SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
GOSONG: Sejumlah warga mengabadikan bagian rumah Sihono yang disambar petir Selasa petang (10/2). Peristiwa ini juga mengakibatkan kerusakan sejumlah perangkat elektronik.
PAKEM – Akibat tersambar petir saat hujan deras, Selasa petang (10/2), rumah milik Sihono, 38, di Dusun Bendosari, Harjo-binangun, Pakem berlubang pada bagian dinding kamar. Tembok batako bolong selebar sekitar 30 cm dengan panjang 1,5 meter. Petir ini juga menimbulkan dampak aliran listrik statis hingga radius 20 meter. Sedikitnya empat unit televisi milik warga sekitar rumah Sihono juga rusak. Beruntung, saat kejadian tersebut, Sihono dan keluarganya sedang tidak berada di rumah. Sopir bus malam itu mengalami kerugian sekitar Rp 7 juta berupa alat-alat rumah tangga elektronik. “Warga menyebut itu petir celeng, yang bisa menembus dinding,” ungkapnya kemarin (11/2).
Wiji Sumanto, 57, tetangga korban yang juga saksi mata mengaku mendengar geledek disertai jilatan bunga api warna merah hampir bersamaan dengan turunnya hujan. “Seperti pecut, kena tembok lalu keluar api dan asap mengepul,” tuturnya. Saat kejadian, Wiji sedang berdiri di depan rumahnya yang terletak di seberang rumah Sihono. Kejadian itu adalah ke dua kalinya menimpa rumah Sihono. Empat tahun lalu, petir celeng juga menyambar rumah Sihono. Hanya, saat itu, petir menembus dan membakar dinding dapur yang terbuat dari anyaman bambu (gedheg).
Sihono menduga pohon-pohon tinggi di sekitar lahan pekarangan rumahnya menjadi pemicu aliran petir. Satu pohon yang diduga pemicu utama adalah batang melinjo yang dicantoli antena handy talky (HT). Guna mencegah kejadian serupa, pohon setinggi 10 meter itu ditebang. Meskipun pohon tersebut tak mengalami tanda-tanda bekas tersambar petir. “Sambaran petir yang per-tama dulu sebelum ada antena, kok,” katanya.
Empat hari sebelumnya, petir menyambar kandang ternak milik Musirin, 59, di Dusun Trojayan, Harjobinangun, Sabtu (7/2). Akibatnya dua sapi seharga Rp 25 juta tewas seketika. Petir diduga merembet dari pohon kelapa yang berdiri di belakang kandang. Guna menghindari kejadian serupa, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Julisetiono Dwi Wasito mengimbau warga yang memiliki pohon tinggi segera ditebang. Itu bukan hanya untuk antisipasi aliran listrik statis atau sambaran petir, tetapi mencegah rumah roboh akibat tertimpa pohon yang tumbang kena angin kencang. (yog/din/ong)