AHMAD RIYADI/RADAR JOGJA
SIDANG PERDANA: Terdakwa Wahyono Haryadi (kiri) saat duduk di kursi pesakitan mendengarkan dakwaan JPU di Pengadilan Tindak Korupsi (Tipikor) Jogja kemarin (17/2).
JOGJA – Sebagaimana yang dijad-walkan, kasus dugaan korupsi dana hibah PBVSI Kota Jogja mulai disi-dangkan di Pengadilan Tindak Ko-rupsi (Tipikor) Jogja kemarin (17/2). Dalam sidang perdana ini, tabir du-gaan korupsi tampak gamblang. Jaksa Penuntut Umum (JPU) De-liana SH menerangkan, sesuai dengan Nota Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) pada 2012, KONI Jogja mendapatkan hibah dari Pemkot Jogja sebesar Rp 9,9 milar.
Dari jumlah itu, PBVSI Jogja mendapatkan alokasi dana hibah sebesar Rp 999 juta. Setelah dana hibah cair, klub bola voli Yuso ikut kecipratan sebesar Rp 354 Juta. Padahal, sesuai Pasal 1 UU Nomor 3 Tahun 2005, klub bola voli Yuso merupakan klub profesional yang biasa mengikuti berbagai pertan-dingan di tanah air. Sebab, klub Yuso sering mendapatkan pendanaan yang berasal dari sponsor, dan hasil pen-jualan tiket. Terdakwa Wahyono Ha-ryadi yang menjabat sebagai ketua harian PBVSI, dinilai sengaja meng-alihkan dana hibah tersebut. Se-hingga ia dinilai orang yang paling bertanggung jawab terhadap pem-berian dana hibah ke klub Yuso.
“Perbuatan terdakwa mengalihkan dana hibah PBVSI Kota Jogja untuk PBV Yuso, bertentangan dengan Pe-raturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan So-sial,” kata Deliana saat membacakan dakwaan di hadapan majelis hakim yang dipimpin Sri Mumpuni kemarin.
Selain mengalir ke klub Yuso, seba-gian dana hibah PBVSI Rp 999 juta mengalir ke klub sepak bola profe-sional PSIM. Kala itu, pengalihan dana hibah PBVSI ke PSIM sebesar Rp 250 juta. Hanya, pengalihan itu tidak dilakukan Haryadi, melainkan Ketua Harian KONI Jogja Iriantoko Cahyo Dumadi. Kala itu, PSIM dike-tuai Haryadi Suyuti yang tak lain adalah Wali Kota Jogja.”Atas perbuatan terdakwa dan sak-si Iriantoko Cahyo Dumadi, menim-bulkan kerugian negara sebesar Rp 537,490.000,” tandas Deliana
.Menanggapi dakwan jaksa, Pena-sihat Hukum Wahyono Haryadi, Diana Eko Widyastuti SH mengatakan, jaksa keliru bila menganggap klien-nya merupakan orang yang paling bertanggung jawab dalam pengelo-laan dana hibah. Sebagai ketua ha-rian, kliennya lebih banyak berada di lapangan mengurusi pemain ke-tika latihan dan tanding. Sedangkan urusan keuangan dan dana hibah, lebih banyak diurus oleh Ketua Umum PBVSI Henry Kuncoro Yekti.”Klien kami itu lebih banyak di la-pangan, tidak tahu soal uang. Kami akan ajukan nota keberatan pada sidang mendatang,” kata Diana. (mar/jko/ong)