SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
ORANG DALAM: Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnain menunjukkan barang bukti sabu dan ganja dalam rilis kasus narkoba di Mapolres, kemarin (12/2).
grafis-narkoba
SLEMAN – Wajar saja, jika se-lama ini, narkoba jenis apa pun dengan mudah keluar masuk di lingkungan Lembaga Pemasya-ratan (Lapas) Narkotika Klas IIA Pakem, Sleman, Jogjakarta. Ter-nyata, ada oknum pegawai lapas yang ikut sebagai perantara nar-koba di sana. Oknum pegawai berinisial Sh, 33, itu, berhasil di-bekuk Sat Resnarkoba Polres Sle-man Rabu (11/2).Diduga kuat, oknum yang juga warga Tamanan, Bantul tersebut bertugas sebagai perantara ma-suknya penyalahgunaan nar-koba ke dalam lapas.
Ironisnya, oknum tersebut dikendalikan oleh warga binaan yang baru tiga bulan menghuni Lapas Nar-kotika. Dari penangkapan ini, oknum pegawai lapas itu dike-tahui sudah bekerja di Lapas Narkotika Pakem sejak 2008 silam. Petugas masih mengembang-kan kemungkinan keterlibatan oknum lainnya. Sebab, dari pengakuan sementara, Sh kerap menggunakan hasil transaksi gelapnya itu untuk membeli makanan ke regu jaganya di La-pas Narkotika
“Dari kasus-kasus narkotika yang kami tangani sebelumnya, termasuk apa yang menjadi du-gaan adanya keterlibatan oknum pegawai lapas, sementara ter-bukti dengan diamankannya Sh. Dia terbukti melakukan pengi-riman narkoba jenis sabu dan ganja ke dalam lapas,” kata Ka-polres Sleman AKBP Faried Zul-karnain kemarin (12/2).
Dijelaskan, berbekal pengem-bangan kasus-kasus sebelumnya yang ditangani Sat Resnarkoba Polres Sleman, sejak awal penyelidikan diarahkan ke Sh. Pun caknya Rabu (11/2) kema-rin sekitar pukul enam pagi. Saat itu, Sh tengah melakukan tran-saksi di salah satu toko warala-ba di Dusun Gambiran, Pakem-binangun, Pakem, Sleman, te-patnya pukul 06.30.Kronologisnya, Sh mengambil barang kepada seseorang yang sejauh ini masih diselidiki iden-titasnya. Orang tersebut meru-pakan rekan dari salah satu war ga binaan Lapas Narkotika Pa kem, Fr.
Kepada Sh, Fr mengi-rim pesan singkat agar menemui se seorang di sebuah toko wara-laba untuk mengambil narkoba jenis ganja dan sabu.”Modusnya, Sh itu mendapat pesan dari Fr (warga binaan) untuk mengambil barang di se-buah toko di daerah Pakem. Barang diambil saat Sh hendak berangkat kerja,” tandas Faried.Sepandai-pandai tupai melom-pat, akhirnya terjatuh juga. Ra-bu ke marin Sh tertangkap ta ngan membawa barang bukti nar-koba jenis sabu seberat 15 gram dan ganja seberat 0,5 kg. Barang tersebut sudah dikemas rapi. Saat ditangkap, Sh tak bisa me-nge lak, apalagi melawan.
“Pada saat penangkapan, Sh tak bisa berkutik. Dia langsung dibawa ke Polsek Pakem untuk diinterogasi awal,” ujar kapolres.Dari pengakuan Sh di Polsek Pakem, barang haram itu akan dikirim ke dalam lapas kepada salah satu warga binaan yang tidak lain adalah Fr.Setelah itu, petugas menda-tangi Lapas Narkotika untuk mengembangkan keterangan yang disampaikan Sh. Meskipun Sh mengaku bahwa barang itu akan diserahkan ke Fr, namun petugas tidak mau gegabah. Masih minimnya barang bukti dan kesaksian lain, polisi tidak langsung menetapkan Fr seba-gai tersangka.
Untuk sementara Fr masih sebatas sebagai saksi.”Sementara kami fokus peme-riksaan terhadap Sh dulu. Namun Fr tetap terus kami mintai kete-rangan. Termasuk modus ope-randi yang digunakan, sehingga ia bisa sampai mengendalikan transaksi ini dari dalam lapas,” tuturnya.Setelah dikeler dari Polsek Pakem, lalu ke Lapas Narko-tika, Sh digelandang ke Mapol-res Sleman. Dari pengakuan Sh, dia sudah dua kali mela-kukan transaksi narkoba, yang kesemuanya sesuai instruksi dari warga binaan lapas beri-nisial Fr tersebut. Hingga kemarin, kepolisian masih terus mendalami adanya kemungkinan keterlibatan ok-num pegawai lapas lainnya. Apalagi, diketahui bahwa Sh merupakan orang yang cukup cakap dan familiar dalam satu regu jaga di dalam Lapas Nar-kotika Pakem.”Dia bukan pimpinan regu jaga. Tapi cukup dikenal dekat oleh rekan-rekannya,” sloroh Kasat Resnarkoba Polres Sleman AKP Anggaito Hadi Prabowo.
Lebih jauh Anggaito menam-bahkan, Fr sudah dimintai ke-terangan. Pihaknya juga sudah membuat surat penangkapan dan bon tahanan ke Lapas Nar-kotika. Namun hingga kemarin, interogasi terhadap Fr belum membuahkan hasil. Fr masih bersikukuh bahwa barang itu bukan pesanannya. Saat ini, Fr berada di Bidokkes Polda DIJ untuk menjalani pemeriksaan tes urine.”Pada prinsipnya, kami fokus pemeriksaan dari yang sudah ada dulu. Kemungkinan juga bisa berkembang. Ada enam saksi dari petugas Lapas yang kami mintai keterangan atas kasus ini,” ujarnya. (fid/jko/ong)

Sekali Transaksi Dibayar Rp 1 Juta

TAMPAKNYA dunia narkoba memang selalu menjanjikan se-suatu yang lebih. Khususnya untuk urusan uang. Hal itu pula yang terjadi dalam kasus narkoba yang membelit oknum pegawai Lapas Narkotika Klas IIA Pakem, Sleman, berinisial Sh, 33
Pegawai lapas bergolongan IIA yang baru ditangkap kemarin, mau masuk dalam lingkaran pe-redaran narkoba di dalam Lapas Narkotika Pakem, karena dipa-meri uang yang lumayan gede. Dalam sekali membantu tran-saksi narkoba, dia diberi upah Rp 1 juta.”Saya baru dua kali ikut tran-saksi barang tersebut,” katanya lirih saat rilis kasus ini di Polres Seleman, kemarin.
Awal mulanya masuk dalam lingkaran bisnis narkoba di lapas ini, Sh mengaku karena dide-kati oleh Fr, yang disebutnya sebagai warga binaan Lapas Narkotika sejak tiga bulan terakhir.Pada awalnya, Sh hanya dita-wari untuk menjadi perantara. Karena diiming-imingi duit gede, Sh tak bisa menolak tawa-ran itu. Justru, ia menyanggupi tak sekadar sebagai perantara, namun juga siap membantu transaksi narkoba untuk dikon-sumsi di dalam lapas.
“Upahnya ada, sekali mengantar dapat upah Rp 1 juta. Uang tersebut langsung ditransfer ke rekening,” ungkap Sh lagi.Atas tindakannya tersebut, saat ini Sh masih menjalani peme-riksaan intensif di Sat Resnar-koba Polres Sleman. Atas per-buatannya itu, Sh dijerat pasal 114 ayat 1, pasal 111 ayat 1, dan pasal 112 ayat 1 UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.Terpisah, Kakanwil Kemenkum-ham DIJ Endang Sudirman mengaku telah mendengar in-formasi adanya keterlibatan oknum pegawai Lapas Narko-tika Pakem tersebut.
Meski de-mikian, ia belum bisa mengam-bil tindakan apa-apa, dengan alasan masih dalam penyidikan polisi.Dia menyerahkan secara penuh kepada Polres Sleman untuk menindaklanjuti kasus itu. “Ka-rena masih diperiksa polisi, biarkan dulu, masalah ini ber-jalan sesuai aturan yang ada,” ujarnya melalui sambungan telepon.Pihaknya juga belum bisa me-nentukan sanksi terhadap oknum tersebut. “Ya, untuk sementara yang bersangkutan bisa kami skorsing terlebih dulu. Ke depan, juga akan dilakukan pemeriksa-an kode etik,” lanjutnya.Dengan ditangkapnya Sh, En-dang tidak merasa kebakaran jenggot.
Sebab justru sejak jauh hari, pihaknya sudah menduga perihal keterlibatan oknum di lapas. Dugaan itu selalu meng-ganggu pikirannya, setelah be-berapa kali Polres Sleman ber-hasil membongkar transaksi narkoba yang dikendalikan warga binaan, khususnya di La-pas Narkotika Pakem, Sleman. Namun demikian, diakuinya bahwa untuk mengungkap ke-curigaannya itu tidak mudah. “Adanya dugaan oknum yang bermain, sudah lama saya duga. Contoh kasus bola tenis yang diisi narkotika. Itu bisa saja lewat pengunjung, tapi bisa juga mela-lui oknum lapas,” tegasnya.
Dengan ditangkapnya Sh, di-harapkan bisa membuka jalan untuk pengungkapan kasus nar-koba di Lapas Narkotika Pakem secara keseluruhan, sehingga kelak tak ada lagi kasus narkoba di dalam lapas. “Harapan kami, ini bisa menjadi pintu pengung-kapan kasus narkoba di sana (lapas). Sehingga tak ada lagi kasus yang sama di kemudian hari di lapas,” tandasnya.
Kemenkumham DIJ terbuka baik kepada kepolisian, maupun Badan Narkotika Nasional Pro-vinsi (BNNP) DIJ. “Kami ter-buka, jika memang persoalan ini harus diselesaikan bersama-sama,” ujarnya. Ditegaskan, jika di kemudian hari, diketahui banyak ditemu-kan oknum pegawai lapas yang bermain, pihaknya juga siap bertindak tegas, mulai dari sanksi ringan, sedang, hingga pemberhentian dengan hormat kepada mereka yang terbukti terlibat. Baik itu sebatas kurir, pengguna, atau pun fasilitator narkoba. “Jika terbukti terlibat, hukuman paling berat tentunya diberhen-tikan dengan hormat,” tegas Endang. (fid/jko/ong)