MAGELANG-Salah satu sub-kontraktor pemasangan rolling door di Los Pasar Rejowinangun meminta Wali Kota Magelang turun tangan terhadap per-soalan yang membelitnya. Supardji dari Super Alumu-nium mengaku, sejak awal mendapat pekerjaan tersebut karena kedekatan dengan Sigit Widyo nindito. Kemudian ia dipanggil ke Ruang Kerja Wali Kota Sigit Widyonindito.”Kalau tidak percaya, saya ada saksinya. Yakni Pak Isa Ashari (Mantan Kepala Dinas Pengelo-laan Pasar). Beliau (Isa) diminta membantu saya kalau ada peker-jaan,” kata Supardji kemarin (12/2).Pria yang akrab disapa Pardji mengaku, tidak menyangka pe-kerjaan pembuatan 26 rolling door di Los Pasar Rejowinangun menjadi masalah bagi keluarga dan perusahannya
Karena hingga kini, dari total tagihan sekitar Rp 61 juta, baru dibayar kontraktor utama CV Tri-karya Indah sekitar Rp 20 juta. Sehingga masih tersisa Rp 41 juta.”Saya seperti dikorbankan. Kene nyambut gawe tenanan, tetapi malah diplekotho ngene iki. Makanya, saya minta pem-kot harus ikut bertanggung jawab. Karena soal pasar ya menjadi bagian dari tanggung jawab pemkot,” keluhnya.
Menurut Pardji, wali kota pe-riode ini memiliki tanggung jawab dalam soal pembangunan Pasar Rejowinangun.”Baik atau buruknya wali kota periode ini ya di pasar. Kalau dalam soal pasar sampai jelek, otomatis wali kota ya ikut jelek. Makanya, wali kota harus se-gera turun dan masalah ini tidak menjadi jelek dan berkepan-jangan. Malu kalau sampai ter-dengar hingga gubernur atau pejabat tinggi lainnya,” tegas pria yang pernah menduduki Ketua PAC PDIP Mertoyudan Kabupaten Magelang ini.
sebelumnya, tidak kunjung dibayar bahan dan biaya pema-sangannya, dua subkontraktor mencoba membongkar rolling door yang sudah terpasang di los lantai 2 Pasar Rejowinangun. Upaya pembongkaran dilakukan di los milik Sukirno yang saat ini digunakan menjual televisi seken. Aksi tersebut akhirnya dihalang-halangi beberapa pedagang yang merasa telah melakukan pem-bayaran ke kontraktor utama. Yakni, ke CV Trikarya Indah melalui kredit di bank maupun paguyuban pedagang.Sementara itu, Ibu Nok,50, pedagang DVD di Kios Nomor A481 dan A482 mengaku, diri-nya sudah sering mendengar ada rencana pembongkaran rolling door di kiosnya. Padahal, ia telah membayar kontan khu-sus Kios A481 sebesar Rp 5 juta lebih. Meskipun kios lain-nya, ia mengaku sampai saat ini masih aktif mencicil.”Kios A482 memang ada kesepakatan antara saya dengan paguyuban kalau mau diangsur. Sudah diangsur tiap hari sebesar Rp 10 ribu sejak dua bulan lalu. Sudah dibay-ar kayak gini kok malah mau disegel, tidak adil namanya,” ungkap warga Magersari, Ma-gelang Selatan ini.
Saat ditanya pada siapa mem-bayarnya, Nok mengaku ada pihak Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun Magelang (P3RM) pimpinan Heri Setiawan.”Beberapa waktu lalu, kami juga pernah mau disegel pihak paguyuban karena belum mem-bayar. Tetapi kemudian dengan bantuan kredit dari Bank Mage-lang, akhirnya bisa diselesaikan dan tiap hari saya mencicil Rp 20 ribu tiap hari ke bank. Lha kok sekarang muncul urusan rolling door lagi dengan pihak subkon-traktor yang mengaku belum dibayar biaya pemasangannya. Ini kan aneh. Lha uang saya terus kemana,” katanya sedih.Hingga kini, dua subkontraktor pengadaan rolling, yakni Fajar Adi Nugroho dan Supardji mengaku belum dibayar bahan dan biaya pemasangan rolling door sejumlah Rp 800 juta lebih. Tunggakan sudah terjadi sejak pertengahan 2014.”CV Trikarya Indah dengan Direktur Pak Eko belum mem-bayar full. Kami sempat dicicil antara Juni-Juli. Tetapi dari Agus-tus sampai sekarang tidak ada satu rupiah pun masuk pada kami. Padahal pedagang sudah dibantu kredit pedagang ke bank pasar, mereka juga mengaku sudah menyetorkannya,” keluh Fajar. (dem/hes/ong)