, Wanti dan anggota IBI lainnya disia-sia. Bahkan, oleh instansi pemerin-tahan yang meminjamkan gedung untuk kegiatan IBI. Sejak itu, ibu dua putri ini ber-tekad membangun gedung mi-lik IBI Kabupaten Magelang. “Waktu itu, kami ingin beli tanah seharga Rp 115 juta. Kami hanya punya uang kas Rp 45 juta. Kami nekat beli tanah itu. Kami ajak pengurus patungan dan bersyu-kur mereka bersedia hingga akhirnya tanah itu terbeli,” kata Wanti, yang kini menjabat se-bagai Kabid Sumber Daya Kese-hatan Dinas Kesehatan Kabu-paten Magelang.
Tanah seluas 850 meter per-segi berhasil dibeli. Kemudian, dibangun gedung IBI Kabupaten Magelang lantai tiga dan dires-mikan Bupati Magelang Singgih Sanyoto pada 24 Juni 2013.Wanti masih memiliki harapan lain. Dengan adanya gedung tersebut, anggota IBI tidak per-lu lagi susah payah menyewa gedung lain dalam menyeleng-garakan kegiatan pelatihan. “Kami membuat kebijakan iuran sukarela, setiap anggota Rp 10 ribu. Uangnya untuk me-nyicil membangun gedung hingga perawatannya,” ungkap Wanti, yang pernah mendapat predikat Bidan Teladan Kabu-paten Magelang pada tahun 1986.
Sempat itu diprotes. Upaya Wanti tidak berjalan mulus. Ba-hkan, ia pernah didemo ratusan bidan anggota IBI Kabupaten Magelang, lantaran kebijakan iuran yang dinilai membebani anggota. “Saya ajak seluruh anggota IBI berkumpul di GOR Gemilang Kabupaten Magelang. Di sana saya katakan saya siap mundur. Saya juga katakan pada mereka, kapan lagi bidan punya gedung sendiri yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan kom-petensi diri. Saya beri motivasi mereka hingga akhirnya sepakat dan kompak membangun IBI,” urai Wanti. (*/hes/ong)