JOGJA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Jogjakarta mendo-rong pengembangan sektor keuangan, supaya pembiayaan tidak lagi didominasi oleh per-bankan. OJK berharap pembia-yaan bisa datang dari sektor lain seperti pasar modal.Kepala OJK Jogja Dani Surya Sinaga mengatakan, pihaknya mendorong agar perusahaan-perusahaan mendapatkan dananya dari pasar modal. Di DIJ, pembiayaan dari pasar modal masih sangat kecil ka-rena karakter usaha di DIJ be-rada dikelas usaha kecil dan menengah (UKM).”Kami mendorong perusa-haan besar yang ada di DIJ untuk melakukan listing di pasar mo-dal. Untuk jumlah pastinya yang melakukannya, kami masih mendata,” katanya kepada wartawan sebelum dibuka acara Pertemuan Tahunan Pelaku In-dustri Jasa Keuangan 2015 dan Kick Off OJK Mendengar di East-parc Hotel Jogja, Selasa (17/2).
Dia menjelaskan, untuk peri-zinan dan melakukan pendaf-taran agar mendapatkan dana dari pasar modal,masih dilakukan di Jakarta. Namun, OJK akan terus melakukan sosialisasi agar perusahaan di DIJ mulai bergerak mencari modal di pasar modal. Termasuk menyosialisasikan pengurusan perizinan tersebut.Dani menjelaskan, untuk peng-embangan sektor keuangan, pasar modal harus lebih didorong untuk optimal terutama dalam pembangunan infrastruktur. Sebab menurutnya,ekspansi usaha membutuhkan penda-naan yang besar dan bersifat jangka panjang.”Kami menginginkan agar jumlah perusahaan yang me-manfaatkan pendanaan melalui pasar modal lebih besar,” jelasnya.
Terkait dengan kinerja keu-angan, dalam laporannya OJK DIJ optimistis sektor jasa keuangan DIJ tetap solid. Data year on year (yoy) DIJ pada posisi Desember 2014 menjelaskan adanya peningkatan total aset sebesar 13,67 persen menjadi Rp 53,675 miliar. Sedangkan untuk peningkatan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 12,12 per-sen menjadi Rp 44,652 miliar serta penyaluran kredit yang diberikan 16,32 persen menjadi Rp 29,746 miliar.Sementara di sektor BPR, Dani menyebut juga mengalami peningkatan di mana total aset BPR DIJ sebesar Rp 4,867 miliar. Sedangkan total DPK naik se-besar 15,17 persen atau Rp 3, 487 miliar dan penyaluran kre-dit menjadi Rp 3,601 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 18,40 persen.”NPL (Non Performing Loan) juga masih positif, di mana un-tuk bank umum tercatat 2,11 persen dan BPR sebesar 4,61 persen,” terangnya
Sementara itu, Pusat Infor-masi Pasar Modal (PIPM) DIJ juga mendorong pengusaha terutama di sektor usaha kecil dan menengah (UKM) dapat memanfaatkan pasar modal sebagai salah satu sektor untuk pembiayaan usaha. Sehingga nantinya, para pelaku UKM tidak lagi bergantung pada kredit perbankan.”Di sisi investasi kami punya edukasi untuk ke arah tersebut. Kami berusaha mendorong UKM bisa berkembang menjadi peru-sahaan sehingga dapat masuk ke pasar global melalui IPO (initial public offering),” kata Kepala PIPM DIJ Irfan Noor Riza.Menurut Irfan, animo pelaku usaha untuk masuk ke pasar modal sudah banyak.
Telah ada sejumlah pengusaha yang me-nanyakan bagaimana untuk masuk IPO. Sebab menurutnya, sejumlah UKM di Jogjakarta sudah siap berkembang men-jadi perusahaan persero.Dia mengatakan, pertumbuhan pelaku pasar modal di DIJ sen-diri jumlahnya cukup meng-gembirakan. Dari tahun 2009 yang hanya berjumlah 900 orang sampai dengan akhir September tahun ini jumlahnya meningkat tajam menjadi 8.000-an pelaku usaha pasar modal.Meski cukup pesat perkem-bangannya, menurutnya, jumlah tersebut belum sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan pertumbuhan pelaku pasar modal di negara-negara maju, sedikitnya terdapat sepuluh persen pelaku pasar modal dari jumlah pen-duduk. “Kami berharap masya-rakat di DIJ yang terpenting melek dulu soal pasar modal,” jelasnya. (bhn/ila/ong)