DWI AGUS/RADAR JOGJA
GAMELAN BEN SURUP: Boyongan Komunitas Gayam 16 ke Mantrigawen Lor ditandai dengan open house dan syukuran di tempat barunya. Selain potong tumpeng, para penggawa Gayam 16 juga unjuk kebolehan. Sejumlah seniman pun hadir dalam acara ini, termasuk seniman jalanan Sujud Kendang.
JOGJA – Komunitas Gayam 16 semakin memantabkan langkah mereka dalam dunia seni di Jogjakarta. Komunitas yang memiliki konsentrasi pada alat musik gamelan ini memiliki markas baru. Beralamatkan di Mantrigawen Lor No 9 Jogjakarta, komunitas ini terlihat semakin terbuka.Pengurus Gayam 16 Ishari Sahida mengaku, perpindahan ini memiliki makna penting. Tidak hanya sekadar boyongan dari kantor lamanya dari Bausasran ke Mantrigawen.
Terlepas dari tempat, perpindahan ini mampu mendekatkan Gayam 16 dengan publik luas.”Dari segi tempat lebih representatif dan sangat mendukung untuk berkarya. Di tempat ini kita semakin terbuka untuk melakukan diskusi. Ada tempat untuk workshop dan melakukan pertukaran ide,” kata pria yang akrab disapa Ari Wulu ini (16/2).
Perpindahan ini pun ditandai dengan open house dan syukuran di tempat barunya. Selain potong tumpeng, para penggawa Gayam 16 juga unjuk kebolehan. Senin malam itu (16/2) beberapa seniman turut hadir dalam peresmian tempat baru ini.Bahkan seniman jalanan Sujud Kendang juga terlihat di antara pengunjung. Pria tua ini juga turut menyumbang kebolehannya untuk tampil. Celotehan khasnya pun mampu menghibur suasana open house malam itu.”Semoga Gayam 16 dapat terus menjaga ritme yang sudah ada. Gamelan itu penting termasuk bentuk perkembangan yang dilakukan kelompok ini,” katanya.
Ari menambahkan meski telah berpindah sebanyak dua kali, Gayam 16 tidaklah berubah dari segi. Ini karena semangat bermusik khususnya gamelan tidak meng-alami penurunan. Namun seiring waktu justru mengalami terus perkembangan.Di tempat baru ini dirinya berharap Gayam 16 semakin terbuka terhadap publik. Sehingga proses pertukaran ide dapat berjalan dengan baik. Persiapan matang akan Gayam 16 ke depannya pun telah dilakukan. Di antaranya memantabkan ruang belajar dan juga memorabilia.Ruang belajar ini terletak di halaman sisi barat dengan seperangkat gamelan. Melalui program gamelan ben surup berharap masyarakat semakin tertarik belajar gamelan. Program ini dilakukan setiap Jumat malam dan terbuka untuk umum.”Mengajak belajar bersama baik itu dari nol hingga yang belajar aransemen. Ada juga ruang memorabilia untuk mengakses sejarah Gayam 16. Juga men-dengarkan karya-karya dari almarhum Sapto Raharjo,” ujarnya.
Di balik perpindahan ini masih ada sebuah mimpi besar yang belum di-wujudkan Gayam 16. Mendirikan sekolah gamelan menjadi harapan besar komunitas ini ke depannya. Tertariknya untuk mendirikan sekolah, karena kesadaran akan pentingnya kekayaan seni budaya.Gamelan, lanjutnya, tidak hanya sekadar alat musik tradisi. Dalam gamelan ada makna-makna baik dari cara memainkan maupun bentuknya. Sehingga Ari bersama Gayam 16 berharap impian besar ini akan dapat terwujud di tahun-tahun berikutnya.”Sebenarnya sudah ada sejak tahun 2010 impian ini. Tapi karena terkendala tempat jadi urung mewujudkan. Tempat baru ini juga harapan baru semoga sekolah gamelan bisa segera terealisasi. Meski sudah dicicil melalui program gamelan ben surup,” harapnya. (dwi/laz/ong)