FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
BELUM SELESAI: Sejumlah rolling door dan folding gate yang sudah selesai terpasang, ternyata dalam pembayarannya masih bermasalah. Sampai saat ini belum ada kejelasan, karena paguyuban pedagang dan kontraktor utama belum ada kata sepakat.
MAGELANG – Aparat hukum diminta turun tangan menyelidiki dugaan monopoli dan korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) dalam pembuatan sekat antarlos dengan pintu rolling door maupun folding gate. Karena, Pemkot Magelang bisa menganggarkan pembangunan sekat tersebut melalui anggaran pendapatan belanja daerah (APBD). Penegasan itu dikatakan Ketua DPC PKPI Kota Magelang Sriyanto kemarin (16/2).
Menurut Sriyanto, ada selisih Rp 7 miliar lebih yang akhirnya masuk ke Silpa dari penawaran PT Armada Hada Graha (AHG) sebesar Rp 56,160 miliar dengan pagu Rp 63,3 milyar, dalam pembangunan los Pasar Rejowinangun pasca-terbakar 26 Juni 2008.”Kalau tidak ada permainan, harusnya dari selisih penawaran dengan pagu pembangunan los Pasar Rejowinagun daripada masuk Silpa, sebenarnya bisa di-anggarkan lagi untuk pembuatan sekat,” tegas Sriyanto.Pria yang periode lalu duduk sebagai anggota Komisi C DPRD Kota Magelang ini menilai, saat itu dewan bakal tidak keberatan kalau selisih penawaran dengan pagu pembangu-nan los pasar dengan sistem multiyear tersebut digunakan lagi untuk pembautan sekat.”Saya kira, dewan saat itu bakal tidak keberatan
Wong dari awal untuk pem-bangunan los dianggarkan Rp 63,3 miliar. Daripada akhirnya pedagang dibebani biaya pem-bangunan sekat yang akhirnya ruwet dan bermasalah seperti sekarang ini,” usulnya.Sriyanto merasa aneh dengan penunjukkan CV Trikarya Indah sebagai pihak ketiga dalam pembangunan sekat oleh pe-dagang. Baik melalui Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun Magelang (P3RM) dengan Ketua Heri Setiawan maupun Per-wakilan Pedagang Rejowinangun Magelang (PPRM) yang dikoor-dinatori Nasirudin Hadi.”Ini kan aneh. Saat pasar sudah selesai dibangun, pedagang be-lum boleh masuk karena harus membangun sekat antarlos dulu. Saat itu, pemkot meminta agar seragam dan tidak boleh membangun sendiri. Ujung-ujungnya, baik pedagang yang bergabung di P3RM maupun PPRM harus pesan melalui CV Trikarya. Sekarang, akhirnya bermasalah karena pengerjannya disubkontrakkan,” tegasnya.
Kejanggalan lain yang dirasakan adalah menyangkut harga. Karena pedagang dengan membangun sendiri hanya butuh Rp 2juta – Rp 3 juta. Namun, melalui CV Trikarya dikenai biaya pem buatan sebesar Rp 5 juta untuk folding gate dan Rp 5,5 juta untuk rolling door.”Informasi dari subkontraktor, tagihan per los hanya Rp 2,7 juta. Diduga pemaksaan kepada pedagang untuk tidak boleh membangun sendiri sekat antarlos dan harus melalui CV Trikarya adalah bagian dari monopoli dan KKN. Dengan adanya sekat dengan rolling door dan folding gate, akhirnya juga tidak seragam. Polisi dan kejaksaan harus segera turun tangan menyidik masalah ini,” pinta Sriyanto.
Kalangan pedagang mem-benarkan adanya kewajiban mereka membuat sekat sebelum masuk ke pasar yang selesai di-bangun dari pasar penampung-an. Menariknya, mereka tidak boleh membangun sendiri sekat tersebut. Para pedagang di-wajibkan memesan sekat me lalui paguyuban atau perwakilan pe-dagang setempat.”Tahun lalu, pengadaan rolling door dan folding gate yang jadi sekat ini diharuskan biar seragam. Kalau pengadaannya harus dari paguyuban,” ungkap Bikwanto, 47, salah satu pedagang pakaian.Pedagang los nomor 700 ini juga mengakui, pengadaan rollingdoor yang melalui pagu-yuban dilakukan untuk mem-buat kesan seragam di setiap los pedagang. Ia menegaskan, se-andainya melakukan dengan swadaya, ia yakin akan memenuhi standardisasi dan keseragaman yang ditentukan pemerintah.
“Dulu ada arahan harus lewat Pak Nasir (Nasirudin Hadi) untuk yang folding gate dan Pak Heri (Setiawan) untuk yang rolling door. Katanya, biar seragam. Kalau saya yakin, para pedagang sebenarnya buat sendiri dengan jenis dan bahan yang sama, tidak begitu sulit,” imbuhnya.Hal senada juga diutarakan, Ibu Nok, 50, pedagang DVD di Kios Nomor A481 dan A482. Ia mengaku, diwajibkan mem-bangun sekat melalui paguyuban. “Kalau boleh membangun sen-diri, mungkin lebih murah dan saya tidak perlu kredit bank,” ungkapnya.
Seperti diketahui, AHG di-nyatakan sebagai pemenang lelang pembangunan los Pasar Rejowinangun dengan pena waran Rp 56,160 miliar dari harga per-kiraan sendiri (HPS) sebesar Rp 58,5 miliar dan pagu Rp 63,3 miliar.Selisih penawaran tersebut, akhirnya masuk Silpa dan untuk pembangunan sekat antarlos, biayanya dibebankan pada pe-dagang. Ternyata, pembangunan sekat dengan pintu rolling door bermasalah. Pihak kontraktor utama di-anggap belum membayar sub-kontraktor hingga Rp 800 juta lebih. Menariknya, Supardji dari Super Alumunium menga-ku mendapat pekerjaan sekat antarlos di Pasar Rejowinangun, karena kedekatan dengan Sigit Widyonindito.ia sempat dipang-gil ke ruang kerja Wali Kota Magelang. (dem/hes/ong)