FOTO-FOTO: ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
PRIHATIN: Kasat Reskrim polres Bantul AKP Kasim Akbar Bantilan menunjukkan botol miras yang dipakai untuk menyiksa korban (foto kiri). Gambar tatto Hello Kity yang jadi sumber masalah.
BANTUL – Motif kasus penye-kapan dan penyiksaan terhadap La, 18, siswi di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Jogja akhirnya terjawab. Ternyata, kesamaan tatto di lengan kanan warga Pedukuhan Kadipolo, Sendangtirto, Berbah, Sleman ini dengan salah satu pelaku berinisial Rth sebagai penyebab-nya. “Persaingan tatto Hello Kitty,” terang Kapolres Bantul AKBP Surawan, kemarin (16/2).
Kesamaan tatto ini diketahui Rth setelah La memasang display picture (DP) BlackBerry Messenger (BBM). Foto DP itu memuat dua gambar yang membandingkan tatto milik La dan Rth. Selain itu, La juga menulis sebuah personal message, “apik sing endi?”. Nah, karena merasa tersaingi inilah yang menyebabkan Rth dengan mengajak rekan-rekannya nekat menyekap dan menyiksa La selama sehari semalam di indekos yang terletak di Pedukuhan Saman, Bangunharjo, Sewon.
Menurutnya, antara La dengan para pelaku berteman. Tidak hanya di aplikasi chating BBM, mereka juga berteman dalam dunia nyata. Bahkan, berdasar hasil pemeriksaan sementara terhadap dua tersangka, La dengan para pelaku yang mayoritas perempuan ini ber-sekolah di tempat yang sama. “Belum teridentifikasi semua. Tetapi dulunya mungkin mereka sekolah di SMA yang sama,” ungkapnya.
Surawan menerangkan, sejumlah pelaku sudah ada yang tidak bersekolah lagi.Bahkan, statusnya janda. Yaitu Rth. Namun demikian, ada juga dua pelaku yang masih di bawah umur. “Penanganan nanti kami sesuaikan dengan undang-undang perlindungan anak,” tambahnya.Hasil pengembangan terakhir, total pelaku sebanyak sembilan orang. Mereka adalah Rth, 21, Nk, 16, Rs, 16, Ic, 19, Pv, 19, Pd, 18, Wr, 19, Cd, dan Rz. Dua di antaranya telah berhasil diamankan. Yaitu Nk, dan Ic. Artinya, masih ada tujuh pelaku lagi yang masih buron. “Akan kami terjunkan 10 personel untuk memburu mereka yang kemung-kinan masih berada di wilayah Jogja,” tambah Kasat Reskrim polres Bantul AKP Kasim Akbar Bantilan.
Para pelaku penyekapan dan penyiksaan ini terancam pasal 170 KUHP dan 333 subsider pasal 351 KUHP dengan ancaman delapan tahun penjara. Jika ancaman hukuman ini diterapkan secara maksimal diharapkan akan memberikan efek jera pada para pelaku. (zam/din/ong)

Psikis Para Pelaku Mengarah ke Gangguan Jiwa

PSIKOLOG sekaligus Pemerhati Anak dan Remaja Eny Esyta Kolopaking menilai penyekapan dan penyiksaan yang menimpa La merupakan tindakan yang tak manusiawi. Bahkan, ada indikasi psikis para pelaku agak terganggu. “Sudah ada tanda-tanda menuju ke arah sana (gangguan jiwa, Red),” terang Eny, kemarin (16/2).Menurutnya, kenekatan para pelaku ini karena faktor ling-kungan di sekitar mereka. Ego salah satu pelaku Rth yang tersaingi tattonya mendapatkan dukungan penuh dari teman-temannya. Akibatnya, mereka pun bersama-sama berani menyekap dan menyiksa La. “Karena dia merasa terlindungi oleh teman-temannya,” ujarnya.
Selain itu, ada faktor lain yang menyebabkan para pelaku ini gelap mata. Di antaranya para pelaku ini memang kurang mendapatkan perhatian dari orangtua. Sehingga baik di dalam maupun di luar sekolah mereka bergaul dan berada dengan lingkungan yang salah. “Perilaku negatif ini kemudian menjadi kebiasaan,” ungkapnya.
Dia berpendapat lepasnya kontrol emosi para pelaku ini karena batang otak mereka tak mampu mengendalikan sikap mereka. Namun demikian, para pelaku ini diyakini akan tersadar dan merasakan efek gangguan kejiwaan atas perbuatan mereka. “Sakit jiwanya adalah efek dari perlakuannya tadi,” paparnya.Lalu, apa para pelaku ini dapat disembuhkan? Eny menjelaskan, para pelaku dapat disembuhkan kejiwaannya. Hanya saja, prosesnya memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar lima hingga enam tahunan. “Karena usia remaja masa pembentukan karakter,” ungkapnya.
Meskipun begitu, lanjutnya, ada sejumlah faktor pendukung lainnya atas kesembuhan jiwa para pelaku ini. Selain keinginan ingin menjadi pribadi baik, ling-kungan di sekitar juga harus men-dukungnya. “Lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat harus bersinergi agar ada kontroling,” tambahnya. (zam/din/ong)