FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
DIANGGAP SELESAI:Subkontraktor sudah memperbaiki rolling door yang pernah dibongkarnya. Kini, pedagang sudah bisa menutup kiosnya lagi
MAGELANG – Kalangan pedagang Pasar Rejowinangun menolak provokasi dari Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun Magelang (P3RM) Heri Setiawan. Saat itu, Heri mendorong mereka untuk melaporkan soal pembongkaran Rolling door yang di-lakukan subkontraktor ke polisi. Saat ini, mereka hanya menginginkan adanya ketenangan dalam mencari nafkah. Para pedagang juga tidak ingin persoalan pembongkaran Rolling door yang awalnya hanya merupakan wujud emosi subkon-traktor karena tidak dibayar setelah me-nyelesaikan pekerjaannya, melebar ke persoalan lain.”Saya menganggap persoalan pembong-karan Rolling door oleh subkontraktor pada Rabu lalu (11/2) sudah selesai. Saya tidak mau lapor ke polisi
Itu hanya akan menambah masalah dan memperkeruh keadaan. Kami ingin berjualan dengan tenang,” ungkap Sukirno, pemilik Kios A 498 kemarin (17/2).Sukirno yang salah satu bagian Rolling door-nya sempat dilepas mengaku, pihak subkontraktor langsung memperbaiki pada hari itu juga. Karenanya, ia menganggap tidak ada masalah lagi.”Saya menganggap sudah tidak ada lagi masalah dengan sub-kontraktor. Saya paham situasi subkontraktor saat itu sedang emosional. Karena tagihannya sudah hampir satu tahun belum dibayar. Saya tetap ingin netral,” imbuhnya.
Hal senada juga dikemukakan Dewi Widihartanti yang losnya berbagi dengan Sukirno di Nomor 498.”Rolling door yang masuk bagian saya belum dibongkar. Jadi ngapain saya harus lapor polisi,” ujar perempuan yang berjualan makanan dan minuman tersebut.Seperti diketahui, tidak kunjung dibayar bahan dan biaya pe-masangannya, dua subkontrak-tor, yaitu Fajar Adi Nugroho SH dan Supardji mencoba mem-bongkar Rolling door yang kini terpasang di los lantai 2 Pasar Rejowinangun, Rabu lalu (11/2). Upaya pembongkaran dilakukan di los milik Sukirno. Aksi tersebut akhirnya dihalang-halangi beberapa pedagang yang merasa telah melakukan pem-bayaran ke kontraktor utama, CV Trikarya Indah melalui kredit di bank maupun paguyuban pedagang yang diketuai Heri Setiawan.
Saat dipertemukan antara pe-dagang, subkontraktor di Kantor UPTD Pasar Rejowinangun, Heri Setiawan mengaku sudah menyelesaikan urusan pem-bayaran dengan pihak kontrak-tor utama. Sehingga ketika ada masalah tersebut, pihak sub-kontraktor agar berurusan dengan kontraktor utama. Pada kesempatan tersebut, ia memprovokasi pedagang agar melaporkan pembongkaran tersebut ke pihak berwajib. Karena perbuatan tersebut dianggap telah melakukan perusakan, perbuatan tidak menyenangkan, dan meresahkan.”Mari pedagang laporkan saja kasus ini dengan tuduhan pe-rusakan. Saya itu sudah usaha banyak dan tidak ada satu peser pun uang yang masuk ke saya. Sampai sekarang, kalau ada rolling-rolling yang rusak saja saya yang nanggung. Itu dari pribadi saya,” tegas Heri.
Sementara, versi CV Trikarya Indah, belum terbayarnya pemasangan Rolling door dan sekat antarlos di Pasar Rejo-winangun karena administrasi yang amburadul. Di mana, pihak P3RM saat melakukan order hanya berbentuk kertas oret-oretan, tidak seperti pihak Per-wakilan Pedagang Rejowinangun Magelang (PPRM) yang dikoor-dinatori Nasirudin Hadi. Me lalui PPRM, mereka memberikan surat perintah kerja (SPK). Dampak lebih lanjutnya, pem-bayaran dari P3RM ke CV Tri-karya akhirnya juga bermasalah.”Bohong kalau Heri (Setiawan) ngomong sudah lunas dengan kita (CV Trikarya). Masih ada yang belum dibayar. Jumlahnya bisa mencapai sekitar Rp 1,1 milyar lebih,” ungkap Direktur CV Tri-karya Indah, Eko Hadi Pranowo.
Soal amburadulnya adminis-trasi dan pembukuan pemesanan paguyuban pedagang ke pihak ketiga dibenarkan Sekretaris P3RM Slamet Widodo, yang memilih mundur pada akhir Februari 2015. Padahal, duet Heri-Slamet termasuk cukup vokal dalam pembelaan kepen-tingan pedagang pasca-ter-bakarnya Pasar Rejowinangun pada 28 Juni 2008.”Saat itu, kami mengelola uang hampir Rp 1,5 miliar. Tapi administrasi maupun pembu-kuannya tidak jelas dan ambu-radul. Daripada timbul masalah di kemudian hari dan saya harus ikut bertanggung jawab, sejak Februari lalu, saya memilih mun-dur dari P3RM,” tegas Slamet.Slamet mengaku, sudah mun-dur sejak lama. Karenanya, soal proses pemesanan maupun pembayaran yang menjadi ma-salah akhir-akhir ini, ia me-nyatakan tidak tahu. “Saya tidak tahu,” tegasnya. (dem/hes/ong)