GUNUNGKIDUL – Dugaan penipuan berkedok penyaluran beasiswa anak sekolah terjadi di sejumah sekolah di Gunungkidul. Modusnya, pelaku mengaku dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengirim email ke sekolah. Dalam email tersebut, pihak sekolah diminta mengirimkan nama siswa berprestasi untuk mendapatkan beasiswa.
Tiap rombongan belajar atau kelas diambil lima siswa yang memiliki nilai rapor terbaik. Dalam email juga disediakan form untuk diisi nama siswa, rangking, nomor rekening, nama orang tua serta nomor telepon.Kejadian tersebut seperti dialami SMPN 2 Patuk. Wali murid berjumlah 35 orang sudah terlanjur mengisi formulir sekaligus mencantumkan nomor rekening. Kecurigaan mulai muncul lantaran setelah dihubungi balik, nomor telepon milik seseorang yang mengaku sebagai pegawai Disdikpora DIJ bernama Ilham Nurjanah tidak bisa dihubungi. Melihat gelagat tidak baik, sekolah berinisiatif meminta 35 wali murid memblokir nomor rekening yang diajukan melalui pihak sekolah.
Kepala Sekolah SMPN 2 Patuk Heri Miswanto mengaku yakin kasus ini penipuan. Sebab setelah dicek, ternyata tidak ada pegawai di lingkungan Disdikpora DIJ bernama Ilham. “Kami langsung kabari semua wali murid dengan adanya kasus ini,” ujarnya.Heri menjelaskan dalam menjalankan aksinya, pelakumenggunakan laman website www.dirjen.dikdas@post.com. Dalam email yang dikirimkan, juga ada keterangan batas waktu penyerahan data maksimal 16 Januari lalu.Sementara itu, Sekretaris Disdikpora Gunungkidul Bahron Rosyid mengaku belum menerima laporan dugaan percobaan penipuan tersebut. Dia berpesan kepada sekolah untuk berhati-hati berkaitan dengan urusan sekolah menyangkut bantuan atau beasiswa.
“Silakan koordinasi lebih dahulu dengan disdikpora, kita akan segera cek lapangan,” katanya.Bahron juga meminta semua sekolah teliti kepada penelepon atau pemberi informasi termasuk alamat email dan lain sebagainya. Menurut dia, itu modus penipuan. Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Jogja, korban percobaan penipuan sudah dialami oleh belasan sekolah. Itu terlihat dari kotak keluar email yang dikirim pelaku kepada alamat sekolah tujuan. “Kalau tidak salah ada empat belas sekolah mendapat email sama dengan kami,” ucap sumber yang namanya tak ingin disebut. (gun/ila/ong)