SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
WISATA KELUARGA: Wahana edukasi beroperasi mulai pukul 14.00-22.00 dan akhir pekan mulai pukul 10.00-22.00.
SLEMAN- Kabupaten Sleman kini punya destinasi wisata baru yang mengusung tema keluarga, pendidikan, budaya, sekaligus hiburan. Kemarin (16/2), wahana yang dibangun di atas lahan seluas 9 hektare berlabel Sindu Kusuma Edupark (SKE) diresmikan Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemda DIJ Didik Purwadi, mewakili gubernur.Didik menaruh harapan besar akan keberadaan SKE ini. Bukan saja sebagai penambah daya gedor sector pariwisata. Lebih dari itu, mendukung usaha mikro kecil menengah (UMKM). Khususnya produk asal Sleman. “Semoga SKE bisa menjadi tempat pemasaran produk UMKM,” harapnya.
Dengan begitu, SKE tidak hanya akan mendongkrak roda prekonomian masyarakat di sekitar, tetapi meluas hingga pelosok kabupaten dan merambah seluruh wilayah DIJ. Dampak positif keberadaan destinasi di Desa Sinduadi, Mlati itu tidak hanya pada pelaku usaha agen pariwisata. Okupansi hotel, restoran, dan destinasi wisata lain bakal merasakan efek dominonya.Didik optimistis SKE bakal menjadi destinasi unggulan yang mampu mem-bangkitkan sadar wisata masyarakat. Itu seiring dengan upaya Pemprov DIJ dalam mewujudkan destinasi wisata internasional yang berbudaya melalui pengembangan pariwisata pembangunan.
Di sisi lain, Didik berpesan, setiap pengelola destinasi wisata harus ber-komitmen tinggi untuk memberi pelayanan prima bagi konsumen. Selain itu, menjaga pelestarian lingkungan dan pengembangan potensi harus dilakukan secara kom-prehensif. “Harus golong gilig semua stakeholder untuk menyukseskan wahana baru,” ujarnya.
Hal itu sejalan dengan pemikiran Direktur Pengembangan KusumaAgrowisata Group Gideon A Satrio. Gideon menyatakan sedang menjajakipotensi produk unggulan Sleman, yakni salak pondoh. Dia berencana melakukan riset pada buah yang menjadi ikon Sleman. Bukan tak mungkin,salak akan diolah menjadi minuman kemasan. Seperti produk minuman khasapel Malang, yang diproduksi Kusuma Agrowisata Group. “Ini jadi pemikiran kami ke depan,” ujarnya.
General Manager SKE Didik Rinto Prihadi menambahkan, dalamperjalanannya, wahana hiburan keluarga tersebut difokuskan untuk keperluan edukasi dan budaya. Dia menargetkan, setiap tahun minimalada satu wahana baru. Kerjasama dengan lembaga pendidikan menjadi salah satu sasaran. “Tahun ini sasaran kami edukasi dengan wahana cerdas dan kreatif,” ungkapnya.Salah satu wahana yang masuk program adalah sarana outbound. Selain itu, manajemen SKE akan menjalin kerjasama dengan seniman tulis, gerak, maupun kriya. “Kami ingin (pengunjung) anak-anak bisa belajar membatik, membuat gerabah, bahkan membuat adonan kue,” lanjut Rinto.
Rinto berharap SKE bakal menjadi destinasi wisata malam positif bagi keluarga. Rencananya, SKE beroperasi mulai pukul 14.00 – 22.00. Sedangkan saat akhir pekan dibuka pada 10.00-22.00. Saat itu, ruang waktu antara pukul 10.00-15.00 difokuskan untuk program edukasi.Bupati Sleman Sri Purnomo (SP) menyambut positif kehadiran SKE. Orang nomor satu di Sleman itu memandang wahana hiburan baru ini tak sekedar sebagai pendongkrak potensi wisata. Lebih dari itu turut berperandalam upaya meningkatkan peluang kerja. Karena itulah pemkab selalu intensif dalam kegiatan promosi dan pengembangan destinasi wisata.SP mengatakan, tingkat kunjungan wisata pada 2014 meningkat 5,03 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dengan jumlah wisatawan sebesar 3,79 juta orang. “SKE memperkaya destinasi wisata dan mendukung kemajuan pariwisata daerah,” katanya. SP mengingatkan agar SKE tidak sekadar sebagai wahana wisata keluarga. Tapi mampu menghadirkan sarana wisata dengan konsep edukasi yang mencerminkan budaya Jogjakarta. Terlebih, SKE difokuskan untuk wisata malam. SP berharap, wahana tersebut bisa menjadi destinasi alternatif penarik minat masyarakat, khususnya para pemuda. Sekaligus menjauhkan anak-anak muda dari aksi negatif pada malam hari.Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman AA Ayu Laksmidewi juga menaruh harapan bagi SKE. Agar bisa membuka peluang pasar ekonomi kreatif. Bukan sekadar menampung produk UMKM. Tapi juga memasarkannya. (yog/din/ong)