FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
JELANG IMLEK: Umat Tionghoa mencuci rupang (peralatan), altar, dan para Sin Ben/Kim Sin atau patung dewa-dewi yang ada di Klenteng Liong Hok Bio Kota Magelang.
MAGELANG-Tahun Baru Imlek 2566/2015 tinggal menghitung hari. Seperti biasanya, menjelang pe-rayaan tersebut, Umat Tionghoa mencuci rupang (peralatan), altar, dan para Sin Ben/Kim Sin atau patung dewa-dewi. Seperti yang dilakukan pihak Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) atau Klenteng Liong Hok Bio Kota Magelang, kemarin (12/2).”Pencucian dengan air kembang agar bersih dan wangi serta selalu terawat,” kata Ketua Yayasan Tri Bhakti Magelang Paul Chandra Wesi Aji.
Dikatakan, kegiatan pencucian biasa dilakukan sepekan menjelang perayaan Imlek. Tahun ini jatuh pada 19 Februari nanti. Proses pen-cucian tidak boleh sembarangan dan harus diperlakukan dengan baik.”Kami mencuci sebanyak 16 Kiem Sin. Di altar utama ada Hok Tek Ceng Sin atau dewa tuan rumah yang dike-nal sebagai dewa penguasa bumi. Lalu di samping kanan dan kiri ada Mak Co Kwan In (dewa belas kasih) dan Mak Co Poo (dewa laut) serta Mak Co Kwan In seribu tangan,” paparnya.Beberapa dewa-dewi yang diber-sihkan, antara lain Hok Tik Tjieng Sin (Dewa Bumi), Kwang Tong (Dewa Keadilan), Thian Sian Sing Bo (Dewa Penguasa Air), Kwan Seng Tee (Dewa Perang), Thian Siang Tee (Dewa Pembasmi Ilmu hitam), dan lainnya
Sebelum melakukan pencuci-an, terlebih dahulu dilaksanakan sembahyang memohon pada dewa agar kegiatan bersih-ber-sih ini berjalan lancar. Dilanjut-kan Sembahyang Punggah atau Toa Pekong Naik.”Kami mengantar para dewa ini ke Tuhan Yang Maha Esa (Shang Tee) dengan sembahyang. Para dewa ini memberikan laporan atau rapor atas semua amal per-buatan umat manusia di dunia selama satu tahun ini,” paparnya.
Berbeda dari tahun lalu, pelaks-anaan Imlek tahun ini di bawah ingatan peristiwa kebakaran hebat yang melanda klenteng berusia lebih dari 150 tahun ini. Kejadian memilukan itu terjadi pada Rabu, 16 Juli 2014 dini hari, beberapa jam setelah dila-kukan sembahyang.””Banyak sekali patung dan peralatan sembahyang yang terbakar. Yang paling sedih teru-tama bangunan klenteng habis terbakar. Padahal ini merupakan bangunan yang sangat berseja-rah. Sekarang sudah rata dengan tanah. Patung-patung yang ter-bakar, sudah kami ganti dengan yang baru,” jelasnya.
Perayaan Imlek tahun ini, lanjut Chandra, merupakan tahun ke-rukunan yang ditandai Shio kam-bing. Kambing yang sifatnya suka berkelompok atau berkumpul patut dicontoh umat manusia, bahwa mereka rukun antarsesama.”Lebih luas lagi umat di seluruh dunia bisa bersatu dan rukun satu sama lain. Lepas semua at-ribut kepartaian, suku, agama, ras, dan warna kulit, kita bersama mendamaikan bumi ini. Kalau ribut terus, kapan mau majunya,” katanya. (dem/hes/ong)