ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
DONGKRAK SEMANGAT: Siswa-siswa SMPN 1 Bantul membubuhkan tanda tangan dan target yang ingin diraih dalam unas mendatang.
BANTUL – Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) bersikap realistis dalam kebijakan penerapan ujian nasional (Unas) online. Meskipun ada dua sekolah yang ditunjuk Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah untuk melaksanakan unas online, pada akhirnya dipastikan seluruh SMP atau sederajat di Bantul tidak ada yang menerapkankannya. Kepala Dinas Dikdas Bantul Totok Sudarto mengatakan, penerapan unas secara online masih sebatas uji coba.
Tidak ada kewajiban bagi sekolah untuk menerapkannya. Toh, mayoritas sekolah juga belum siap melaksanakannya. “Dua sekolah yang ditunjuk juga belum siap. Jadi saya sampaikan saja kalau memang belum mampu,” terang Totok di kantornya, kemarin (12/2).
Dua sekolah ini adalah SMP N 1 Bantul, dan SMP N 1 Piyungan. Totok mengakui pelaksanaan unas online membutuhkan persiapan matang. Selain kesiapan sumber daya manusia (SDM) guru dan murid, pelaksanaan unas online juga terganjal sarana dan prasarana. Dari 113 SMP dan MTs, hampir 30 persen diantaranya belum memiliki ruang lab.
“Jumlah komputer saja belum memadai,” ujarnya.Berbeda dengan SMP dan sederajat, ada empat SMK di Bantul yang dinyatakan siap menerapkan unas online pada tahun ini. Keempat sekolah ini adalah SMK N 1 Bantul, SMK N 3 Kasihan, SMK N 1 Sewon, dan SMK N 2 Sewon. “Untuk SMA tidak ada,” jelas Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal Bantul Masharun Ghazali.Masharun sempat berpesan kepada empat SMK tersebut untuk tak memaksakan diri melaksanakan unas online. Hanya saja, empat sekolah ini menyatakan kesiapannya. “Kami cek di lapangan dan akhirnya menyetujui niat empat sekolah ini,” tandasnya. (zam/din/ong)