HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
MERUSAK: Puluhan botol miras dengan berbagai merek termasuk miras oplosan yang berhasil disita petugas Satpol PP saat melakukan razia di Wates, Selasa (10/2) malam.
KULONPROGO – Satpol PP Kulonprogo berhasil mengamankan puluhan botol minuman keras (miras) berbagai merek dan oplosan dalam razia yang digelar, Selasa (10/2) malam. Jumlah miras yang berhasil disita kali ini jumlahnya paling banyak di-banding razia sebelumnya.Razia dimulai dari warung kelontong di Pedukuhan Gunung-gempal, Giripeni, Wates. Di tempat itu petugas berhasil mengamankan 61 botol miras. Serta satu setengah galon miras oplosan yang di simpan di balik pintu dan di dalam lemari pakaian kamar bagian belakang rumah.
Sebanyak 61 botol miras yang berhasil disita itu rinciannya, delapan botol miras golongan A atau berkadar alkohol kurang dari 5 persen jenis bir. Kemudian 21 botol miras golongan B dengan kadar alkohol lima hingga 20 persen jenis anggur kolesom. Sisanya 12 botol miras golongan C kadar alkohol lebih dari 20 persen jenis vodka, serta 20 botol dan satu setengah galon miras oplosan.”Petugas sempat melakukan penggeledahan lantaran pemilik tidak mengaku menjual miras,” terang Kepala Satpol PP Kulonprogo Duana Heru, kemarin (11/2).
Duana menjelaskan, operasi penertiban kali ini digelar setelah ada informasi dari masyarakat. Proses pengintaian dilakukan selama dua hari, setelah dipastikan menjual miras, langsung dilakukan penggerebekan. Benar saja, selain mengamankan botol miras, petugas juga dikagetkan dengan penjualan 20 botol miras oplosan.”Bahkan yang belum dimasukkan ke botol ada satu setengah galon besar. Ini menjadi perhatian kita. Karena ternyata di Wates juga ada penjualan miras oplosan yang sangat membahayakan keselamatan jiwa masyarakat,” jelasnya.
Duana mengatakan, hasil razia kali ini merupakan yang terbesar dibanding hasil operasi-operasi penertiban sebelumnya. Sebab dalam razia yang dilakukan selama ini, tidak pernah ditemukan miras oplosan. “Keberadaan miras oplosan ini tentu akan kami kembangkan, sang penjual mengaku barang berasal dari Jogja. Maka kami akan bekerjasama dengan Satpol PP Kota Jogja agar menindaklanjuti laporan kami, terkait asal miras oplosan di Wates,” katanya.Duana menambahkan, pelaku penjual miras melanggar Perda nomor 11 Tahun 2008 tentang Larangan dan Pengawasan Minuman Beralkohol. “Akan tetap diproses secara hukum, ancamannya enam bulan penjara atau denda maksimal Rp 50 juta,” terangnya.
Disinggung apakah ada backing dibalik kasus peredaran miras kali ini, Duana menyatakan tidak mengetahui secara persis. Kendati demikian, pihaknya tidak akan menghiraukan atau mengesampingkan kemungkinan itu. “Artinya secara normatif kalau ada penjual minuman beralkohol tanpa izin yang dilarang peme-rintah apalagi oplosan tetap akan ditertibkan dan dikenakan sanki humum sesuai peraturan yang berlaku,” tegasnya.
Menurut Duana, guna meng-antisipasi peredaran miras, pihaknya akan terus melakukan operasi penertiban. Selain itu, juga melakukan sosialisasi kepada warga masyarakat terutama generasi muda, serta pembinaan kepada pelajar di sekolah-sekolah tingkat SLTA.”Miras merupakan salah satu perusak generasi bangsa, sehingga selain operasi juga akan dilakukan pembinaan dan sosialiasi di sekolah-sekolah, khususnya SLTA,” ujarnya.
Sementara itu, penjual miras Henry Nugroho mengakui jika menjual miras itu dilarang. Namun ia berdalih terpaksa menjual miras lantaran kebutuhan ekonomi. “Miras saya dapat dari Jogja, ya kadang diantar atau saya ambil sendiri ke Jogja. Kalau yang membeli, mereka tahu dari mulut ke mulut dan kemudian datang ke sini. Paling laris yang miras oplosan, karena murah,” terang ayah dua anak itu. (tom/ila/ong)